Bullying Menggejala: Cermin Buram Problem Sistemik Pendidikan

Opini221 Views

 

Penulis: Reni Handayani, S.Pd | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kasus demi kasus terus mewarnai wajah pendidikan Indonesia, memperlihatkan betapa kompleks persoalan yang belum kunjung terselesaikan. Salah satu yang kembali mencuat adalah kasus bullying. Pada Jumat, 31 Oktober 2025, terjadi kebakaran di asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah yang diasuh Tgk. Masrul Aidi di Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar.

Ironisnya, api yang melalap bangunan itu bukan musibah biasa—melainkan sengaja dilakukan oleh seorang santri yang masih di bawah umur.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol. Joko Heri Purwono, dalam konferensi pers di Meuligoe Rastra Sewakottama, Kamis (6/11), mengungkapkan bahwa “pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya.” Tekanan mental yang dialaminya diduga mendorong ia untuk membakar gedung dengan tujuan agar barang-barang milik para pelaku bullying ikut hangus.

Penyidik telah memeriksa 10 saksi, termasuk pengasuh dan orang tua pelaku. Barang bukti berupa jaket hitam serta rekaman CCTV turut diamankan. Dari rekaman terlihat pelaku menyalakan korek api dan membakar kabel di lantai dua hingga api cepat menjalar.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 187 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara, namun penanganan dilakukan berdasarkan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) mengingat ia masih di bawah umur.

Bullying: Masalah Sistemik yang Tak Kunjung Tuntas

Sekolah atau madrasah yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi siswa justru berubah menjadi tempat terjadinya tindakan perundungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Indonesia bersifat sistemik dan masih jauh dari terselesaikan.

Pengaruh media sosial turut memperburuk keadaan: tindakan bullying kerap dijadikan bahan candaan, viral, bahkan menginspirasi perilaku balas dendam yang membahayakan orang lain.

Krisis adab dan pudarnya fungsi pendidikan sebagai pembentuk karakter semakin terasa. Sistem pendidikan sekuler-kapitalistik yang lebih menekankan capaian materi terbukti gagal membentuk generasi berkepribadian Islam, sehingga perilaku menyimpang seperti bullying semakin menggejala di berbagai daerah.

Pendidikan Islam: Fondasi Pembentuk Kepribadian Mulia

Dalam Islam, pendidikan tak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kepribadian Islam melalui pembinaan pola pikir dan pola sikap yang islami. Nilai materi bukanlah satu-satunya fokus—nilai maknawi dan ruhiyah justru menjadi inti yang menguatkan karakter.

Sistem pendidikan Islam menjamin kualitas pembinaan moral, menjaga generasi dari kezaliman sosial, serta menjadikan adab sebagai fondasi kurikulum.

Ketika pendidikan yang berbasis aqidah Islam diterapkan secara komprehensif, termasuk dengan sanksi yang tegas, tepat, dan berkeadilan, persoalan bullying dapat dicegah dan diselesaikan secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment