Akhir Tahun: Muhasabah Diri, Ciri Muslim Sejati

Opini40 Views

Penulis: Evalasari, S.Pd.| Pendidik dan Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Penghujung tahun 2025 kian mendekat. Tanpa terasa, satu tahun lagi terlewati dengan segala dinamika yang menyertainya. Suka dan duka, letih dan perjuangan, silih berganti dirasakan hampir setiap orang dalam menjalani hari-hari sepanjang tahun ini.

Di titik inilah, akhir tahun seharusnya tidak sekadar dimaknai sebagai pergantian angka kalender, melainkan momentum muhasabah—merenungi kembali perjalanan diri dan kondisi sekitar.

Muhasabah pertama yang patut menjadi perhatian adalah kondisi masyarakat dan negeri. Hingga hari ini, masih banyak warga yang hidup jauh dari kata sejahtera. Kesehatan, pendidikan, dan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan merata.

Di tengah sebagian kecil yang hidup berkecukupan, masih banyak saudara kita yang bergelut dengan keterbatasan dan ketidakpastian.Belum lagi bencana alam yang datang silih berganti, sering kali diperparah oleh penanganan yang lamban.

Semua itu menambah daftar panjang kesenjangan sosial yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini. Realitas tersebut semestinya menggugah nurani kita bersama untuk tidak bersikap abai, apalagi acuh tak acuh.

Sebagai seorang Muslim, kepedulian terhadap kondisi umat dan negeri bukanlah pilihan, melainkan tuntutan iman. Rasulullah SAW mengingatkan:
“Barangsiapa yang bangun pagi tetapi tidak memikirkan urusan umat Islam, maka ia bukan termasuk golonganku.”
(HR. Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa keimanan tidak berhenti pada ritual individu tetapi juga tercermin dalam kepedulian sosial. Di tengah kesenjangan yang masih nyata, umat Islam dituntut untuk ikut memikirkan solusi, sekecil apa pun kontribusi yang bisa diberikan.

Muhasabah kedua adalah evaluasi terhadap diri sendiri. Di tengah kesibukan memikirkan persoalan umat, seorang Muslim tidak boleh lupa untuk bercermin pada perjalanan pribadinya. Apa saja yang telah dilakukan sepanjang tahun ini? Apakah diri ini tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, atau justru berjalan di tempat, bahkan mundur?

Sejauh mana waktu dimanfaatkan dengan produktif? Bagaimana kualitas hubungan dengan Allah SWT—apakah semakin dekat atau justru menjauh? Seberapa sering Al-Qur’an dibaca dan direnungi, ataukah ia hanya tersimpan rapi dan berdebu di lemari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting diajukan sebagai bentuk kejujuran pada diri sendiri. Muhasabah bukan untuk merendahkan atau melemahkan kepercayaan diri, melainkan sebagai jalan memperbaiki kualitas hidup ke depan—baik dalam aspek hablumminallah, hablumminannas, maupun hablum binafsih.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari).

“Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi.” (HR. Al-Hakim).

“Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.”
(HR. Al-Hakim).

Hadits-hadits tersebut menjadi cermin sekaligus pengingat bahwa waktu adalah amanah. Setiap hari yang berlalu semestinya menghadirkan peningkatan kualitas iman, akhlak, dan kontribusi sosial.

Menyambut tahun yang baru, sudah sepatutnya kita menata niat dengan semangat baru, harapan baru, serta ketaatan yang lebih baik kepada Allah SWT.

Bukan sekadar resolusi kosong, melainkan komitmen nyata untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi diri, umat, dan bangsa.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.[]

Comment