by

Pristria Dini Aranti ST*: Mencermati Bisnis Start Up, Keuntungan Investor Atau Rakyat?

-Opini-48 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tayangnya drama Korea berjudul Start-Up pada 17 Oktober lalu hingga kini ramai dibicarakan. Drama produksi tvN ini dibintangi oleh empat pemain populer industri hiburan korea,
Drama ini menceritakan kehidupan empat orang anak muda yang bekerja dan sedang merintis usaha di dunia start up beserta lika-liku perjalanannya. drama ini juga memberikan banyak pengetahuan tentang apa yang ada di balik dunia start up sendiri. ( Medium.com)

Kini, bukan hanya industri hiburan saja yang menjejakkan kaki, tetapi startup asal Korea Selatan pun tergiur dengan besarnya potensi ekonomi di Indonesia.
Di Korea Selatan, ada sebuah komplek industri digital yaitu distrik Guro yang dibuat layaknya Silicon Valley di Amerika.

Dari kawasan ini, sebanyak 14 startup bermaksud menjual produk dan layanan di Indonesia, untuk memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat di berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari.

Startup ini bergerak pada bidang kecantikan, perawatan kesehatan, EduTech, FinTech, Artificial Intellligence, teknologi canggih dan beberapa bidang lain.

James Jung, Founder & Global Connector, beSuccess, platform startup teknologi sekaligus penyelenggara acara ini di Cohive 101, Jakarta (16/10/2019), menyebut bahwa Indonesia sebagai negara yang bertumbuh dengan cepat di dunia. Secara populasi dan aspek pasarnya, ia melihat adanya potensi untuk menambahkan nilai-nilai bagi komunitas di Jakarta.

“Bukan hanya dari sisi bisnis, tetapi kami juga dapat membagikan pengalaman kami, mengembangkan produk. Sehingga Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari produk yang ditawarkan ini. Itulah sebabnya kami melihat adanya kesempatan dan kami ingin membagi nilai-nilai kami dan berbagi dengan komunitas lokal. Itulah alasan mengapa kami memilih Indonesia,” kata James Jung. (Gizmologi.id)

Eksistensi perusahaan startup belakangan ini sedang ramai. Selama satu dekade belakangan bisnis rintisan ini mulai berkembang pesat di Indonesia. Startup adalah perusahaan yang baru saja didirikan dan berada dalam fase pengembangan serta penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Perusahaan-perusahaan rintisan berbasis teknologi alias startup memang memiliki tingkatan masing-masing. Tingkatan diklasifikasikan berdasarkan nilai valuasi perusahaan. Startup yang paling rendah adalah unicorn, kedua ada decacorn, dan yang paling tinggi ada hectocorn. Apa perbedaannya?

Unicorn merupakan tingkatan startup paling rendah. Sebuah perusahaan rintisan atau startup bisa masuk kategori unicorn ketika mereka memiliki nilai valuasi US$ 1 miliar atau Rp 14,1 triliunan. Contohnya adalah Traveloka, Gojek, Tokopedia, dan BukaLapak.

Ketika perusahaan startup unicorn mengalami perkembangan yang pesat hingga mampu menembus valuasi perusahaan menjadi US$ 10 miliar, sudah naik level menjadi decacorn.

Daftar startup tersebut di antaranya WeWork, Airbnb, Pinterest, Snapchat, Uber, Xiaomi dan perusahaan penerbangan luar angkasa milik Elon Musk, SpaceX, dan Grab.

Hectocorn merupakan tingkatan paling tinggi dari sebuah perusahaan teknologi maupun startup. Untuk mencapai ke sebuah perusahaan startup harus mampu meraih valuasi sebesar US$ 100 miliar atau Rp 1.410 triliunan. Dilihat dari nilai valuasinya, maka yang masuk ke kategori ini ada Facebook, Google, Microsoft, hingga Apple.

Kementrian komunikasi dan informatika Republika Indonesia sejak 2019 telah menginisiasi program pembinaan perusahaan tingkat awal dengan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital

Namun setelah tiga tahun berjalan, program mulai banjir kritikan. Gerakan yang sejatinya mulia itu mulai dipertanyakan, terutama soal hasil akhir dari gerakan tersebut.

Kritikan salah satunya datang dari Executive Director ICT Institute, Heru Sutadi, yang menilai jika gerakan tersebut tidak memiliki hasil akhir yang jelas bagi perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

Heru kepada Tim Telset.id melalui pesan WhatsApp pada Senin (18/03/2019) mengatakan tentang ketidakjelasan perkembangan tersebut dan dirinya hanya melihat sebagai seremonial belaka.

Investor Asing di Unicorn Indonesia

Indonesia memiliki 4 unicorn dengan nilai valuasi yang besar. Tetapi para unicorn tersebut mendapatkan investor atau pendanaan dari perusahaan permodalan ventura asing dari luar negeri. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, karena banyaknya pemain asing yang mengusai unicorn itu.

Misalnya saja Go-Jek, mendapatkan investasi dari beberapa investor asing, seperti Formation Group, Squoia Capital India dan Warburg Pincus. Kemudian Tokopedia mendapat investasi dari Softbank Group, Alibaba Group dan Sequoia Capital India.

Dua unicorn lainnya pun tidak jauh beda. Traveloka mendapat suntikan dana dari investor asing, seperti Global Founders Capital, East Ventures dan Expedia Inc. Dan yang terakhir Bukalapak memiliki investor 500 Startup, Batavia Incubator dan Emtek Group.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira Adhinegara menilai investasi asing tersebut bisa berdampak pada kinerja startup atau unicorn yang ada di Indonesia. Dia khawatir jika data pengguna bisa tergadaikan oleh investor asing tersebut.

“Ketika masuk modal asing, kedaulatan data, dan produk yang ada di startup menjadi tergadaikan. Padahal data merupakan privasi sekaligus sumber daya paling penting di era ekonomi digital,” ucap Bhima kepada Tim Telset.id, Senin (19/02/2019)

Menilik keberhasilan unicorn di Indonesia, nampak ada peran Penanaman Modal Asing atau (PMA) di sana. PMA merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan (Wikipedia).

Penanaman modal di Indonesia diatur dalam Undang-Undang nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal.

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan Penanaman Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.

Bagaimanapun, Indonesia adalah sebuah negeri dengan jumlah penduduk yang besar, dilirik bahkan menarik bagi investor asing.

Para pemilik modal asing tersebut paham benar tentang keuntungan yang akan mereka dapatkan dengan investasi yang mereka lakukan. Sementara di pihak lain, Indonesia beranggapan bahwa investasi asing akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negeri ini dan melahirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Benarkah demikian? Tanpa pertimbangan matang, ada peluang dan bahaya yang mengintai kedaulatan negeri ini di balik penananam modal asing.

Dengan derasnya laju investor asing ini, porsi pertambahan nilai terbesar lari kepada pihak asing melalui mekanisme perpindahan kepemilikan harta dengan model laba. Rakyat hanya akan memperoleh upah dan sewa.

Apalagi bila tidak ada regulasi yang mengatur tentang di mana dana asing yang dipakai tersebut harus ditanam. Maka tanah, air, dan manusia di negeri ini akan dimanfaatkan secara sangat signifikan oleh para pemilik bisnis asing itu.

Kondisi ini akan semakin parah jika investasi asing tidak disertai dengan penyiapan investasi dalam negeri dengan baik. Apalagi jika industri yang disodorkan kepada pihak asing adalah industri di sektor primer ekonomi negeri ini seperti: pangan, energi dan air. Di mana produk akhir yang akan dibeli oleh rakyat negeri ini adalah produk pokok. Ibaratnya, mau dijual dengan bungkus apapun tetap laku!

Semakin banyak investor asing yang bermain di negeri ini, ketergantungan rakyat dan pemerintah kepada mereka akan semakin besar. Para business owner ini dapat melakukan lobi atau bahkan pressure baik secara ekonomi atau politik kepada pemerintah atau masyarakat demi kepentingan mereka.

Karenanya, membuka kran investasi sebesar-besarnya tanpa mengindahkan kepentingan ekonomi nasional dan rasa kebangsaan sama dengan “menjual” negeri ini kepada investor asing.

Selain menimbulkan ketergantungan pada pemilik bisnis asing, hal ini bisa membuka jalan dominasi dan penjajahan asing terhadap ekonomi, politik, kestabilan dan sikap negara.

Kondisi ini juga akan memengaruhi stabilitas ekonomi dan moneter, bahkan bisa menjadi pemicu krisis. Akibatnya ketahanan negara bahkan eksistensi sebagai negara independen,  menjadi taruhannya.

Karenanya selama kemunculan unicorn-unicorn dan decacorn-decacorn yang baru ini masih bersandar kepada investasi asing, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat tetap termarginalkan dan hanyalah mimpi belaka.

Kemudian siapa yang sejatinya menikmati kesejahteraannya?
Jawabannya adalah para investor asing yang diberi kemudahan investasi yang tidak menutup kemungkinan semakin terbukanya akses global menancapkan hegemoni ekonomi di dunia berkembang.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − six =

Rekomendasi Berita