Oleh: Hamsina Halik, Pegiat Literasi
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perkembangan teknologi yang kian pesat membuat segalanya menjadi lebih mudah. Tak sedikit orang yang menjadikannya sebagai sarana untuk mendatangkan penghasilan.
Ada konten konten creator, youtuber dan selegram yang demi mendapatkan popularitas di kanal media sosial, tak mempertimbangkan isi kontennya mendidik atau merusak, aman atau berbahaya. Bagi mereka yang terpenting bisa menarik banyak viewer.
Salah seorang youtuber dengan mengajak suami dan bayinya dengan sedikit mengebut di laut. Dari sisi keamanan bayi, tentu ini berbahaya. Apalagi si bayi tidak memakai pelampung sama sekali. Sontak aksi ini menuai kritikan dari berbagai netizen sesaat setelah youtuber ini mengunggah video liburan tersebut ke akun Instagram pribadinya.
Sebagaimana dilansir dari liputan6.com (6/1/2023)), dalam video yang diunggah itu, kedua pasangan memakai pelampung sementara bayi yang usianya belum genap satu tahun tersebut tidak.
Banyak yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan pasangan itu sangat berbahaya untuk bayi. Apalagi sang bayi belum mengerti permainan yang diajak oleh kedua orang tuanya itu.
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait pun ikut menanggapi hal ini. Arist menyebut aksi kedua pasangan itu dapat membahayakan sang anak.
Setiap manusia dalam dirinya terdapat dorongan eksistensi diri. Keinginan untuk diakui di tengah-tengah kehidupannya. Popularitas, inilah salah satu tujuan yang ingin diraih oleh sebagian besar manusia.
Namum, sangat disayangkan terkadang demi popularitas ini tak jarang membuat orang-orang abai terhadap hal-hal yang harus dijaga. Abai terhadap keselamatan anak yang masih bayi misalnya.
Dengan demikian, dorongan eksistensi diri tanpa pertimbangan ini bisa membahayakan keselamatan bayi. Seorang ibu harus memahami hal ini, agar anak-anaknya tetap aman dan terjaga. Boleh saja berusaha untuk tetap eksis tapi harus pula mempertimbangkan hal hal ekstrim yang kemungkinan dapat menimbulkan bahaya bagi diri dan orang lain.
Kapitalisme sekuler yang dikenal hanya mengedepankan asas manfaat atau materi belaka ini, popularitas menjadi pilihan tercepat dalam upaya mengisi pundi-pundi menggiurkan.
Di samping gaya hidup hedonis dan materialistis, kapitalisme telah merasuki sebagian besar manusia, terutama generasi muda yang membuat mereka beramai-ramai menjadi konten creator youtuber ataupun selegram.
Kapitalisme sekuler telah sukses menjauhkan manusia dari tujuan utama kehidupannya, yaitu meraih keridaan Allah SWT. Setiap perbuatan yang mereka lakukan tak jauh dari nilai materi. Tak lagi melihat apakah perbuatan itu sesuai atau bertentangan dengan aturan-Nya. Bagi mereka, yang penting bisa mendatangkan manfaat atau materi (uang).
Para ibu sejatinya memahami benar perannya dalam kehidupan ini, yaitu sebagai pengasuh, pelindung dan pendidik anak-anak.
Dalam Islam, anak merupakan anugerah sekaligus amanah dari Allah SWT yang nantinya akan dipertanggung-jawabkan oleh kedua orangtuanya. Kehadiran anak ini bukan semata untuk kehidupan dunia saja, tapi juga untuk akhiratnya.
Di samping itu anak adalah aset generasi mendatang yang memegang estafet perjuangan kedua orangtuanya. Karenanya, menjadi kewajiban orangtua untuk menjaga tumbuh kembang anak dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Menuntunnya menjadi anak yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.
Bukan hanya itu saja, selain orang tua yang memiliki kewajiban pengasuhan dan pendidikan anaknya, negara juga memiliki peran penting agar para orangtua bisa menjalankan kewajibannya dengan baik.
Dalam hal ini, negara wajib menjadi pelindung rakyatnya, termasuk anak-anak. Perlindungan dan keamanan yang dimaksud di sini adalah perlindungan dari berbagai macam ancaman, kekerasan baik fisik maupun psikis, serta hal lainnya yang membahayakn anak. Artinya orang tua dilarang melakukan eksploitasi anak dalam bentuk apapun. Jika terjadi, maka negera akan memberikan sanksi tegas kepada orangtuanya.
Negara harus membekali orang tua dalam upaya memahami kewajiban yang melekat pada dirinya ketika memiliki anak. Sehingga anak tetap terjaga dalam kehidupannya dengan baik melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam. Dengan sistem pendidikan ini pula lah yang akan membentuk para orang tua memahami bahwa tujuan tertinggi hidup yang mereka jalani adalah mendapatkan keridhaan dari Allah SWT, bukan mendapatkan materi atau harta sebanyak-banyaknya hingga melalaikan perkara halal dan haram.
Alhasil, dengan pemahaman seperti ini, setiap orang tua akan berusaha mempersiapkan strategi pengasuhan dan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Termasuk dalam proses tumbuh kembang anak.
Ini semua dalam rangka mengarahkan dan membimbing mereka menuju tujuan yang diharapkan yaitu mewujudkan generasi masa depan yang berkualitas. Sungguh semua ini hanya bisa terwujud sempurna manakala kita kembali menjadikan aturan-Nya sebagai landasan kehidupan. Wallahu a’lam.[]










Comment