by

Diana Nofalia, S.P*: Kecemburuan Berujung Maut

-Opini-58 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seorang pemuda yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) nekat membunuh pacar sendiri hanya karena cemburu.

Pria di bawah umur itu tega menghabisi nyawa sang kekasih yang juga siswi SMA di rumah kontrakannya di Rancaekek, Kabupaten Bandung pada Rabu 5 Agustus 2020 kemarin.

Korban dihabisi dengan cara dijerat lehernya selama dua menit. Setelah meninggal dimasukan ke dalam karung dan diikat, lalu ditinggal begitu saja di rumah kontrakan.

Aksi kejinya terbongkar usai ibu pelaku curiga ketika menemukan sebuah karung terikat di dalam kontrakan.

Kutipan berita diatas, membuat kita sebagai orang tua merasa sesak. Dalam hal ini kita juga tidak bisa mengambil kesimpulan “ah itu karena didikan orang tuanya aja yang nggak bener”.

Masalahnya tidak segampang itu kita menyalahkan orang tua sang anak. Setiap orang tua tentunya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi sistem ini memaksa orang tua untuk mencari sesuap nasi saja harus pontang-panting. Belum lagi mencari pekerjaan di negeri tercinta ini sangatlah susah.

Walaupun ada juga yang mendapatkan pekerjaan dengan cara yang jujur tapi lewat cara sebaliknya sangatlah banyak. Ibarat kata ada test juga ada tas (uang suap). Dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Dalam mencari nafkah kadang tidak hanya melibatkan sang ayah tapi juga kadang melibatkan ibunya karena bisa jadi uang dari kepala rumah tangga yang terkadang tidak mencukupi untuk biaya kebutuhan hidup. Akhir kata pengasuhan dan kontrol terhadap anak jadi terabaikan.

Keadaan di atas diperparah oleh lingkungan yang mulai kronis dengan penyakit individualisme. Tak adanya kontrol lingkungan membuat generasi saat ini semakin menjadi-jadi. Bahkan sebagai seorang pendidik saya pernah mendapati seorang rekan kerja di sekolah mengatakan kepada murid “tidak apa apa pacaran, asalkan bisa menjaga dan jadikan itu motivasi untuk belajar”.

Sungguh nasihat yang sangat amat menyesatkan untuk anak didik. Allah saja melarang mendekati zina/pacaran (Al-Isro:32), kenapa sebagai manusia membolehkan?

Selain pendidikan orang tua, lingkungan, wewenang negara juga sangat berpengaruh dalam menjaga generasi ini. Dengan gampangnya mengakses situs-situs yang berbau syahwat tentu akan merusak generasi bangsa ini.

Tontonan di televisi yang tidak mendidik lulus sensor begitu saja. Belum lagi iklan-iklan yang menonjolkan pornoaksi melintas begitu saja di layar televisi.

Kenapa tiga faktor diatas tidak berfungsi dengan baik? Karena aturan Allah tidak lagi menjadi patokan dalam menetapkan sebuah perkara/hukum. Islam yang harusnya kita yakini sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta harusnya kita terapkan dalam institusi yang menjamin penerapannya secara kaffah.

Aturan syariat Islam akan menjadi Rahmat jika aturan tersebut dijalankan. Tapi kenyataannya saat ini aturan Islam dipertanyakan dan dipertentangkan. Bahkan jika ada sekelompok/organisasi yang inginkan penerapannya akan disebut kelompok yang radikal.

Semua masalah yang kita hadapi di negeri ini, solusinya ada dalam syariat Islam itu sendiri. Dan menerapkannya adalah sebuah kewajiban.[]

*Sarjana pertanian IPB

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + five =

Rekomendasi Berita