by

Apt. Siti Jubaidah, M.Pd*: Klaim Obat Corona, Peran Pemerintah Dan Tradisi Penelitian Dalam Islam

-Opini-183 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Viral klaim obat Corona dari Hadi Pranoto seorang warga yang mengaku professor ahli mikrobiologi sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19 dalam video youtube musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji, yang diunggah pada 31 Juli 2020.

Video ini merupakan salah satu contoh klaim obat antivirus yang sebelumnya pernah kita dengar klaim serupa, kalung eucalyptus yang akan diproduksi Kementerian Pertanian (Kemtan) sebagai antivirus corona. Video ini kemudian menjadi viral dan kontroversi di masyarakat.

IDI hingga Satgas Covid mengecam tapi masyarakat terlanjur tidak bergeming pada pemerintah. Lambannya penanganan pemerintah terhadap wabah covid 19 makin terlihat dari terus berkembangnya pandangan meremehkan bahaya virus.

Dilansir laman kompas.com (2/8/2020), lebih dari 18 juta orang terinfeksi virus corona sejak pertama kali muncul di Kota Wuhan, China. Dari angka itu, 11,3 juta pasien di antaranya dinyatakan sembuh dan 689.070 meninggal dunia.

Sementara data yang dirilis oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Rabu (5/8) menunjukkan kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 116.871 kasus, dengan total kesembuhan pasien sebanyak 73.889, sedang kematian akibat Covid-19 sebanyak 5.542. (Merdeka.com 5/8/2020).

Kendati demikian, banyak pihak yang meragukan bahwa wabah virus corona benar-benar berbahaya.

Fenomena ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak maksimal meyakinkan publik terhadap bahaya virus dan sekaligus menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk menemukan obat atas virus.

Bagaimana pandangan penelitian dalam islam?

Merujuk dari nasihat Imam Al-Ghazali di dalam kitab Bidayatul Hidayah “jika seseorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian, atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri, dan telah menjual akhirat dengan dunia”.

Dalam aturan Islam, pendidikan merupakan sarana untuk menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga manusia memiliki adab dan perilaku yang mulia.

Di masa Islam, para ahli melakukan riset tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk menguji hipotesis. Lebih dari itu, ketakwaan yang menjadi dasar mereka dalam riset telah menghadirkan dorongan ruhiyah yang membuat mereka takut untuk menyampaikan sesuatu yang belum terbukti kebenarannya, tidak berbasis pada bukti, termasuk tak akan menyemat sebagai ilmuwan gadungan yang menjual mimpi kesembuhan lewat dalih dan interpretasi pribadi tanpa ilmu.

Buku berjudul Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern karya sejarawan Ehsan Masood mengungkapkan, salah satu ciri periode pembangunan Islam yakni menyerap keunggulan peradaban lain, memodifikasi, dan melakukan inovasi. Islam kemudian melahirkan sejumlah ilmuwan terkemuka di bidang sains dan teknologi.

Jikalau saat ini ada semacam budaya akademik yang menyatakan bahwa jika ingin mengetahui jejak keilmuan seseorang termasuk mengetahui sumber penelitian yang kredibel, kita dapat merujuk pada jurnal ilmiah yang dipublikasikan, institusi atau lembaga yang menaungi penelitian tersebut, dan siapa saja orang yang melakukan penelitian.

Maka dalam Islam pun mekanisme seperti ini dijalankan. Tetapi tidak pada saat era kapitalisme ini, penelitian didukung oleh korporasi semata-mata untuk materi.

Seorang peneliti atau ilmuwan adalah mereka yang memiliki kredibilitas dan kapasitas meneliti yang dapat dilihat dari pendidikan dan hasil riset yang dilakukannya. Islam sangat menghargai para ahli termasuk karya mereka. Bahkan ilmuwan pada masa Islam dikenal ahli tidak hanya dalam satu perkara saja, melainkan dalam berbagai disiplin ilmu.

Keilmuan dalam peradaban Islam tidak bersifat sempit yang membutakan mereka untuk merambah khazanah ilmu yang lain. Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim pertama yang mahir berbahasa Yunani selain bahasa Arab. Dalam dunia barat Al-Kindi diberi nama Al-Kindus yang akhirnya banyak membuat orang tidak tahu bahwa beliau adalah muslim. Dengan pemikiran cemerlangnya, Al-Kindi dikenal sebagai ilmuwan serba bisa meliputi ilmu pengobatan, farmakologi, astrologi, matematika, optic, zoology, meteorology dan gempa bumi.

Tradisi riset ini tentunya didukung dan ditopang penuh oleh negara. Negara sangat memahami bahwa ilmu adalah cahaya, pelita yang membakar kebodohan. Maka dengan kesadaran akan pentingnya ilmu, negara tidak hanya memfasilitasi riset para ahli yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tetapi juga berperan dalam mendistribusikan buah pikir para ahli tersebut kepada masyarakat.

Negara memahami betul bahwa falsafah pengurusan persoalan umat salah-satunya adalah dengan melayani kebutuhan umat secara praktis, sederhana, cepat dan terpercaya.

Dalam memenuhi kebutuhan umat, tentu dibutuhkan para ahli, baik di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dll.

Khubaro/para ahli dalam kekhilafahan Islam akan membantu negara menunaikan tugas dan kewajibannya. Demikianlah gambaran hubungan harmonis antara negara, ilmuwan dan masyarakat.

Tentu pemandangan ini sangat kontras dengan kondisi di mana kapitalisme sekuler diterapkan. Riset yang tidak memiliki visi, juga dukungan negara yang sangat minim, telah berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam mengurusi kebutuhan mereka.

Ditambah lagi dengan rendahnya minat masyarakat terhadap ilmu karena berbagai macam sebab. Belum lagi komersialisasi hasil riset oleh korporasi, kian menambah gambaran kelam dunia pendidikan kita.

Alhasil, di tengah masyarakat terjadi kebingungan, hendak merujuk kepada siapa saat menghadapi masalah. Kepada para ahli, atau “orang pintar”?

Inilah akibat dari ketiadaan visi politik negara.

Dari sini terlihat sangat nyata bahwa Islam mencetak generasi cerdas dan bertaqwa. Karya mereka dijadikan sebagai peletak dasar ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, bukan menjadikan ilmu hanya sebatas materi dalam jangka pendek.

Kecerdasan yang dimiliki para Ilmuwan Muslim tidak sebatas ilmu duniawi saja tetapi ilmu agama mereka miliki untuk pertanggung jawaban kepada sang Khalik.Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

*Dosen STIKES Samarinda

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 2 =

Rekomendasi Berita