Abu Ubaidah: Perlawanan Gaza Berlanjut, Zionis Hadapi Konfrontasi Terpanjang

Internasional2252 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, GAZA — Juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah, menyampaikan bahwa perlawanan rakyat Palestina terhadap militer Israel memasuki bulan ke-21 sejak pecahnya pertempuran besar pada Oktober 2023. Dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (18/7/2025), ia menegaskan bahwa kelompoknya dan faksi-faksi perlawanan lain terus melakukan konfrontasi terbuka dengan pasukan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Menurut Abu Ubaidah, empat bulan terakhir menjadi masa paling brutal sejak gencatan senjata yang disepakati pada Januari 2025 dilanggar. Ia menuding Israel melakukan penghancuran sistematis terhadap kawasan sipil, membombardir pemukiman, serta memperluas operasi darat ke sejumlah wilayah padat penduduk.

“Musuh melanjutkan kebiadaban terhadap warga sipil, anak-anak, dan lingkungan kami, dalam bentuk perang terbuka yang tak berperikemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa militer Israel menjalankan operasi bersandi “Kendaraan Gideon”, yang disebutnya bertujuan menjatuhkan semangat perlawanan. Sebagai balasan, Al-Qassam menjalankan operasi “Batu Daud”, merujuk pada kisah Daud yang mengalahkan Jalut dalam tradisi keagamaan.

“Dengan izin Allah, kami melakukan perlawanan tak seimbang, tetapi berani dan penuh keyakinan,” kata Abu Ubaidah, menekankan bahwa pasukannya telah menggunakan taktik tempur baru serta melakukan operasi dari jarak dekat terhadap personel militer Israel.

Ia menuturkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Al-Qassam dan faksi-faksi lain, terutama Brigade Al-Quds, telah melakukan operasi militer dari Beit Hanoun dan Jabaliya di Gaza Utara, hingga ke wilayah selatan seperti Khan Yunis dan Rafah. Menurutnya, wilayah Gaza kini menjadi “sekolah militer terbesar dalam sejarah perlawanan rakyat”.

Abu Ubaidah juga mengklaim bahwa tentaranya berhasil melumpuhkan ratusan personel Israel serta menciptakan dampak psikologis yang besar di kalangan militer Zionis. Ia menyebut adanya peningkatan jumlah prajurit Israel yang mengalami gangguan mental dan kasus bunuh diri.

Ia mengakui bahwa beberapa upaya untuk menangkap tentara Israel sempat dilakukan, meskipun belum berhasil karena strategi balasan dari militer Israel yang disebut “melakukan pembunuhan terhadap pasukannya sendiri untuk mencegah penangkapan”.

Selain menyoroti dinamika pertempuran, Abu Ubaidah juga mengkritik keras sikap negara-negara Arab dan Islam yang dinilainya bungkam terhadap agresi militer di Gaza.

“Kepada para pemimpin dan ulama, kalian bertanggung jawab di hadapan Allah. Diamnya kalian adalah pengkhianatan terhadap setiap anak yatim, janda, dan korban luka,” katanya.

Ia menyatakan bahwa kelompoknya akan terus melakukan perlawanan dengan segala sumber daya yang tersedia, termasuk persenjataan terbatas dan alat rakitan, “selama tanah ini masih dijajah dan rakyat kami ditindas.”

“Jika musuh memilih melanjutkan perang pemusnahan, maka mereka juga memilih untuk terus menerima jenazah tentaranya sendiri. Tank dan benteng tidak akan menyelamatkan mereka,” ujar Abu Ubaidah menutup pernyataannya.[]

__________

# Berita ini merupakan olahan redaksi dari pernyataan Abu Ubaidah di situs resmi Gerakan Hamas

Berita Terkait

Baca Juga

Comment