“Beli Sekarang Bayar Nanti Aja”, Jebakan Manis Para Kapitalis 

Opini1922 Views

 

 

 

Oleh: Nafeeza Syazani Alifiana, Relawan Opini Konsel Sulawesi Tenggara

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Teknologi digital berkembang sangat pesat, termasuk sektor keuangan dengan metode-metode pembayaran modern yang disebut Paylater (Bayar Nanti). Perkembangan pesat ini seharusnya dibarengi dengan edukasi dan kesiapan masyarakat. Sebab jika tidak memiliki pengetahuan dan tidak berhati-hati, menggunakan kemudahan transaksi dengan skema baru ini bisa menjebak dan menjerumuskan pada sikap konsumtif yang berakibat fatal pada menumpuknya hutang.

Laman republika.co.id (15/11/2022) menulis bahwa layanan “buy now, paylater” ini ternyata dinikmati para generasi muda. Terbukti dari hasil riset KataData Insight Centre melakukan survei pada 5.204 responden ada sebanyak 16,5 persen adalah generasi Y atau gen milenial dan 9,7 persennya gen Z yang menggunakan fitur paylater tersebut.

Kemudahan transaksi, cepat, dan efisien ini menjadi daya tarik yang digemari oleh gen milenial dan gen Z untuk membeli kebutuhan dan juga keinginan mereka. Kemudahan yang ditawarkan oleh penyedia layanan ini mengizinkan konsumen untuk membeli produk dan melakukan pembayaran secara berkala sesuai tenor dan suku bunga yang diberlakukan sehingga amat menggiurkan.

Namun bila tidak cermat dan bersikap konsumtif atau boros, kemudahan ini justru menimbulkan petaka hutang. Apalagi jika konsumen tidak memiliki penghasilan cukup atau bahkan mungkin belum memiliki pekerjaan akan kesulitan melunasi cicilan secara tepat waktu.

Nailul Huda peneliti Institute For Development Of Economic And Finance (Indef) mengatakan bahwa fitur paylater seringkali berakhir pada kegagalan pembayaran, disebabkan karena di antara para peminjam itu usianya di bawah 19 tahun dan masih belum memiliki pendapatan sendiri. Sehingga fenomena ini layak mendapat perhatian generasi muda untuk mengedepankan pola pikir sebelum bertindak apalagi jika hanya ingin membeli barang-barang yang menjadi keinginan semata dan bukan barang-barang prioritas yang menjadi kebutuhan dasar.

Bagi para pengguna fitur ini pun merasakan kesulitan. Rayuan manis dan iming-iming yang diberikan memang memudahkan proses pembelian namun hal tersebut membuatnya tergiur, terlena hingga terjebak untuk terus menerus membeli produk-produk yang lain sebagai bentuk perilaku konsumtif yang pada akhirnya membuat tagihan mereka membengkak karena tunggakan hutang, bunga dan denda jika telat membayar. Bahkan ada yang rela menjual barang-barang milik pribadinya, meminta uang kepada orang tua, meminjam pada teman untuk melunasi tagihan.

Fenomena jebakan paylater pada generasi muda ini menjadi bukti bahwa mereka tidak mampu mengendalikan diri sendiri. Mayoritas milenial dan gen Z terjebak pada penawaran yang nampak mudah dan serba digital yang dipengaruhi gaya hidup hedonisme dan konsumerisme. Hal ini menyebabkan mereka menjadi target pasar rentenir gaya baru oleh para kapitalis yang tak pernah berhenti mencari celah demi meraup keuntungan lewat jalur teknologi digital.

Demi mendapatkan banyak pelanggan, para kapitalis meluncurkan aplikasi-aplikasi pinjaman dengan mempermudah persyaratan pengajuan paylater dan cukup terverifikasi data serta persetujuan pengguna.

Hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah yang memberikan pengoperasian dengan syarat terdaftar di OJK. Kemudahan dan bunga rendah dinilai dapat membantu masyarakat membeli barang dianggap biasa. Padahal cara seperti ini adalah solusi tambal sulam yang membuat masyarakat membeli barang tapi sebenarnya tidak memiliki uang cukup yang kemudian berujung dengan penumpukan hutang.

Begitulah cara kapitalis menjebak masyarakat sehingga hidup mereka makin sulit dengan hutang. Mayoritas konsep pinjaman paylater mengandung riba dan menyulitkan penggunanya. Ha ini jelas tidak diperbolehkan dalam Islam. Islam memiliki cara yang jelas dalam upaya membentuk kepribadian masyarakat dengan pola pikir dan sikap yang sesuai dengan aturan Islam agar para pemuda terhindar dari gaya hidup hedonisme dan konsumtif. Islam mengajarkan mereka membeli sesuatu sesuai kebutuhan bukan keinginan.

Islam mengkondisikan masyarakatnya berkepribadian seperti itu dan menutup celah-celah licik para kapitalis sehingga masyarakat tidak terjebak dalam jeratan hutang melalui pinjaman yang mengandung riba. Wallahu A’lam.[]

Comment