by

Agar Bebas Dari Cengkraman Penjajah Israel, Palestina Butuh Solusi Nyata

-Opini-21 views

 

 

Oleh: Puput Hariyani, S.Si, Penerhati Generasi, Freelance Writer

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA—- Konflik antara Palestina-Israel kembali memanas. Gempuran Israel atas Palestina di jalur Gaza dan kompleks Masjidil Aqsa mengakibatkan korban berjatuhan hingga mencapai 232 orang termasuk anak-anak.

Di tengah kondisi permusuhan Palestina-Israel yang tak kunjung berakhir, berbagai usulan solusi terus digencarkan. Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi perdamaian antara keduanya seusai menyepakati genjatan senjata.

Hal senada diungkap Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bahwa permusuhan antara Palestina dan Israel telah dihentikan dengan genjatan senjata. Namun, untuk mencapai perdamaian abadi OKI justru mengusulkan pada solusi dua negara, dialog dan resolusi PBB yang relevan (Serambinews.com)

Solusi genjatan senjata dan membag dua negara yang diusulkan berbagai pemimpin dunia Islam bukanlah sesuatu yang baru namun hingga kini tidak mampu menuntaskan persoalan Palestina-Israel. Terbukti serangan terus berlangsung hingga bertahun-tahun.

Bahkan ketika genjatan senjata disepakati pun, polisi Israel masih terus menyerbu Al Aqsa. Di Yerusalem Timur ketegangan masih terus terjadi, penembakan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat jumat terus dilancarkan. Kantor berita Al-Jazeera mengatakan bahwa genjatan senjata merupakan solusi yang sangat rapuh.

Gencatan senjata justeru menjadi sebuah indikasi tidak ada pembelaan negeri-negeri muslim terhadap saudara muslim Palestina dan membiarkan zionis berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian.

Solusi ini sekaligus mengukuhkan keengganan dunia Islam mengirimkan militer dan memberi solusi demi menghentikan pendudukan dan mengusir zionis dari bumi Palestina

Sungguh ironis, keberadaan Israel sebagai perampok Dan penjajah dengan terang-terangan merampas Palestina dari dekapan kaum muslim justru diakui sejumlah negeri muslim.

Begitu banyak jeratan Negera besar dan Israel terhadap dunia Islam. Hubungan diplomatik masih terus dijalin dan kerja sama lainnya, semisal Mesir, Yordania, UEA, Maroko, Bahrain, Sudan dan Turki. Padahal semestinya Israel tidak pernah dianggap ada dalam peta dunia Islam karena memang dia tidak memiliki sejengkal tanah kecuali dari hasil rampasan paksa dari warga Palestina.

Sejatinya kaum muslim bersama dunia Islam memahami betul betapa berartinya bumi Palestina dalam kacamata Islam.

Palestina tidak akan bisa dipisahkan dari Islam. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan negeri Syam, negeri yang diberkahi dan disucikan Allah Swt. Sebagaimana diketahui, Syam adalah negeri yang terdiri dari Suriah, Yordania, Lebanon dan Palestina (termasuk yang diduduki Israel).

Rasulullah saw. juga memberikan banyak pujian pada negeri Syam. Di antaranya dalam hadist riwayat At-Tirmidzi,

“Keberuntungan bagi penduduk Syam,” Kami bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada mereka (penduduk Syam).”

Palestina adalah kiblat pertama kaum muslim dan tempat singgah perjalanan Isra Mikraj yakni Masjidil Aqsa. Wilayah di sekitarnya juga tempat yang Allah berkahi. Sehingga jelaslah tanah Palestina, Yerusalem, dan al-Aqsha adalah bagian dari Islam dan umat Islam.

Tanah Palestina juga merupakan tanah kharaj sejak era Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab ra. Pada tahun 637 M ketika Uskup Yerusalem, Sophronius, menyerahkan kunci kota Yerusalem kepada Khalifah Umar bin al-Khaththab secara langsung setelah peperangan yang memakan waktu berbulan-bulan.

Dengan statusnya sebagai tanah kharajiyah maka Palestina tidak boleh dimiliki oleh siapa pun.  Jika kaum muslim saja tidak berhak memiliki tanah tersebut, apalagi kaum Zionis Yahudi. Tentu sangat tidak layak menguasai apalagi merampasnya.

Terlebih Khalifah Umar pernah menyepakati Perjanjian Umariyyah. Dalam perjanjian tersebut Khilafah berkewajiban memberikan jaminan kepada kaum Nasrani baik terkait harta, jiwa dan ibadah mereka. Perjanjian ini mengikat hingga akhir jaman.

Khalifah Umar bahkan menjamin tidak ada satu pun orang Yahudi yang lewat dan bermalam di wilayah tersebut.

Dengan demikian solusi genjatan senjata ataupun solusi dua negara sangat tidak relevan untuk Masalah Palestina dan Israel.

Jika berbagai bahasa perdamaian tidak mampu mengatasi keganasan Israel, bahasa diplomasipun tak lagi bisa dipahami. Pengiriman obat, uang dan bantuan logistik tidak memberi pengaruh yang signifikan.

Maka hanya ada satu bahasa untuk Israel yakni bahasa perang. Kaum muslimin sudah semestinya mengerahkan pasukan militernya untuk mengusir pendudukan Israel atas Palestina.

Pengerahan pasukan dan panglima militer tentu membutuhkan sebuah komando yang menyatukan umat Islam di bawah kepemimpinan yang sama yakni kepemimpinan Islam.

Demikianlah solusi nyata untuk Palestina tercinta. Semoga seluruh kaum muslim memiliki kesadaran yang sama untuk berkontribusi menyelamatkan Palestina dan meraih keberkahan atas kemerdekaan bumi Palestina. Wallahu’alam bi ash-showab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =

Rekomendasi Berita