by

Catatan Kritis Akhir Tahun 2021, Korupsi Harus Segera Diakhiri

-Opini-38 views

 

 

Oleh: Puput Hariyani, S.Si, Pendidik Generasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Peringatan hari anti korupsi sedunia jatuh pada tanggal 9 Desember 2021. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo menyampaikan ajakan untuk menjadikan peringatan ini sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran anti korupsi dan untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi (menpan.co.id)

Upaya pemberantasan korupsi memang getol dilakukan karena korupsi merupakan penyakit yang luar biasa berbahaya. “Penyakit paling berbahaya bagi perekonomian Indonesia bukan hanya Covid-19 yang saat ini masih melanda tanah air tetapi justru korupsi,” ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam acara puncak Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) dalam YouTube Kemenkeu RI, Rabu (8/12/2021) sebagaimana diwartakan detikNews.com.

Beliau juga mengatakan bahwa korupsi bisa menggerus tingkat kepercayaan karena masyarakat tidak lagi mempercayai suatu pemerintah yang dianggap korup sehingga bisa terjadi gejolak politik sosial. Kita harus menjadikan korupsi sebagai musuh bersama.

Secara gamblang telah dijelaskan dalam 13 buah pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999, UU No. 20 Tahun 2001. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-unsur seperti perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (Liputan6.com).

Pertanyaannya adalah mengapa kasus korupsi tak kunjung tuntas meski peringatan hari anti korupsi sedunia tak pernah absen dilakukan?

Penulis mencoba untuk menggali akar persoalan versi tokoh. Dalam acara “Diskusi Panel Mewujudkan Sinergi Antar-Aparat Penegak Hukum dan Instansi Terkait”, Senin (6/12/2021), Bapak Mahfud MD mengungkapkan sebagaimana dirilis di laman kompas.com, “Sering ada yang tanya, ‘Kenapa Pak masih banyak korupsi?’ Mungkin demokrasinya salah, mungkin namanya demokrasi tetapi praktiknya oligarki.”

Menurut hemat penulis, ini adalah pernyataan jujur dari seorang tokoh yang telah lama berkecimpung di dunia perpolitikan. Beliau cukup memahami dan menjiwai model dan karakter kepemimpinan negeri ini.

Maka tak heran jika Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri mengaku sempat bingung ketika pertama kali memimpin lembaga antirasuah.

“KPK betul-betul konsentrasi untuk pemberantasan korupsi. Sampai-sampai saya dan pimpinan lain, begitu Kami dilantik, kami susun, kami lakukan evaluasi, penangkapan sudah banyak, OTT ada, tapi korupsi masih ada terus, kalau begitu dimana yang harus kita lakukan?,” Ungkap Firli (Okezone.com)

Semakin jelas bahwa apa yang diungkap penting untuk ditangkap dengan pengertian bahwa akar persoalan menjamurnya kasus korupsi di negeri ini adalah langgengny sistem oligarki.

Berdasarkan penelusuran penulis seperti dilansir kompas.com, oligarki adalah struktur kekuasaan yang terdiri dari beberapa individu elit, keluarga, atau perusahaan yang diizinkan untuk mengontrol suatu negara atau organisasi.

Semua bentuk pemerintahan, seperti demokrasi, teokrasi, dan monarki dapat dikendalikan oleh oligarki. Secara umum, para pemimpin oligarki bekerja untuk membangun kekuatan mereka sendiri dengan sedikit atau tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Kelahiran sistem oligarki ini tentu karena ruang pembuat hukum diberikan kepada manusia bukan Allah sebagai sang pencipta dan pembuat aturan bagi manusia.

Maka tak ada jalan lain untuk memutus rantai gurita korupsi kecuali dengan menghentikan kepemimpinan oligarki. Lantas sistem apa yang layak menggantikan?

Seorang muslim tentu berpijak pada landasan kebenaran dalam memutuskan persoalan. Landasan itu tiada lain adalah berpedoman pada Al-Qur’an. Kembali pada hukum Allah sebagai pencipta alam semesta sekaligus pengatur jagad raya.

Jika Allah mampu mengatur siang malam, menjalankan orbit galaksi Bimasakti dengan sempurna, menggenggam semua nyawa hambanya, maka tak sulit bagi Allah mengatur seluruh urusan manusia ini dengan Kebijaksanaannya. Wallahu’alam bi ash-showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita