by

Ammylia Rostikasari,S.S.E*: Efektivitas Media Sosial untuk Kelangsungan Dakwah Islam

-Opini-40 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Selalu ada jalan dari Allah Subhanahu wata’ala bagi hamba-bamba yang menolong agama-Nya. Berkali-kali dipersekusi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, tak menyurutkan tekad dakwah Ustadz muda, Felix Shiauw.

Masyaallaah, selain beliau aktif dalam kegiatan dakwah dalam forum offline yang masih sangat dibatasi di masa pandemi, beliau juga sangat masif melancarkan dakwah dalam berbagai media sosial.

Berbagai akun media sosial diefektifkan untuk menyeru manusia agar berbuat kebajikan dan mencegah dari perbuatan keburukan. Membagi nasihat bijak, kata-kata mutiara juga mengkritisi fakta yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat memenuhi kamal media sosialnya.

Riset tim peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menemukan bahwa pandangan konservatif Islam mendominasi dengung di media sosial.

“Temuan utama penelitian ini adalah adanya dominasi narasi paham keagamaan konservatif di media sosial,” demikian rilis kesimpulan riset yang dikutip dari situs PPIM UIN Jakarta, Selasa (17/11).

Pada laporan riset yang diakses CNNIndonesia.com, tim peneliti menemukan bahwa berdasarkan viralitas, akun twitter felixsiauw berada di urutan pertama disusul akun gusmusgusmu, TeladanRasul, dan AlissaWahid.

Tim peneliti menemukan total 24 akun sentral dalam mengonstruksi dan mendiseminasi narasi keagamaan di media sosial. Felixsiauw menempati urutan pertama dengan total 315 twit yang viral (CNN.Indonesia/18/11/2020).

Dari sekian juta pengguna media sosial di Indonesia dengan berbagai kontennya, juga motif mengejar viral, keberadaan Ustadz Felix Shiauw merupakan pengguna yang sangat bijak. Pemanfaatan semata-mata untuk misi dakwah Islam. Meraup keberkahan via media sosial. Namun, demikian masih saja ada banyak para netizen yang belum paham adab dalam penggunaan media sosial.

Menurut Rasulullah SAW yang digambarkan dalam hadis bahwa terdapat di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah dzuhurul qalam (tersebarnya pena/ tulisan).
Dari Abu Barzah Al-Aslami, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)..

Mengenai perkara tersebut, kaidah menggunakan media sosial dapat mengantarkan seseorang menuju surga atau neraka. Maka dari itu, seorang muslim yang di zaman ini tidak pernah bisa lepas dengan sosmed harus mengetahui adab-adab dalam menggunakan sosmed, diantaranya :

Pertama: Mengingat bahwa Islam menuntut kita membagi waktu dengan proporsional. Tidak ada yang melarang penggunaan sosmed, namun kita harus menjaga diri agar tidak terjerumus terlalu dalam ke dalam kelalaian memanfaatkan waktu.

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika kita mempunyai beberapa grup dalam suatu akun sosmed, baiknya dipastikan kemanfaatnya. Namun jika grup-grup tersebut hanya berisi komen-komen tak berfaedah, emoticon yang menyalahi atau bahkan cenderung hal-hal haram lain, maka lebih bijak segera pamit dari grup tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).
Salah satu tanda Allah berpaling dari kita adalah Allah biarkan kita sibuk mengurusi hal-hal yang tidak bermanfaat untuk kita. Kita tidak diberi taufik dan hidayah untuk melakukan kebaikan.

Kedua. Menanamkan kuat-kuat dibenak kita bahwa setiap postingan, komen, copas, dan share kita di sosmed akan dihisab, semuanya dan tak ada yang terluput olehNya! Karena Allah mempunyai malaikat yang ditugaskan untuk selalu mencatat setiap perbuatan kita. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Qaf : 18

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّالَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.

Kontrol jari kita agar tidak terlalu mudah memposting, berkomentar, copy-paste, dan menshare, dan diam adalah salah satu cara terampuh untuk mengontrolnya.

Karena jari di dunia sosmed bagaikan lisan di dunia nyata.

Ketiga. Ketika kita akan masuk dunia sosmed, maka jangan lupa pasang niat. Niatkan semua karena Allah, niatkan untuk menjalin tali silaturahmi, niatkan untuk berbagi faedah demi kemaslahatan umat jangan terbawa arus sekadar meraih viral.

Jika pun itu viral karena kebaikan niat, maka itu adalah bonus dari Allah Swt. Karena dakwah bukan menyampaikan yang disukai, melainkan menyampaikan kebenaran hakiki.

Keempat. Ingat kaidah para ulama fiqih dalam berbicara. Hak berbicara itu ada ketika kita telah memenuhi 3 syarat yang ulama sampaikan, yaitu : (1) Niat harus karena Allah, (2) Menyampaikan informasi dengan benar, baik dari sisi kandungan isinya, maupun dari cara penyampaiannya. (3) Efek yang ditimbulkan dari disampaikannya berita tersebut adalah efek yang positif, atau bisa menekan kemudhorotan saat itu. Ingat!

Walaupun berita tersebut benar, ketika disampaikan pada kondisi yang salah maka akan memperburuk keadaan.

Kaidah fikih mengatakan “Apabila suatu kerusakan berhadapan dengan suatu kemaslahatan, maka secara umum, menolak kerusakan itu lebih didahulukan (kecuali jika kerusakan itu tidak dominan).

Karena sesungguhnya perhatian pembuat syari’at terhadap perkara yang dilarang itu lebih keras daripada terhadap perkara yang diperintahkan. (Al-Asybaah wan Nazhaa`ir).

Kelima. Mampu membedakan ranah publik dan ranah pribadi.

Keenam. Selalu Ingat bahwa tidak semua yang kita dengar mesti kita sampaikan. Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, dari Hafshah radhiyallahu ‘anha :

كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar.” [HR. Muslim].

Ketujuh. Hindari ghibah dan fitnah di sosmed. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda mengenai definisi ghibah dan dusta/buhtan/fitnah.

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan bahwa ghibah adalah menceritakan keburukan saudaramu, meskipun keburukan/aib itu memang benar adanya.

Sedangkan dusta/buhtan/fitnah adalah menceritakan keburukan/aib yang tidak ada pada saudaramu. Maka perhatikan lisan kita wahai saudaraku, karena bahaya ghibah ini luar biasa.

Oleh sebab itu, marilah jadikan sosmed kita sebagai sarana melancarkan dakwah Islam kaffah, mengukir peradaban Islam via sarana digital.

Tentunya bukan satu-satunya sarana, tapi sebagai penunjang dakwah secara langsung dalam menyeru umat.

Memahamkan umat bahwa dakwah adalah kewajibab sebagaimana kewajiban lainnya.

Demi tegaknya izzah Islam mampu dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan. Yassarallahu lanaa, baarakallahu ‘alaynaa. Wallahu’alam bishowab.[]

*Komunitas Penulis Bela Islam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × two =

Rekomendasi Berita