Asap Konflik Hormuz Sampai di Tungku Kami

Opini620 Views

Penulis: Vie Dihardjo | Alumnus Hubungan Internasional UNEJ

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hormuz nun jauh di sana. Ia hanya selat kecil di antara peta-peta dunia, tempat kapal-kapal berlalu-lalang membawa energi bagi berbagai negeri. Namun, ketika konflik memanas di kawasan itu, getarannya terasa hingga ke dapur-dapur kecil rakyat biasa.

Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam fasilitas nuklir serta militer Iran, termasuk kawasan Bandara Abbas dekat Hormuz pada 13 Februari 2026, Iran mulai membatasi pelayaran dan memberikan peringatan kepada kapal asing. Sekitar 150 kapal sempat tertahan. Ketegangan terus meningkat hingga Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang dianggap sebagai musuh pada 2 Maret 2026.

Perkembangannya, pada 17 April 2026 Iran mengumumkan pembukaan terbatas jalur Hormuz. Namun, ketegangan kembali meningkat hingga akhir April. Dampaknya, aktivitas pelayaran masih rendah, sementara ribuan pelaut dan ratusan kapal tetap tertahan. Hingga hari ini, secara teknis, Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.

Dampaknya terasa secara global. Harga-harga perlahan naik, ongkos angkut meningkat, dan harga kebutuhan pokok berubah tanpa aba-aba. Di pasar-pasar tradisional, para ibu rumah tangga kembali menghitung ulang pengeluaran belanja. Harga minyak goreng, telur, hingga elpiji terasa semakin berat dijangkau dibanding sebelumnya. Rakyat dihadapkan pada pilihan sulit antara kebutuhan dapur, biaya pendidikan, kesehatan, hingga tagihan harian.

Selat Hormuz mengajarkan bahwa dunia saling terhubung oleh kepentingan energi dan perdagangan. Ketika selat strategis itu diguncang konflik, rakyatlah yang pertama kali merasakan dampaknya, tetapi justru menjadi pihak terakhir yang didengar suaranya. Ada keluarga yang harus semakin keras berhemat, ada pula warga yang bahkan tidak memahami peta perang, tetapi tetap harus menanggung akibatnya.

Asap konflik Hormuz bukan lagi sekadar persoalan jalur kapal, minyak, atau strategi militer. Ia telah menjelma menjadi asap keresahan yang menguar dari tungku dapur rakyat kecil. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sebagian besar distribusi energi global melewati jalur tersebut. Ketika ketegangan meningkat, ancaman perang dan gangguan pelayaran otomatis menjalar ke seluruh sektor kehidupan, termasuk kehidupan sehari-hari masyarakat.

Jika pasokan minyak terganggu, harga minyak akan melonjak. Padahal, minyak memengaruhi hampir seluruh aktivitas ekonomi, mulai dari transportasi, industri, hingga distribusi barang.

Truk pengangkut sembako, kendaraan umum, hingga kapal logistik semuanya membutuhkan bahan bakar. Ketika harga BBM naik, ongkos distribusi ikut meningkat dan harga barang-barang pun terdorong naik. Sementara itu, kenaikan pendapatan rakyat tidak pernah secepat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Akibatnya, masyarakat dipaksa berhemat, mengurangi konsumsi, menunda kebutuhan, bahkan berutang demi bertahan hidup.

Lalu, mengapa konflik di Hormuz terus terjadi?

Selama dunia masih sangat bergantung pada minyak dan gas, Hormuz akan tetap menjadi pusat perebutan kepentingan global. Ironisnya, potensi konflik semakin besar ketika pengelolaan selat strategis dilakukan secara kapitalistik, yakni dipandang semata sebagai aset ekonomi dan jalur kekuasaan bernilai tinggi. Siapa yang menguasai jalur ini, akan memiliki kendali atas energi, tekanan ekonomi, sekaligus alat tawar politik dunia.

Konflik juga berpotensi terus dipelihara karena mendatangkan keuntungan besar dari bisnis perdagangan senjata bagi negara-negara produsen persenjataan, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan lainnya.

Ketika ketegangan terus berlangsung di jalur strategis tersebut, industri persenjataan, keamanan, dan energi akan meraup keuntungan besar karena belanja militer negara-negara di sekitar kawasan meningkat demi melindungi wilayah mereka.

Persaingan kekuatan global pada akhirnya bukan hanya soal perdagangan, melainkan juga soal dominasi militer. Kehadiran pangkalan militer, armada laut, dan aliansi keamanan membuat ketegangan seolah terus dipertahankan.

Minyak dan gas di kawasan Teluk merupakan sumber daya alam yang sangat bernilai. Kekuatan yang menguasai akses menuju sumber daya tersebut akan mengendalikan perdagangan energi global. Minyak bukan sekadar sumber energi, tetapi juga sumber kekuasaan. Perebutannya melahirkan konflik panjang, aliansi politik, hingga perlombaan militer.

Dalam sudut pandang kapitalistik, penjajahan modern hadir melalui penguasaan ekonomi, kendali energi, dan dominasi terhadap jalur strategis dunia. Hormuz pun menjadi simbol perebutan sumber daya alam oleh negara-negara besar yang pada akhirnya memengaruhi nasib jutaan rakyat, bahkan mereka yang tinggal jauh dari medan konflik.

Pengelolaan Hormuz demi Kemaslahatan Umum

Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Manusia berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selat Hormuz sebagai jalur vital semestinya dipandang sebagai amanah dari Allah yang harus dikelola demi mewujudkan kemaslahatan umum. Di antaranya dengan menjaga jalur perdagangan tetap aman, mencegah monopoli dan eksploitasi sumber daya, memastikan distribusi energi berjalan adil, serta mencegah energi dijadikan alat penindasan politik. Minyak dan gas seharusnya dikelola untuk kesejahteraan rakyat, bukan semata demi kepentingan pasar dan pemilik modal.

Islam menempatkan negara sebagai pelindung umat dan penjaga keadilan distribusi. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Imam adalah pemelihara rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Alih-alih bersifat eksploitatif, negara yang berlandaskan nilai Islam akan membangun kekuatan dan teknologi maritim yang canggih dengan menyatukan potensi negeri-negeri Muslim. Tujuannya bukan untuk merampas atau menindas, melainkan untuk mencegah perompakan, menjaga keamanan jalur perdagangan, serta mewujudkan kemaslahatan umum.

Berbagai selat strategis di negeri-negeri Muslim juga dapat dikoordinasikan melalui satu visi bersama guna menghindari konflik antarwilayah. Negara akan menjalin perjanjian dengan negara-negara lain dalam pemanfaatan jalur strategis tersebut, kecuali dengan pihak-pihak yang memerangi Islam.

Ketika kekuatan dibangun di atas pondasi iman, armada dan teknologi maritim tidak lagi menjadi alat penindasan bangsa lain, melainkan sarana untuk melindungi hak manusia atas keamanan, kesejahteraan, dan keadilan.

Saat dunia dipenuhi asap konflik Hormuz demi minyak, keuntungan, dan perebutan sumber daya alam, Islam menawarkan jalan berbeda: bahwa kekuatan sejati bukan sekadar kemampuan menguasai selat strategis, melainkan kemampuan menghadirkan rahmat bagi seluruh makhluk di muka bumi. Inilah visi global Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment