by

Berhijab Bukan Sesaat, Tapi Bukti Taat

-Opini-46 views

 

Penulis: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd, Lingkar Studi Muslimah Bali

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Di zaman serba canggih ini tak ada yang tak mengenal istilah hijab, jilbab, gamis, dan sebutan-sebutan yang semisalnya. Inilah yang menunjukkan bahwa pemakaian hijab telah diakui dan digandrungi oleh sebagian besar kaum wanita, khususnya muslimah.

Namun bukan berarti eksistensi hijab saat ini hanyalah fenomena sesaat dan mengikuti trend saja. Lebih dari pada itu, penggunaan hijab bagi muslimah sejatinya adalah bukti ketaatannya kepada Tuhannya. Sebab alasan tertinggi yang harus dimiliki adalah alasan keimanan dan ketaatan terhadap hukum syara’.

Baru-baru ini diketahui ada seorang wanita bernama Bellahwa yang viral di aplikasi TikTok sebab pengakuannya yang suka mengenakan hijab meski dirinya bukan seorang muslimah.

Berasal dari Surabaya dan memiliki tante serta teman-teman yang muslim, dirinya mengaku sering dipakaikan hijab.

Karena merasa nyaman dengan memakai hijab, maka dia rela membeli hijab sendiri dan belajar menggunakannya dengan benar. Meski ada pro dan kontra, namun dia menanggapinya dengan biasa saja karena memang benar itulah yang dirasakannya saat berhijab (wollipop.detik.com, 12/6/2021).

Tapi di sisi lain, ada juga seorang wanita muslim yang telah memakai hijab bertahun-tahun, kemudian karena permasalahan tertentu dilepaskanlah hijabnya. Nampaklah rambut tergerai di hadapan laki-laki bukan mahramnya.

Lebih ironi lagi sejak baligh sampai dewasa dan sudah ditaklif hukum untuk menutup aurat, seorang wanita masih enggan menggunakan hijab karena alasan yang tak masuk akal atau sekedar menunda-nunda pelaksanaannya. Fenomena inilah yang masih banyak dijumpai di tengah masyarakat.

Jika yang bukan muslimah saja banyak yang mengaku nyaman menggunakan hijab, lantas apa kabar dengan orang yang sudah mengaku sebagai muslimah sejak lahir?

Masihkah menolak menggunakan hijab hanya karena alasan-alasan klasik yang familiar di telinga kita? Alasan belum siap lah, takut kepanasan lah, nanti diejek muka tembem lah, dan sejuta alasan pengelak yang biasa dilontarkan seseorang saat dinasihati untuk berhijab.

Ketahuilah wahai yang mengaku muslimah tapi belum berhijab, sesungguhnya hijab ini adalah perintah dari Sang Maha Rahman. Dia sangat menyayangi para hambaNya.

Dia tak ingin hamba-hambaNya terjerumus pada kesesatan dan masuk ke dalam neraka yang siksaannya sangat pedih. Sehingga diturunkanlah ayat tentang hijab ini agar para hamba ini terbebas dari fitnah dunia dan terjaga dari pandangan para lelaki mata keranjang.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) tampak pada diri mereka” [TQS an-Nur: 31].

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” [TQS. al-Ahzab: 59]

Batasan aurat wanita juga didasarkan pada hadis Nabi saw. dari Aisyah ra. bahwa Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah saw. dengan memakai pakaian yang tipis (jarang). Kemudian Rasulullah saw. pun berpaling dari dia dan bersabda:

“Wahai Asma’, sungguh seorang wanita itu, jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini.” Sambil Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangan beliau. (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian maka sejatinya tak ada lagi alasan-alasan untuk menolak perintah berhijab ini. Hijab ini pun juga menjadi identitas sebagai seorang muslim.

Meski begitu tidak dipungkiri bahwa hijab juga pernah dipakai oleh orang yang bukan muslim. Akan tetapi hal ini bukanlah menjadi pelanggaran hukum syara’ sebab dalam perkara makanan dan pakaian bagi kaum selain Islam, Islam telah membebaskannya untuk diatur sebagaimana agama mereka.

Sebagaimana catatan sejarah ketika Islam memimpin dunia. Terlihat bahwa antara pakaian muslimah dan pakaian wanita non muslim itu sama saja. Nampak menutup aurat dan tidak bertabarruj. Ada dua batasan yang diatur oleh Negara Islam dalam perkara pakaian untuk muslim ataupun yang non muslim.

Batasan pertama adalah sesuai agama mereka. Jadi Negara Islam membolehkan wanita non muslim untuk memakai pakaian berdasarkan agama mereka. Pakaian sesuai agama mereka adalah pakaian agamawati mereka, yakni pakaian rahib wanita. Ini adalah pakaian yang disetujui dalam agama mereka.

Adapun batasan kedua adalah “apa yang diperbolehkan oleh hukum-hukum syariat Islam”. Yaitu hukum-hukum kehidupan umum yang mencakup seluruh rakyat, baik Muslim maupun non Muslim, untuk laki-laki dan wanita. (tsaqofah.id, 22/8/2014).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam perkara pakaian antara muslim dan non muslim memang diatur, baik secara agama ataupun Negara.

Sehingga tak perlu lagi ada perdebatan yang hanya mengunggulkan emosi dan perasaan saja, tanpa memakai akal yang dibimbing oleh nash syara’. Sebab rasa ketidak-enakan inilah yang akan menutup hati kita dalam menerima hidayah yang diberikan Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)>

Yuk segera berhijab wahai saudaraku muslimah meski perasaan masih seperti gemuruh yang tak tahu kapan berhenti, tapi yakinlah bahwa itu tanda sayang Allah padamu. Wallahu a’lam bish showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita