Banjir Sumatera: Luka Alam di Bawah Nafsu Kapitalisme

Opini314 Views

Penulis: Yusriani Rini Lapeo, S.Pd. | Aktivis dan Pemerhati Sosial

 

RADARINDONESIANEWS.COM.JAKARTA – Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada bencana yang menimpa manusia kecuali karena perbuatan tangan mereka sendiri.” (HR. Tirmidzi).

Hujan berkepanjangan dan cuaca yang kian tak menentu menjadi realitas yang semakin sering kita hadapi di negeri tropis ini.

Namun, yang jauh lebih memprihatinkan adalah betapa banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah—Sumatera, Kalimantan, Sumbar, Aceh, hingga Sulawesi Tenggara.

Di beberapa wilayah, kerusakan ini bahkan tampak telanjang dan tak lagi bisa disembunyikan.

Di Sulawesi Tenggara, misalnya, sejak industri tambang masuk dan menggusur ruang hidup masyarakat, dampak buruknya terus menganga. Gunung dan hutan yang dulu menjadi sumber oksigen dan penyangga ekosistem kini dikeruk habis demi ambisi cuan para bedebah negeri. Laut yang menjadi sumber nafkah masyarakat pesisir pun ikut tercemar dan merana.

Ketika Alam Membalas

Bencana kembali menghantam Sumatera. Setelah banjir dan longsor di Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah pada 25 November 2025, hanya sehari berselang banjir bandang kembali menerjang Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, pada 26 November 2025 pukul 13.00 WIB. Peristiwa ini menelan korban 11 orang—2 meninggal dunia, 4 luka-luka, dan 5 masih hilang.

Alam selama ini diam, tetapi kejujurannya terlalu telanjang untuk disangkal. Gelondongan kayu yang hanyut bersama arus banjir adalah isyarat keras: hutan sudah tak lagi memberi tempat hidup bagi dirinya sendiri.

Apa yang selama ini tak terlihat akhirnya terungkap: betapa menyedihkan kondisi hutan yang dibabat untuk aktivitas illegal logging dan eksploitasi kapitalistik lainnya.

Alam Rusak di Tangan Kapitalisme

Banjir dan longsor memang fenomena alam, tetapi kerusakan parah yang memperparah dampaknya adalah hasil tangan manusia—terutama mereka yang hanya menjadikan alam sebagai objek eksploitasi.

Kapitalisme yang rakus menciptakan:

1. Penebangan hutan liar
Indonesia kehilangan lebih dari satu juta hektare hutan setiap tahun. Hutan-hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia dirampas demi keuntungan sesaat.

2. Pertambangan ilegal
Kalimantan dan Sumatera menjadi saksi bisu bagaimana tambang ilegal merusak tanah, air, dan kehidupan masyarakat adat.

3. Perkebunan besar yang rakus lahan
Ekspansi sawit dan karet menghapus hutan, menyingkirkan satwa, dan memicu konflik struktural dengan masyarakat adat.

4. Korupsi
Kerusakan lingkungan tak pernah berdiri sendiri—di belakangnya ada para pejabat yang menerima suap, melegalkan pembabatan hutan, dan menutup mata terhadap kejahatan lingkungan.

Akibatnya jelas: perubahan iklim makin brutal, biodiversitas hilang, emisi gas rumah kaca meningkat, dan kehidupan sosial masyarakat rusak. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, terjerat konflik lahan, hingga terperosok dalam kemiskinan baru yang diciptakan oleh sistem yang lalai dan serakah.

Jika alam bisa bicara, mungkin ia akan berkata, “Ini bukan salahku. Ini akibat keserakahan yang membunuh fungsiku melindungi kalian.”

Negara yang Lalai, Sistem yang Cacat

Pemerintah terlalu sering abai. Pengawasan terhadap eksploitasi alam lemah, izin tambang dan pembukaan lahan mudah keluar, sementara dampaknya dibiarkan menumpuk menjadi bencana. Inilah cacat mendasar kapitalisme: keuntungan menjadi orientasi utama, sementara alam dan manusia hanya menjadi korban sampingan.

Tak heran, banyak pihak mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera menetapkan banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah sebagai bencana nasional.

Islam Memiliki Jawabannya

Allah menciptakan alam ini dengan keseimbangan yang sempurna. Hujan, matahari, air, tumbuhan—semuanya hadir dengan takaran dan tujuan. Karena itu, Allah memperingatkan:

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) mengaturnya dengan baik…” (QS. Al-A’raf: 56).

Dan lagi: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

Islam bukan hanya memberi peringatan, tetapi menawarkan sistem pengelolaan lingkungan dan bencana yang benar-benar berpihak pada manusia dan alam. Di masa lalu, pemerintahan Islam  memiliki manajemen bencana yang terorganisir, mulai dari pembangunan bendungan, kanal, sistem irigasi, hingga tim tanggap darurat yang cepat bergerak ketika musibah terjadi.

Khalifah Umar bin Khaththab menjadi teladan: saat paceklik melanda Jazirah Arab, ia tidak tidur sebelum memastikan rakyatnya cukup makan.

Semua itu lahir dari iman, bukan kepentingan uang atau kekuasaan. Allah menegaskan: “Maka ingatlah nikmat Allah dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).

Sistem yang mengatur sebuah negeri akan menentukan arah kebaikan atau keburukan bagi pemimpinnya dan rakyatnya. Kerusakan alam hari ini bukan sekadar musibah, tetapi cermin dari sistem ekonomi yang menindas dan pengelolaan negara yang lalai.

Semoga Allah melindungi saudara-saudara kita yang tengah berduka akibat bencana ini, dan semoga kita termasuk orang-orang yang tergerak untuk membantu dan mengambil pelajaran. Aamiin. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment