by

Furqon Bunyamin Husein: Nilai Kebangsaan Dan Kebhinekaan Dalam Konteks Islam

Penulis (keenam dari kanan) saat mengikuti HWPL Media Forum di hotel Santika, Slipi.
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Usai Aksi Bela Islam, 4 Nopember 2016 yang dipelopori Front Pembela Islam (FPI) dengan 2 juta orang lebih dari seluruh Indonesia, belakangan ramai dibicarakan nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Entah apa maksud dan tujuan dilontarkannya dua isu tersebut. 
Kebangsaan dan kebhinekaan dalam konsep Islam bukanlah hal yang bertentangan. Islam bahkan tampil di depan berjuang melawan penjajah. Lihatlah Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasyah Prawira Dirja, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Haji Omar Said Cokro Aminoto, Haji Agus Salim, Panglima Jenderal Soedirman dan masih banyak tokoh Islam yang mengorbankan jiwa raganya demi nilai kebangsaan dan tanah air di mana mereka hidup.
Islam memiliki jargon yang sudah sangat lekat di hati dan sanubari umatnya dengan sembyan “Hubbul Wathon Minal Iman” yang berarti bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari nilai keimanan seorang muslim. Jargon inilah yang menjadi motivasi dan bangkitnya pejuang muslim membela bangsanya dari penjajah. Meskipun hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka tidak gentar menghadapi penjajah yang bersenjata lengkap. Ini sebuah bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme.
Realita yang berkembang di era pascakememerdekaan justeru nilai-nilai kebangsaan tidak dipraktikkan secara sempurna oleh mereka yang mengaku nasionalis. UUD’45 sebagai undang-undang yang mendasari nilai kebangsaan diamandemen menurut selera mereka. Nilai-nilai Pancasila dengan lima sila yang telah dirumuskan oleh Soekarno tidak termanifestasikan secara utuh bahkan dalam pendidikan, pelajaran yang kita sebut sebagai Pendidikan Moral Pancasila itu hilang digerus oleh kurikulum yang dianggap dan katanya, lebih modern.
Begitu pula dengan Garis Garis Besar Haluan Negara, lenyap entah kemana. Siapakah gerangan yang telah berbuat? Padahal GBHN itu sangat perlu dalam konteks sebagai haluan dan mercusuar negara. Sebagai outline yang menjadi blueprint dan langkah serta kebijakan negara untuk kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi dan komitment dengan nilai-nilai kebangsaan (nationality), hendaknya kita lebih mengambil sikap dan kebijakan yang membela bangsa ini bukan bangsa lain. Lalu faktanya? Kita berteriak soal isue kebangsaan tapi di sisi lain, kita menginjak nilai-nilai kebangsaan itu sendiri. Kita tidak mencintai bangsa kita sendiri. Kita tidak memprioritaskan bangsa ini dalam kebijakan baik nasional maupun lokal, ekonomi dan juga politik. Sangat menyedihkan bukan?
Kebhinekaan dalam Islam sudah menjadi hal yang sangat lazim dan terintegrasi secara positif dalam ajaran dan tingkah laku seorang muslim. Islam telah mempraktikkan nilai kebhinekaan secara sempurna. Kebhinekaan dalam arti yang sesungguhnya, tanpa kepentingan politik dan sebagainya.
Tujuh abad Islam memegang tampuk kekuasaan dunia, warna kebhinekaan menjadi sebuah keindahan. Kebhinekaan diaplikasikan secara tulus sebagai pengabdian dan ibadah kepada yang Mahapencipta. Yahudi, Nasrani dan Majusi adalah kebhinekaan yang dibingkai oleh sentuhan Islam dan menjadi mozaik yang indah sepanjang sejarah peradaban manusia.
Islam selalu komitmen dengan keberagaman baik pemikiran, budaya dan agama itu sendiri. Islam telah lebih dahulu mempraktikan nilai-nilai kebhinekaan dan kita baru membicarakannya.

Konsep “Lakum diinukum wa liiya diin” menjadi kata kunci dan bukti bahwa penerapan nilai kebhinekaan dalam Islam itu selain bermakna toleransi juga mengandung nilai kebhinekaan yang diajarkan oleh yang Mahakasih, Mahapenyayang.

Tidak ada celah untuk membenturkan Islam dengan kebhinekaan apalagi kebangsaan. Kebangsaan dan Kebhinekaan sesunguhnya milik Islam yang sangat bernilai dalam kerangka rahmatan lil alamiin. Wallahu a’lam Bishowab.[GF]

Comment

Rekomendasi Berita