Al Washliyah Siapkan Relawan Psikososial dan Psikoterapi untuk Korban Bencana di Sumatera

Nasional112 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perkumpulan Al Jam’iyatul Washliyah (Al Washliyah) menyiapkan relawan psikososial dan psikoterapi untuk mendukung pemulihan korban bencana di sejumlah wilayah Pulau Sumatera. Langkah ini diambil sebagai respons atas dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan oleh bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr. KH. Masyhuril Khamis, S.H, M.M, menyampaikan bahwa seluruh kampus serta fasilitas pendidikan Al Washliyah yang berada di wilayah terdampak akan segera difungsikan untuk mendukung penanganan pascabencana.

“Kampus-kampus Al Washliyah di Medan, Sibolga, dan Takengon, serta fasilitas sekolah dan madrasah yang masih memungkinkan di lokasi bencana, akan difungsikan untuk kegiatan pendampingan psikososial,” ujar Masyhuril Khamis usai meninjau Rumah Tahfidz di Malang, Jawa Timur.

Ia menjelaskan, berdasarkan laporan tim Al Washliyah di lapangan, bencana banjir tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang mendalam.

Korban berisiko mengalami stres akut, trauma, kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma (post traumatic stress disorder/PTSD), terutama bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga.

Menurut Masyhuril, dampak nonfisik bencana mencakup kehilangan harta benda, ketidakpastian masa depan, ketakutan berulang, serta menurunnya fungsi sosial masyarakat.

Hasil identifikasi awal juga menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil dan menyusui, penyandang disabilitas, serta lanjut usia.

Sebagai organisasi Islam, Al Washliyah menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif dalam penanganan pascabencana. Masyhuril menilai, upaya pemulihan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata.

“Al Washliyah akan menyiapkan relawan dan melakukan investigasi lapangan untuk ditindaklanjuti. Penanganan pascabencana harus melibatkan berbagai pihak melalui kolaborasi yang kuat, termasuk tokoh agama dan adat, tenaga profesional, serta lembaga terkait seperti BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, ormas, NGO, dan relawan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pendampingan psikososial dan psikoterapi merupakan bagian integral dari respons kebencanaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Pemulihan mental adalah kunci utama bagi pemulihan masyarakat secara keseluruhan. Pendampingan psikososial dan kolaborasi semua pihak sangat penting agar korban dapat bangkit, merasa aman, dan melanjutkan hidup dengan harapan,” kata Masyhuril Khamis, Kamis (18/12/2025) atau 27 Jumadil Akhir 1447 H.

Sementara itu, Sekretaris Bidang Dakwah PB Al Washliyah, Dr. KH. Iskandar Mirza, MA, merespons cepat instruksi Ketua Umum dengan menyatakan kesiapan para santri binaannya di Pondok Pesantren wilayah Bandung Barat, Jawa Barat, untuk terlibat dalam kegiatan trauma healing bagi korban bencana.

Ia menambahkan, relawan Al Washliyah yang melibatkan unsur majelis, lembaga, dan badan di lingkungan organisasi akan dibekali pelatihan terlebih dahulu sebelum diterjunkan ke lokasi terdampak, guna memastikan pendampingan dilakukan secara profesional dan terkoordinasi.[]

Comment