RADARINDONESIANEWS.COM, BOGOR — Persoalan LGBT menjadi salah satu topik yang dibahas dalam kajian remaja Smart with Islam yang digelar di Cafe Kebunku Rasa Bobo, Desa Bojongsari, Bogor, Ahad (6/9/2026).
Kajian tersebut diikuti para pelajar tingkat SMP, SMA, dan SMK. Sejumlah guru turut mendampingi peserta. Mereka tampak antusias mengikuti pembahasan yang mengangkat isu LGBT dan pengaruh perkembangan media digital terhadap kehidupan remaja.
Dua pemateri, Nur Illah, guru bahasa Inggris, dan Kak Ria, pemerhati remaja, menyampaikan materi secara bergantian. Keduanya menyoroti tantangan yang dihadapi remaja ketika berbagai informasi dan konten digital semakin mudah diakses.
Nur Illah mengatakan perkembangan teknologi membuat remaja berhadapan dengan beragam informasi setiap hari. Menurut dia, kemampuan memilah informasi menjadi penting agar remaja tidak menerima begitu saja berbagai konten yang mereka temui.
“Remaja hari ini hidup di tengah arus informasi yang sangat terbuka. Konten mengenai LGBT dapat dengan mudah ditemukan melalui media sosial, film, maupun berbagai platform digital. Karena itu, remaja perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan landasan nilai yang kuat dalam menentukan sikap.”
Sementara itu, Kak Ria menyoroti perubahan cara sebagian masyarakat memandang isu LGBT. Ia mengatakan paparan konten secara berulang dapat memengaruhi cara seseorang memandang sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak lazim.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana remaja melihat sebuah konten, tetapi bagaimana mereka memahami dan menyikapinya. Ketika sebuah perilaku terus ditampilkan dan dianggap biasa, proses normalisasi dapat terjadi. Karena itu, orang tua, guru, dan lingkungan perlu hadir memberikan pendampingan.”
Pembahasan dalam kajian juga mengaitkan perubahan norma sosial dengan berkembangnya gagasan mengenai kebebasan individu, hak asasi manusia, dan demokrasi. Dalam perspektif yang disampaikan pemateri, paradigma sekuler dinilai turut memengaruhi cara masyarakat memahami kebebasan dan perilaku individu.
Para peserta kemudian diajak memperkuat pemahaman agama sekaligus membangun kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai informasi di ruang digital. Pendampingan dari keluarga dan sekolah dinilai penting agar remaja memiliki bekal dalam menyikapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Kajian Smart with Islam berlangsung secara interaktif. Selain menerima materi, para pelajar mendapat ruang untuk mengikuti pembahasan mengenai persoalan yang dinilai semakin dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Kegiatan di Cafe Kebunku Rasa Bobo itu menjadi salah satu upaya menghadirkan ruang edukasi dan dialog bagi remaja agar mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi digital, tetapi juga mampu menyaring dan menyikapinya secara kritis berdasarkan nilai yang diyakini.[]









Comment