Banjir dan Deforestasi: Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam

Opini52 Views

Penulis: Nurul Aflah Tarigan, S.Pd., Gr. |  Pendidik dan Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Indonesia dianugerahi hutan hujan tropis dengan keanekaragaman hayati yang diakui dunia. Hutan sejatinya berfungsi sebagai pelindung bumi, penyangga kehidupan, sekaligus penjaga keseimbangan alam. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, fungsi luhur tersebut terus tergerus oleh laju deforestasi yang masif dan berkelanjutan.

Kerusakan hutan bukanlah semata peristiwa alam, melainkan berkaitan erat dengan kebijakan pengelolaan ruang yang membuka peluang eksploitasi sumber daya secara berlebihan.

Penerbitan konsesi berskala besar serta alih fungsi lahan yang tidak terkendali telah membuat kawasan hutan kehilangan perannya sebagai daerah resapan air. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk bencana ekologis yang berulang.

Sebagaimana ditulis Detik.com (2/12/2025), banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, menimbulkan korban jiwa serta kerugian material yang tidak sedikit. Data menunjukkan bahwa kondisi hutan di provinsi ini telah mengalami degradasi serius sehingga daya dukung lingkungan kian melemah.

Citra satelit bahkan memperlihatkan deforestasi signifikan, termasuk di kawasan daerah aliran sungai yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga banjir.

Sebagaimana dilaporkan Indonesia Business Post (1/12/2025), banjir besar yang terjadi tidak semata disebabkan oleh tingginya curah hujan, melainkan juga oleh perubahan tutupan lahan dan fragmentasi hutan yang masif.

Hal ini diperkuat oleh laporan Mongabay (15/12/2025) yang menegaskan bahwa hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap air menyebabkan hujan lebat dengan cepat berubah menjadi bencana.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa banjir yang berulang bukan sekadar fenomena alam, melainkan konsekuensi dari pengelolaan ruang yang abai terhadap prinsip keberlanjutan. Alam yang seharusnya menahan dan mengatur aliran air kini kehilangan kemampuannya, sehingga sungai yang dahulu menopang kehidupan justru berubah menjadi sumber ancaman.

Dalam perspektif nilai dan etika, alam tidak dapat dipandang semata sebagai objek ekonomi. Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang menuntut keseimbangan. Islam memandang alam sebagai amanah yang mengandung tanggung jawab moral.

Prinsip ini menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian serta keadilan antargenerasi.
Sayangnya, setiap kali bencana terjadi, penjelasan kerap berhenti pada faktor cuaca ekstrem.

Padahal, sebagaimana dilansir Antara News, berbagai kajian menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem di wilayah hulu sungai serta menyusutnya tutupan hutan menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir.

Dengan kata lain, bencana tersebut tidak dapat dilepaskan dari pilihan kebijakan dan pola pembangunan yang dijalankan.
Situasi ini menegaskan bahwa solusi teknis semata tidaklah cukup.

Dibutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola alam—dari pendekatan eksploitatif menuju pendekatan yang berorientasi pada keberlanjutan. Islam menawarkan kerangka nilai yang menempatkan manusia sebagai penjaga bumi, bukan sekadar pengguna sumber daya.

Prinsip-prinsip Islam menekankan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Hutan dipandang sebagai kepentingan bersama yang harus dijaga demi keberlangsungan hidup masyarakat luas. Ketika prinsip ini diabaikan, kerusakan lingkungan pada akhirnya akan kembali merugikan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, momentum bencana seharusnya menjadi ruang refleksi bersama untuk menata ulang relasi manusia dan alam. Pengelolaan sumber daya yang adil, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang perlu menjadi agenda bersama. Tanpa perubahan mendasar dalam cara pandang dan kebijakan, bencana ekologis akan terus berulang.

Pada akhirnya, menjaga alam bukan hanya soal teknis pembangunan, melainkan juga soal komitmen moral dan nilai. Ketika manusia mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari ekosistem—bukan penguasanya—keseimbangan alam dapat terjaga dan kehidupan pun berjalan lebih berkelanjutan.[]

Comment