BEM UI Gelar Aksi #MerebutKemerdekaan, Sampaikan 8 Tuntutan dan Terlibat Debat dengan Polisi

Politik89 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar unjuk rasa bertajuk #MerebutKemerdekaan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).

Aksi tersebut diikuti mahasiswa dengan mengenakan jaket almamater kuning. Massa bergerak menuju kawasan Bundaran HI untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Namun, perjalanan massa mendapat penghadangan aparat di sekitar kawasan Dukuh Atas dan koridor Jalan Jenderal Sudirman menuju Bundaran HI.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai media, massa mahasiswa sempat tertahan di sekitar kawasan UOB, Sudirman, ketika aparat membatasi pergerakan mereka menuju Bundaran HI.

Ketegangan kemudian terjadi ketika mahasiswa tetap berupaya melanjutkan aksi dan menggunakan mobil komando untuk menyampaikan orasi.

Situasi semakin tegang ketika Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, terlibat perdebatan dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung.

Perdebatan bermula ketika polisi meminta massa menghentikan pergerakan mobil komando. Reynold meminta mahasiswa tidak melanjutkan perjalanan menuju kawasan Bundaran HI.

Reynold menjelaskan kepolisian tidak melarang mahasiswa menyampaikan aspirasi. Namun, polisi meminta aksi tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan perkantoran di kawasan tersebut.

“Boleh menyampaikan aspirasi tanpa mengganggu aktivitas warga,” ujar Reynold.

Pernyataan tersebut kemudian dipertanyakan Fathimah. Ia meminta kepolisian menjelaskan secara spesifik pihak yang disebut terganggu oleh aksi mahasiswa.

Reynold menjawab bahwa kepolisian mengatur penggunaan jalur di kawasan Bundaran HI agar aktivitas masyarakat tetap berjalan.

Perdebatan berlangsung cukup alot. Fathimah menilai mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, sementara polisi tetap meminta massa tidak memasuki kawasan Bundaran HI karena mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan pekerja perkantoran.

Reynold kemudian meminta mahasiswa tidak memaksakan diri menuju kawasan tersebut.

Ketegangan lain terjadi ketika aparat melarang penggunaan mobil komando untuk menyampaikan orasi. Fathimah menyatakan kendaraan tersebut merupakan kendaraan yang dibeli menggunakan dana BEM UI yang bersumber dari urunan mahasiswa.

Menurut Fathimah, jika polisi keberatan terhadap keberadaan mobil komando tersebut, semestinya persoalan dibicarakan terlebih dahulu dengan mahasiswa.

Insiden tersebut sempat diwarnai aksi dorong-mendorong dan tarik-menarik antara aparat dengan Fathimah ketika ia hendak naik ke mobil komando. Setelah itu, Fathimah menegaskan bahwa keselamatan mahasiswa tetap menjadi prioritas dalam aksi tersebut.

Di tengah aksi dan ketegangan dengan aparat, BEM UI tetap menyampaikan delapan tuntutan yang menjadi dasar gerakan #MerebutKemerdekaan.

Delapan tuntutan tersebut adalah:

1.Menghentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri.

2. Menghentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

3. Mewujudkan reforma agraria sejati.

4. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM).

5. Mengevaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN) serta menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

6. Menghentikan pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), serta mengembalikan otonomi daerah.

7. Menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana.

8. Menghentikan represivitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta membubarkan Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP).

Fathimah mengatakan seluruh tuntutan tersebut memiliki tingkat urgensi yang sama bagi mahasiswa.

“Dari 8 tuntutan itu sebetulnya semuanya sama-sama mendesak,” kata Fathimah. Ia menyebut seluruh tuntutan tersebut sebagai “harga mati”.

Menurut Fathimah, benang merah dari delapan tuntutan tersebut adalah kekhawatiran terhadap semakin kuatnya kekuasaan tanpa mekanisme kontrol yang memadai.

Ia juga menyoroti pelaksanaan PSN serta program MBG yang menurut mahasiswa masih menyisakan persoalan dan membutuhkan evaluasi.

Peristiwa di kawasan Sudirman-Bundaran HI tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara mahasiswa dan aparat mengenai pelaksanaan aksi di ruang publik.

Mahasiswa menilai penyampaian aspirasi merupakan bagian dari hak warga negara, sedangkan kepolisian menekankan pentingnya menjaga aktivitas masyarakat, pekerja, lalu lintas, dan kawasan strategis Jakarta.

Meski sempat terjadi ketegangan, massa mahasiswa tetap menyampaikan aspirasi melalui orasi. Fathimah juga menegaskan bahwa BEM UI akan terus memperjuangkan tuntutannya dengan tetap memperhatikan keselamatan peserta aksi.

Dengan delapan tuntutan yang dibawa, aksi #MerebutKemerdekaan menjadi salah satu bentuk kritik mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari persoalan ekonomi, agraria dan pembangunan, hingga tata kelola kekuasaan serta keterlibatan aparat dalam ruang sipil.[]

Comment