Penulis: Ikfa Asifal | Aktifis Muslimah dan Finance Admin
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Wacana perdamaian untuk Gaza kembali mengemuka di ruang publik internasional. Presiden Indonesia bahkan turut hadir dalam forum Board of peace dan menyatakan komitmen Indonesia untuk ikut terlibat dalam upaya perdamaian tersebut.
Dalam pernyataannya, Presiden menekankan pentingnya melindungi, mengakui, dan menghormati Israel sebagai bagian dari proses yang diklaim dapat mengantarkan kemerdekaan bagi warga Gaza.
Namun, pernyataan itu berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Di tengah seruan perdamaian, sejumlah menteri Israel justru secara terbuka menyuarakan penghancuran total Gaza serta pengusiran paksa penduduknya. Pada saat yang sama, Amerika Serikat mulai menggulirkan gagasan pembangunan kawasan yang disebut sebagai “New Gaza”.
Sebagaimana ditulis BBC.com (23/1/2026), mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme berlebihan terhadap proyek tersebut. “Kami akan sangat sukses di Gaza. Ini akan menjadi hal yang luar biasa untuk disaksikan,” ujarnya.
Amerika Serikat bahkan merencanakan pembangunan sekitar 180 gedung tinggi di Gaza dengan membentuk Dewan Perdamaian yang kini gencar dipromosikan ke dunia internasional.
Namun, proyek “New Gaza” tersebut patut dipertanyakan. Alih-alih menghadirkan kemerdekaan sejati, rencana itu justru terlihat sebagai upaya pengendalian total atas Gaza.
Pembangunan fisik dan pembentukan dewan perdamaian tampak lebih sebagai kamuflase politik untuk mengukuhkan dominasi dan kepentingan geopolitik Amerika Serikat dan Israel di wilayah tersebut.
Umat Islam meyakini bahwa tanah Gaza dan Palestina bukanlah milik individu atau kekuatan politik tertentu, melainkan bagian dari tanah umat yang kini dirampas oleh penjajah Israel.
Dalam ajaran Islam, umat dilarang tunduk dan patuh kepada kepemimpinan yang menentang hukum Allah. Kondisi inilah yang dirasakan hari ini, ketika umat berada di bawah kendali kepemimpinan dan sistem yang tidak berpijak pada nilai-nilai Islam.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’idah ayat 51: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.”
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa umat Islam memiliki prinsip yang jelas dalam menyikapi relasi kekuasaan dan kepemimpinan.
Karena itu, segala bentuk makar politik Amerika Serikat dan Israel untuk menguasai Gaza secara total patut dilawan. Gaza bukan sekadar wilayah konflik, melainkan tanah suci yang sarat dengan peristiwa sejarah dan nilai keimanan.
Sayangnya, kaum muslimin di berbagai belahan dunia kerap tidak menyadari bahwa umat saat ini telah kehilangan perisai pelindungnya, yakni kepemimpinan yang menjalankan hukum Allah secara menyeluruh. Sejarah mencatat, kepemimpinan Islam global pernah menjadi benteng yang melindungi umat tanpa membedakan latar belakang.
Sudah saatnya kaum muslimin terbangun dari kelalaian. Perjuangan para rasul dan generasi terdahulu tidak boleh dibiarkan sia-sia. Umat harus kembali menyadari jati dirinya, bersatu memperjuangkan keadilan, dan menolak segala bentuk kemerdekaan palsu yang justru mengekalkan penjajahan.
Wallahu a’lam bishawab.[]










Comment