by

Anak Telantarkan Seorang Ibu, Terlalu!

 

 

Oleh : Irma Legendasari, Guru

__________

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Peribahasa ini benar adanya, Cinta kasih anak kepada ibu tidak sebanyak cinta kasih ibu kepada anaknya.

Belum lama ini, warganet kembali dihebohkan dengan berita viral kisah seorang ibu yang dititipkan tiga anaknya ke Panti Jompo Malang menjadi bahan perbincangan di media sosial.

Menurut penuturan Ibu Trimah ( ibu yang dititipkan di Panti Jompo), awalnya ia tidak diberitahu bahwa dirinya akan dititipkan ke Panti Jompo. Ia diantarkan oleh anak-anaknya ke panti khusus lansia di Griya Lansia Husnul Khatimah di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Saat tiba ibu Trimah mengaku hanya pasrah mengikuti kehendak anak-anaknya meski mengaku kecewa. ( Kompas.com. 2/11/2021)

Menanggapi hal itu Sosiolog Fisipol UGM Wahyu Kustiningsih, S.Sos. M.A. mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa kasus yang dialami ibu Trimah adalah salah satu implikasi dari adanya perubahan struktur demografi masyarakat. Di antaranya alasan mobilitas, orang -orang mencari kerja di luar kota bahkan ke luar negeri sehingga harus meninggalkan orangtua nya, atau ada yang beralasan keterbatasan ekonomi sehingga tidak sanggup untuk untuk membiayai, maka dicarilah panti yang gratis. ( Kompas.com. 2/11/2021).

Miris sekali, lagi- lagi pemberitaan seperti ini sudah dianggap biasa. Tidak ada rasa bersalah atau takut dengan dosa. Padahal, segala kesusahannya seorang ibu dirasakan mulai dari mengandung, melahirkan, merawat bahkan sampai membesarkan seorang anak tanpa keluh kesah, semua dijalani dengan bahagia dan ikhlas.

Beda dengan anak, pada saat dia sudah dewasa, orangtuanya mulai menua dan terserang penyakit, selalu ada alasan dan syarat untuk merawat mereka.

Sungguh ironis. Hal ini terjadi tak lepas dari peran sistem kapitalis sekuler yang terlanjur mendarah-daging ditubuh umat saat ini. Sedini mungkin telah dicekoki ide-ide tentang HAM dan kebebasan, sehingga menghasilkan pribadi egois dan individualis yang jauh dari nilai-nilai dan adab islam untuk memuliakan orangtua, segala sesuatu hanya memandang dari sisi manfaat dan materi.

Berbeda pada saat keimanan dan ketaqwaan dijadikan sebagai landasan hidup. Memuliakan orangtua adalah kedua tingkatannya setelah Allah SWT. Dikisahkan dari seorang sahabat, Uwais al Qarni. Dia seorang yatim dan hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh di Yaman.

Uwais adalah sosok pemuda yang sholeh dan sangat memuliakan ibunya. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Sang ibu yang sudah tua sangat ingin sekali pergi haji.

Padahal dengan kondisi ketika itu yang tak ada uang, Uwais merasa berat untuk memenuhi keinginan sang Ibu. Singkat cerita dengan penuh perjuangan akhirnya tiba di tanah suci, Uwais al Qarni dengan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan Thowaaf di Kabah. Di depan Kabah air mata sang Ibu tumpah. Uwais pun berdoa, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu.”

Kisah ini menjadikan pembelajaran , begitu dimuliakannya seorang ibu di dalam Islam.

Mengapa hal itu bisa terjadi? karena pendidikan dalam Islam sangat mengutamakan penguatan akidah serta pembentukan pribadi tangguh yang memiliki pola fikir dan pola sikap sempurna sehingga menghasilkan generasi yang dapat menghormati orangtua, menyayangi yang lebih muda, menghargai sesama manusia.

Memahami wajibnya berbuat baik dan memuliakan orangtua. Sesuai dengan firman Allah, bahwa “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”. (QS. An Nisa 35). Kemudian dijelaskan bahwa “…dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. “…dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik saya waktu kecil”.(Al Isra’:23-24).

Oleh karena itu, tidak akan diragukan lagi jika sistem Islam diterapkan dengan sempurna maka jangan heran akan lahir “Uwais al Qarni” milenial yang selalu menghormati dan memuliakan orangtuanya. Tidak akan ada lagi cerita anak yang tega menelantarkan orangtuanya.Wallahu a’lam bisshowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita