by

Dalam Bingkai Sekularisme, Mungkinkah Agama Menjadi Solusi?

-Opini-73 Views

 

 

Oleh: Suriani, S.Pd.I, Pemerhati Kebijakan Publik

_________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia saat ini tengah berada di ambang krisis. Sejumlah negara mengalami resesi karena kondisi ekonomi global semakin memburuk akibat perang Rusia-Ukraina yang kian berkepanjangan. Selain terjadinya konflik Rusia-Ukraina, dunia pun mengalami konflik dengan pola yang beragam.

Para pemimpin agama dunia menyebut bahwa salah satu penyebab konflik yang terjadi di beberapa negara adalah sentimen antar kelompok agama. Terkait hal tersebut, mereka mengadakan pertemuan antar pemimpin agama dunia di Yogyakarta, Jumat (4/11/2022)

Sebagaimana dilansir merdeka.com (5/11), pertemuan tersebut berbentuk diskusi bertemakan Komunike R20: Upaya Pastikan Agama Berfungsi Sebagai Sumber Solusi Global.

Forum Agama G20 atau R20 ini digelar PBNU bersama Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL). Terdapat 338 partisipan yang hadir pada Forum R20 yang berasal dari 32 negara. Sebanyak 124 berasal dari luar negeri dengan menghadirkan 45 pembicara dari lima benua.

Dalam pertemuan R20 tersebut, para pemimpin agama dunia mengupayakan agar agama muncul sebagai solusi global demi kehidupan yang harmonis pada semua warga negara di seluruh dunia, bukan sebaliknya, agama menjadi sumber konflik.

Forum R20 dibentuk dalam rangka mempromosikan sikap saling memahami, budaya damai dan koeksistensi yang harmonis di antara keragaman agama dan bangsa di dunia.

Selain itu, juga menyerukan pada seluruh pemimpin agama, pemimpin politik, dan orang-orang dengan çita cita kebaikan dari setiap agama dan bangsa untuk bergabung dan membangun sebuah aliansi global yang didirikan atas nilai-nilai peradaban bersama. Bahkan Forum R20 juga ingin menjadikan agama sebagai sumber solusi global.

Dalam hal ini ada 11 poin yang ditekankan, salah satunya adalah melindungi manusia dari kekerasan dan penderitaan yang dipicu oleh konflik. Seperti kerusakan lingkungan, bencana alam, kemiskinan, pengangguran, orang terlantar, ekstremisme dan terorisme.

Narasi ekstremisme dan terorisme masih menjadi topik pembahasan dalam R20 ini. Alih-alih dapat mewujudkan agama sebagai solusi global, narasi terorisme pada realitasnya masih menjadi stigma Islam sebagai pihak tertuduh.

Pasalnya,  ketika berbicara tentang eksremisme dan terorisme – persepsi buruk masyarakat dunia masih kental dengan prasangka bahwa Islam sebagai agama yang selalu berkait dengan kedua istilah tersebut.

Jika berbicara dan membahas isu issue terorisme, negara-negara besar selalu mengarahkan pandangan mereka terhadap Islam. Di Indonesia sendiri, kelompok-kelompok Islam acap kali dikaitkan dan dituduh dengan aksi-aksi terorisme, radikalisme, dan stigma buruk lainnya tanpa melihat kejahatan yang ditimbulkan Barat di negara negara muslim di Timur Tengah dll.

Sangat nyata terjadi paradoks di tengah realitas di atas. Di satu sisi para pemimpin agama dunia menginginkan agar agama menjadi sumber solusi atasi krisis yang kini melanda dunia, namun di sisi lain agama (baca: Islam) sebagai satu-satunya agama yang memiliki solusi atas problem tersebut justru dianggap ancaman dengan bermacam stigma.

Termasuk negara-negara Barat dalam hal ini Amerika Serikat menggunakan istilah war on terrorism dan war on radicalism untuk menyerang kelompok-kelompok Islam yang menginginkan penerapan Islam secara menyeluruh. AS bahkan mengajak negara-negara lain untuk turut serta dalam upaya memerangi kelompok terorisme dan radikalisme.

Dengan kata lain, wacana yang dihasilkan dari Forum R20 bahwa agama harus menjadi solusi atasi problem global tidaklah akan membuahkan hasil apapun. Sebab wacana tersebut masih tumbuh di atas landasan pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Jika agama masih dicurigai sebagai salah satu penyebab konflik yang melanda dunia, bagaimana mungkin agama lantas akan dijadikan sebagai sumber solusi?

Tentu saja yang dimaksud oleh Forum R20 bahwa agama sebagai solusi adalah agama yang toleran, moderat dan mau menerima perbedaan. Sebab mereka mendefinisikan kata ekstremisme dan radikalisme berarti paham yang tidak ingin menerima perbedaan dan berpegang teguh pada prinsip pandangan tertentu, termasuk prinsip terhadap agama. Hal itu menurut mereka menjadi akar konflik antar agama, kelompok, dan ras terjadi.

Tak terkecuali terhadap umat Islam, baik personal maupun kelompok yang berpegang teguh pada ajaran agamanya dan menginginkan hidup dalam naungan syariat Islam akan dicap radikal dan ekstremis. Padahal Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah dengan kesempurnaan syariatnya sangat urgen untuk diterapkan di tengah dunia yang saat ini dilanda krisis.

Dengan kapitalisme yang hanya berorientasi kepada keuntungan materi dan manfaat semata,  seluruh sendi-sendi dan tatanan kehidupan menjadi  rusak.

Politik dan pemerintahan dijalankan semata untuk meraih dan mempertahankan tahta kekuasaan serta meraih keuntungan sebesar-besarnya melalui kekuatan politik yang dimiliki. Krisis ekonomi dan kesenjangan sosial tak kalah memprihatinkannya.

Termasuk bobroknya moral yang mengglibal membuat manusia berperilaku tak manusiawi. Tingginya angka kemiskinan menciptakan kasus kriminal yang tak terelakkan.

Semua problem di atas terjadi akibat dijauhkannya agama dari kehidupan sebagaimana prinsip dasar dari ideologi kapitalisme.

Namun tak demikian halnya dengan Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang diturunkan oleh Allah kepada Baginda Nabi Muhammad Saw dengan aturan-aturan komprehensif. Tak terbatas mengatur ibadah ritual semata, tapi Islam adalah agama sekaligus peraturan hidup meliputi segala sesuatu.

Menempatkan Islam hanya sebagai agama yang diterapkan dalam aspek ibadah saja jelas tindakan mengkerdilkan ajaran Islam. Islam adalah sebuah aturan sistemis dan terintegrasi systemic and integrated rules yang tidak mengenal parsialisme.

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya “Peraturan Hidup Dalam Islam” menegaskan bahwa aturan Islam mampu memecahkan seluruh persoalan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menyelesaikan seluruh problematika kehidupan butuh implementasi aturan Islam secara menyeluruh.

Islam tak bisa dipisahkan dari kehidupan sebagaimana sekularisme yang memenjara agama di ruang ruang personal dan terpisah dari kehidupan termasuk dalam urusan politik dan negara. Ini adalah sebuah kekeliruan  besar.

Kapitalisme sebagai ideologi yang kini meracunii dunia terbukti gagal atasi krisis yang tengah terjadi dan tidak mampu mengantarkan manusia meraih kesejahteraan hidup.

Hal tersebut karena ideologi kapitalisme mengabaikan peraturan agama, lalu menyerahkan segala urusan dalam kehidupan diatur oleh manusia. Terang saja krisis terjadi di mana-mana, sebab manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan sehingga tidak mampu mengatur kehidupan. Kalaupun dibiarkan maka konflik akan terus terjadi di mana-mana.

Itulah mengapa Islam tidak menyerahkan tugas untuk mengatur kehidupan kepada manusia, melainkan kepada Sang Pencipta Manusia, yaitu Allah Swt. Sebab hanya Allah sajalah yang berhak mengatur manusia dan aturan-Nya meliputi segala sesuatu.

Allah Swt berfirman yang artinya, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Alah, Rab semesta alam.” (QS. al-A’raf:54)

Karena itu, sudah selayaknya setiap muslim termasuk para ulama, tokoh Islam hingga para pemimpin negeri-negeri Islam segera mengambil dan menerapkan hukum-hukum Islam sebagai pengatur seluruh urusan kehidupan. Hanya islam yang mampu mengeluarkan dunia dari konflik dan krisis yang mendera.

Untuk itu  diperlukan implementasi  Islam baik pada skala individu, masyarakat bahkan hingga negara demi terwujudnya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.[]

Comment