Bersatu di Arafah Terpecah di Hari Raya

Opini1220 Views

Penulis: Poppy Kamelia P. BA(Psych), CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS | Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap kali musim haji tiba, ada getar haru yang menyelinap di dada miliaran Muslim. Jutaan saudara kita, dari setiap suku bangsa dan pelosok bumi, laksana lebah menuju sarangnya, berkumpul di Tanah Suci. Pakaian ihram putih yang seragam menanggalkan semua status duniawi.

Tak ada lagi si kaya atau si miskin, pejabat atau rakyat jelata. Yang ada hanyalah hamba Allah, berdiri, rukuk, dan sujud dalam satu shaf, di hadapan Ka’bah yang sama, dengan hati yang tertaut pada aqidah Islam yang luhur. Inilah miniatur persatuan umat yang begitu indah. Sebuah persatuan yang melampaui batas-batas artifisial ciptaan manusia.

Namun, sebuah paradoks yang menyesakkan seringkali hadir justru ketika spirit persatuan itu seharusnya paling bergelora, seperti pada momen Idul Adha. Bayang-bayang perbedaan kembali menghantui, bahkan dalam menentukan hari besar yang menjadi simbol pengorbanan dan ketaatan.

Kita semua tahu, Pemerintah Arab Saudi telah secara resmi mengumumkan bahwa pelaksanaan wukuf di Arafah untuk tahun 1446 H akan jatuh pada hari Kamis, 5 Juni 2025, yang berarti Hari Raya Idul Adha akan dirayakan pada Jumat, 6 Juni 2025. (Antaranews, 30/5/2025).

Ini adalah patokan bagi jutaan jemaah haji yang datang dari seluruh dunia, bersatu dalam ruang dan waktu di padang Arafah.

Ironisnya, di saat yang sama, di berbagai belahan dunia Muslim lainnya, termasuk di tanah air kita dan negara-negara tetangga yang tergabung dalam MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), potensi perbedaan tanggal Idul Adha kembali mengemuka.

Sebagaimana diulas Suara Muhammadiyah pada 1 Juni 2025, MABIMS sendiri berpotensi “pecah” dalam penetapan ini, menunjukkan betapa “kerapuhan narasi pemersatu” masih menjadi pekerjaan rumah besar kita.

Ormas Islam seperti Muhammadiyah, berdasarkan perhitungan hisab hakiki wujudul hilal, kemungkinan besar akan menetapkan Idul Adha pada 6 Juni 2025, sejalan dengan Arab Saudi.

Namun, pertanyaan besar yang dilansir Kontan dan berbagai media lain adalah: akankah Pemerintah RI dan Nahdlatul Ulama (NU) serta negara MABIMS lainnya sepakat, ataukah kita akan kembali menyaksikan perbedaan yang mengusik ketenangan batin umat?

Ahli dari BRIN pun telah mengemukakan adanya potensi perbedaan ini, yang seolah menjadi langganan tahunan. (Beritanasional.com, 16/5/2025)

Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Di satu sisi, kita merindukan persatuan global, di mana hampir dua miliar Muslim menjadi kekuatan dunia yang disegani. Kita berbangga dengan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah) yang katanya tak mengenal batas negara.

Namun, untuk menyepakati satu hari raya saja, kita masih sering terjebak dalam ego sektoral, perbedaan metode, atau bahkan kepentingan politis sesaat.

Energi kita terkuras dalam perdebatan yang seharusnya bisa diminimalisir jika ada kemauan politik dan kebesaran jiwa dari semua pihak untuk merujuk pada standar yang lebih menyatukan.

Sementara kita sibuk dengan perbedaan internal, kita seringkali lupa atau pura-pura lupa akan derita saudara-saudara seiman kita di Palestina yang terus membara, di Rohingya yang terusir, di Uyghur yang terpasung, dan di berbagai sudut dunia lainnya. Persatuan yang kita saksikan di Arafah seolah hanya ilusi sesaat.

Selepas itu, umat kembali pada realitas pahit: terpecah belah, lemah, dan tak berdaya menghadapi musuh-musuh yang nyata. Kita menangis untuk mereka, mengirim doa, namun seringkali hanya sebatas itu. Kekuatan kolektif kita lumpuh karena sekat-sekat nasionalisme dan fanatisme golongan yang begitu tebal.

Padahal, Idul Adha adalah madrasah agung yang mengajarkan kita tentang makna ketaatan total, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Ketika perintah Allah datang, tak ada tawar-menawar, tak ada keraguan. Ketaatan inilah yang seharusnya menjadi ruh umat Islam, bukan hanya dalam ibadah ritual mahdhah, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.

Syariat Islam yang paripurna harusnya menjadi panduan kita dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bukan mengambil sebagian yang kita suka, dan menolak sebagian yang kita anggap tak sesuai dengan zaman atau kepentingan.

Kerinduan akan persatuan sejati adalah fitrah setiap Muslim yang mendamba kemuliaan agamanya. Persatuan ini, sebagaimana diyakini oleh banyak kalangan, tidak akan pernah terwujud secara hakiki tanpa adanya sebuah institusi politik Islam global (Khilafah) yang mampu menyatukan seluruh potensi umat.

Sebuah institusi yang akan menjadi perisai, yang akan menghilangkan diskriminasi berdasarkan bangsa dan negara, yang akan berbicara dengan satu suara di panggung dunia, dan yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan rahmatan lil ‘alamin.

Dalam institusi inilah, umat Islam benar-benar menjadi “kaljasadil wahid,” satu tubuh, di mana jika satu anggota tubuh sakit, seluruhnya akan merasakan demam dan tak bisa tidur.

Mungkin jalan ke sana masih panjang dan berliku. Namun, Idul Adha setiap tahunnya harus menjadi pengingat yang keras bagi kita semua. Apakah kita hanya akan terus terjebak dalam paradoks bersatu dalam simbol, namun bercerai dalam realita?

Ataukah kita akan mulai serius memikirkan dan mengupayakan langkah-langkah konkret menuju persatuan sejati, yang didasari oleh ketaatan penuh kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dalam seluruh aspek kehidupan?

Semoga getar haru persatuan di Arafah tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjelma menjadi denyut nadi kehidupan umat Islam di seluruh penjuru bumi. Wallahu A’laam Bisshawaab.[]

Comment