Anak Berprilaku Kriminal, Kok Bisa?

Opini85 Views

 

Penulis: Maulani Asma Mardhiah | Mahasiswi Ma’had Pengkaderan Da’i Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Kriminalitas tidak hanya menjerat orang dewasa, namun di zaman sekarang, pelaku kriminalitas sudah merambah ke anak-anak. Dilansir dari sukabumiku.id, bocah laki–laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan, tidak hanya dibunuh, anak yang baru mau duduk di sekolah dasar ini juga menjadi korban kekerasan seksual sodomi.

Hal tersebut diungkap Polres Sukabumi Kota usai melakukan serangkaian penyelidikan, terhadap kematian korban yang mayatnya ditemukan tewas di jurang perkebunan dekat rumah neneknya di wilayah Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu.

Tidak hanya terjadi di Sukabumi, seperti dikutip metrojambi.com, di wilayah lain pihak kepolisian menemukan fakta baru dalam persidangan dua tersangka atas kematian Airul Harahap (13), santri Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Tebo telah menjatuhkan vonis terhadap dua tersangka pembunuh AH. Terdakwa AR (15) divonis dengan hukuman 7 tahun 6 bulan penjara, sedangkan RD (14) divonis lebih ringan dengan hukuman 6 tahun 6 bulan penjara. Mereka merupakan senior AH di Ponpes tersebut.

Dikutip dari psikologi.uma.ac.id, pada dasarnya orang tua adalah lingkungan pertama anak mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang diterima anak dalam lingkungan keluarga sangat penting bagi masa depan anak itu sendiri, karena akan menentukan sifat dan karakter anak pada masa yang akan datang.

Keterlibatan orang tua pada pendidikan sangat penting, hal ini terbukti dari banyaknya dampak positif bagi anak. Dalam keluarga, anak dipersiapkan untuk membangun pengetahuan tentang perkembangan sebelum memasuki tingkatan-tingkatan perkembangan dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan kebudayaan.

Entah sejak kapan, kriminalitas seakan menjadi hal yang akrab di tengah pergaulan anak Indonesia. Sejak tahun 2011 hingga 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat angka anak menjadi pelaku kriminalitas cukup tinggi.

Dari catatan tersebut, kasus terbanyak adalah anak menjadi pelaku kekerasan seksual. Tak hanya itu, ada juga kasus kekerasan fisik, bahkan pembunuhan yang juga melibatkan anak-anak.

Sebenarnya, sudah ada ketentuan dan peraturan yang mengatur perihal hukuman terhadap anak di bawah umur yang terlibat kriminalitas. Namun, bukan berarti hal ini bisa dibiarkan begitu saja. Orang tua dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam upaya mencegah anak menjadi pelaku kriminal.

Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruknya output sistem pendidikan kapitalisme. Orang tua dianggap hanya sebagai pihak pemberi materi, sementara itu orang tua juga hanya hanya mengejar materi sebagaimana yang ditanamkan oleh kapitalisme.

Keluarga adalah pranata awal pendidikan primer bagi seorang manusia. Keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan sendi-sendi pendidikan fundamental dan keluargalah pemberi pengaruh pertama. Pengaruh keluarga lebih kuat daripada sendi-sendi lainnya.

Sejak awal masa kehidupannya, seorang manusia lebih banyak mendapatkan pengaruh dari keluarga. Waktu yang dihabiskan di kehidupan keluarga pun lebih banyak daripada di tempat yang lain.

Dilansir dari geotimes.id, anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), baik sebagai pelaku, saksi atau korban mendapatkan perlakuan khusus dari negara. Hal ini diatur dalam Undang- undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Hal lain yang diatur dalam UU SPPA adalah hak-hak anak dalam proses peradilan pidana, hak saat menjalani masa pidana dan hak untuk mendapatkan bantuan hukum.

Anak yang melakukan tindak pidana dapat ditahan dengan syarat anak tersebut telah berumur 14 tahun atau diduga melakukan tindak pidana dengan ancaman penjara 7 tahun atau lebih. Sanksi tidak menjerakan apalagi jika pelaku anak-anak dan cenderung tidak diproses dengan alasan masih di bawah umur, sebab standar usia anak di Indonesia adalah kurang dari 18 tahun.

Seperti dikutip dari buku karya KH. Budi Ashari, dengan judul Remaja Antara Hijaz dan Amerika (Panduan Penyiapan Masa Baligh), zaman sekarang yang menjadi paradigma umum di masyarakat terkait dengan remaja adalah bahwa remaja (teenager atau murahaqah) merupakan masa mencari jati diri.

Secara bahasa murahaqah ini bermakna kedunguan, kebodohan, kejahatan, gemar melakukan kesalahan dan kedzaliman.

Tentu ini berbeda dengan Islam dalam memandang usia yang sebenarnya adalah usia emas, yang disebut dengan istilah syabab (pemuda). Fase manusia dalam Islam adalah fase pengasuhan (hadhanah), kemudian fase dimana sudah bisa membedakan baik dan buruk namun belum aqil baligh, semua fase setelah baligh yaitu tamyiz.

Maka dari itu, jelaslah bahwa murahaqah berbeda dengan pemuda. Murahaqah adalah merupakan penyakit dari berbagai penyakit masyarakat kapitalis.

Senada dengan yang disampaikan oleh Dr. Abdurrahman Al ’Aisawi dalam Sikolojiyah al Murohiq al Muslim al Mu’ashir, bahwa pertumbuhan seksual di usia murahaqah tidak mesti menyebabkan krisis. Tetapi sistem masyarakat hari inilah (kapitalisme-sekuler) yang bertanggung jawab terhadap krisis murahaqah.

Islam menetapkan adanya sanksi tegas dan tidak membedakan usia selama sudah baligh atau dilakukan dalam keadaan sadar. Maka, sudah jelas jika seseorang sudah baligh, saat itu juga mulai terkena taklif (beban) hukum syara’, atau orangnya disebut dengan mukallaf (orang yang terbebani hukum). Sehingga, saat seorang Muslim tidak mengerjakan yang wajib, atau melanggar yang haram, saat itu pula ia berdosa.

Mendidik generasi ibarat mempersiapkan lahirnya peradaban mulia. Generasi emas tidak lahir dari pendidikan yang sarat capaian-capaian duniawi semata, apalagi yang terlibat perbuatan kriminal. Generasi emas hanya lahir dalam sistem pendidikan yang bervisi membentuk kepribadian mulia.

Sistem yang mampu menciptakan generasi semacam ini hanyalah sistem pendidikan berbasis Islam. Bukti nyatanya adalah peradaban Islam yang agung mampu berdiri kokoh selama lebih dari 13 abad mewujudkan generasi brilian, beriman, dan bertakwa.

Apa rahasia kesuksesan tersebut? Dikutip dari muslimahnews.net, ada tiga yaitu:

Pertama, sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam diselenggarakan oleh negara dan menjadi kurikulum inti di sekolah-sekolah. Tujuan kurikulum berbasis akidah Islam adalah membentuk generasi yang memiliki pola pikir dan sikap yang sesuai dengan Islam.

Negara menjadikan pendidikan sebagai layanan gratis yang dapat dinikmati seluruh anak di pelosok negeri. Dengan pendidikan gratis, fasilitas yang memadai, tenaga guru profesional, dan kurikulum berasas akidah Islam, tentu akan menjadi perpaduan apik dalam menciptakan generasi unggul dalam imtak (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Kedua, menerapkan sistem sosial dan pergaulan islam. Di antara ketentuan islam dalam menjaga pergaulan di lingkungan keluarga dan masyarakat ialah: (1) kewajiban menutup aurat dan berhijab syar’i; (2) larangan berzina, berkhalwat (berduaan dengan nonmahram), dan ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan).

Ketiga, optimalisasi lembaga media dan informasi dengan menyaring konten dan tayangan yang tidak mendukung bagi perkembangan generasi, seperti konten porno, film berbau sekuler liberal, media penyeru kemaksiatan, dan perbuatan apa saja yang mengarah pada pelanggaran terhadap syariat Islam. Wallahu ‘alam.[]

Comment