by

Bastian P. Simanjuntak: Waspadai Kecurangan Putaran Dua Pilgub Jakarta Oleh

Bastian P Simanjuntak.[Fot/Don Zakiyamani]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ahok-Djarot bersama tim pemenangannya dua hari yang lalu (4/3/2017) walk-out dari acara Rapat Pleno penetapan pasangan calon putaran kedua yang diadakan KPU DKI Jakarta, di Hotel Borobudur. Argumen pembenaran yang digunakan Ahok-Djarot ialah KPUD bekerja tidak sesuai undangan, dan polemik antara kedua pihak menghiasi media-media nasional.

Sehari kemudian Ketua KPU DKI memberi pernyataan terkait DPT untuk putaran dua pilgub DKI. Sekilas dua peristiwa ini tidak memiliki benang merah sama sekali, akan tetapi kita harus keluar dari framing dan pengopinian yang dilakukan media maupun tim pemenangan bahkan oleh KPU DKI. Mari kita uraikan satu demi satu maksud dari manuver politik yang dilakukan Ahok-Djarot serta kaitannya dengan DPT dan DPTb.

Pertama saya mengajak anda berpikir secara logis-empiris sehingga akan kita dapati modus serta ada  indikasi rekayasa prilaku politik yang dilakukan Ahok-Djarot. Tujuannya untuk mengelabui kita semua, seolah-olah mereka benar-benar berkonflik dan kebanyakan dari kita pun sangat yakin itu benar adanya, akan tetapi tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan jejak.

Kasus Ahok dan KPUD meninggalkan jejak yang cukup jelas karena lemahnya argumen yang dibangun. Alasan molornya acara sehingga walk-out karena ada urusan lain adalah argumen yang sangat nyata rekayasa. Buktinya apa? selepas walk-out mereka melakukan konferensi pers yang itu sangat nyata sudah disiapkan hingga salah satu TV Nasional kemudian menyalahkan KPUD dan paslon lain.

Polemik antara Ahok dan KPUD kemudian mampu membuat publik lupa dan tidak fokus pada DPT dan DPTb yang dapat menjadikan demokrasi kita buruk muka. mengapa? Kita harus kembali membuka catatan DPT pada putaran pertama pilgub DKI. Pada putaran pertama keabsahan DPT sepenuhnya dilakukan oleh RT/RW yang notabenenya diduga kuat merupakan pendukung paslon nomor urut dua, bahkan untuk DPT putaran pertama harusnya kita pertanyakan dan kali ini KPUD nyaris melakukan hal yang sama. KPUD membuka posko di Kelurahan terkait DPT dan DPTb serta kewenangan sepenuhnya milik kelurahan walaupun KPUD mengatakan PPS yang lakukan, bukankah PPS direkomendasikan Ketua RT?

Menariknya baru-baru ini Ketua RT/RW wilayah Jakarta Utara dijamu oleh salah satu anggota DPRRI yang merupakan pendukung paslon nomor urut dua ke puncak. Tentu saja ini menjadi indikasi petinggi kelurahan di Jakarta Utara akan terinfiltrasi dan bisa saja tidak netral, akibatnya ini bisa merusak demokrasi kita. Kebijakan KPUD DKI yang menyerahkan sepenuhnya pada kelurahan seolah tidak bercermin dari amburandulnya verifikasi DPT dan DPTb pada putaran pertama. KPUD tidak pernah melakukan investigasi intensif terkait DPTb pada putaran pertama, apakah sah atau tidak.

Memasuki verifikasi DPT dan DPTb putaran kedua pilgub DKI persoalan yang sama akan muncul lagi. Menurut Sumarno (Ketua KPUD Jakarta) jumlah DPT dan DPTb akan bertambah, bila DPTb putaran pertama tidak diverifikasi dan langsung dijadikan DPT maka ini merupakan pembiaran kecurangan. Selain itu bagi pemilih potensial (pemilih usia 17 tahun saat putaran kedua) yang nantinya menggunakan Surat Keterangan, ini pun berpotensi menjadi celah kecurangan dengan melibatkan petinggi kelurahan karena Bawaslu sendiri tidak menjalankan tupoksinya secara ideal. 

Inilah yang harus kita waspadai bersama, mengingat penyelenggara di tingkat kelurahan apalagi jabatan lurah yang dilelang diduga tidak netral dan mendukung paslon nomor urut dua. Bila ini dibiarkan maka akan terjadi apa yang sering kita dengar dengan kecurangan terstruktur, massif dan sistematis serta terencana. Terstruktur karena dimulai dari ‘sandiwara’ politik yang dimainkan Ahok-KPUD dan dilanjutkan penyelenggara tingkat kelurahan, massif karena dilakukan bersama dan akhirnya akan sistematis. Inilah yang saya maksud diatas apa benang merah rekayasa konflik Ahok dan KPUD dengan penetapan DPT dan DPTb yang sepenuhnya diserahkan kepada kelurahan.[Don]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 2 =

Rekomendasi Berita