Penulis: Vie Dihardjo | Alumnus Hubungan Internasional UNEJ
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sejarah Islam mencatat bahwa kekuatan angkatan laut sejak masa Muawiyah bin Abu Sufyan hingga Kesultanan Utsmaniyah bukan sekadar instrumen militer, tetapi juga alat kendali atas jalur-jalur strategis dunia. Laut Mediterania, misalnya, pernah berada dalam kondisi aman di bawah kendali umat Islam.
Namun, realitas hari ini sangat berbeda. Jalur-jalur strategis seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, hingga Selat Malaka memang berada di kawasan negeri-negeri muslim, tetapi tidak berada dalam kendali umat. Posisi strategis itu ada, namun kekuatan untuk mengelolanya justru tidak dimiliki.
Ketika kekuasaan Islam telah mencapai wilayah pesisir dan ancaman Bizantium datang dari laut, umat Islam membangun armada laut yang tangguh. Salah satu tonggak pentingnya terjadi pada tahun 655 M, dalam pertempuran laut antara armada Islam dan Bizantium yang dikenal sebagai Battle of the Masts atau “Perang Tiang Kapal”, karena rapatnya kapal-kapal di lautan menyerupai hutan tiang.
Saat itu armada Bizantium dipimpin Kaisar Constans II dan dikenal sebagai penguasa lautan: besar, berpengalaman, dan disegani. Sementara armada Islam masih terbilang baru dalam dunia maritim. Pertempuran berlangsung di Laut Mediterania dekat Anatolia.
Dalam pertempuran tersebut, armada Islam menerapkan strategi yang tidak biasa. Kapal-kapal didekatkan menggunakan kait dan tali, sehingga pertempuran laut berubah menjadi pertempuran jarak dekat. Pasukan Islam melompat dari kapal ke kapal, bertempur langsung dengan pedang, dan menghancurkan keunggulan taktik laut klasik Bizantium.
Hasilnya, armada Bizantium porak-poranda. Kaisar Constans II nyaris terbunuh, dan dominasi maritim Bizantium pun berakhir.
Kemenangan itu membawa dampak besar: lahirnya kekuatan armada laut Islam yang kemudian menguasai Siprus dan wilayah-wilayah pesisir penting, mengamankan perdagangan, serta menjadikan umat Islam sebagai pemain global.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
“Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan untukmu agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar, dan kamu mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat kapal-kapal berlayar padanya, dan agar kamu mencari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.”
(QS An-Nahl: 14).
Armada laut Islam pada masa lalu mampu menguasai dan memanfaatkan jalur-jalur strategis sebagai instrumen kekuatan demi kemaslahatan umat. Akan tetapi, choke point hari ini hanya dipandang sebagai jalur ekonomi dan sumber pendapatan bagi segelintir pihak. Akibatnya, nilai strategisnya hilang dan daya tawar umat melemah.
Pertanyaan penting pun muncul: apakah umat akan kembali memegang kendali, atau terus hidup di jalur strategis yang dikendalikan kekuatan asing?
Choke Point: Menguasainya, Menguasai Dunia
Dalam sejarah maritim Islam, nama Barbarossa Hayreddin Pasha menjadi salah satu simbol kejayaan. Ia bukan sekadar laksamana, tetapi lambang kebangkitan dan perlindungan umat di lautan.
Saat kaum muslimin di Spanyol mengalami penindasan, pengusiran, dan pembantaian, Barbarossa bersama armadanya menyelamatkan banyak di antara mereka. Ia juga mencatat kemenangan besar dalam Battle of Preveza, saat menghadapi koalisi Eropa atau Holy League yang terdiri dari Kekaisaran Romawi Suci, Republik Venesia, Kerajaan Spanyol, Negara Kepausan, dan Ksatria Malta, di bawah komando laksamana terkenal Andrea Doria.
Kemenangan tersebut menjadikan Laut Mediterania—choke point utama pada masanya—berada di bawah kendali Kesultanan Utsmaniyah.
Pada abad ke-16, Laut Mediterania adalah pusat perdagangan dunia, setara dengan posisi Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka saat ini. Jalur-jalur strategis yang berada di wilayah kaum muslimin semestinya dapat dikontrol secara mandiri, dijadikan daya tawar untuk melindungi umat manusia, sekaligus menjadi pusat kekuatan global.
Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan kedaulatan politik, armada maritim yang kuat, kapasitas ekonomi dan teknologi yang maju, serta kepemimpinan yang strategis dan visioner.
Menguasai jalur strategis bukan semata ambisi geopolitik, tetapi bagian dari amanah untuk menjaga kemaslahatan dan stabilitas umat. Islam memerintahkan pembangunan kekuatan sebagaimana firman Allah SWT: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS Al-Anfal: 60).
Membangun armada laut yang tangguh adalah fardhu kifayah, kewajiban kolektif kaum muslimin. Itu mencakup sistem pertahanan modern, teknologi navigasi dan pengawasan, industri perkapalan, hingga logistik kelautan yang mandiri.
Armada laut yang kuat harus ditopang oleh pengelolaan kepemilikan umum—seperti energi dan jalur strategis—oleh negara demi kemaslahatan umat. Ketergantungan pada pihak asing dalam teknologi pertahanan akan melemahkan kedaulatan.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa kemajuan militer selalu berjalan beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Di era modern, itu berarti penguasaan teknologi seperti radar, satelit, dan sistem pertahanan canggih.
Selain itu, faktor strategis lain yang sangat penting adalah persatuan umat. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi lemah…”
(QS Al-Anfal: 46).
Persatuan hanya dapat diwujudkan melalui kepemimpinan yang amanah, visioner, berani mengambil keputusan strategis, tidak tunduk pada tekanan asing, dan berpihak pada kepentingan umat.
Jika hari ini paradigma global terhadap choke point bersifat kapitalistik dan eksploitatif, maka Islam menawarkan paradigma berbeda – menjaga keamanan jalur perdagangan dan energi, memastikan distribusi kebutuhan manusia, serta mencegah kezaliman dan monopoli demi tegaknya keadilan.
Dengan demikian, keberadaan choke point di negeri-negeri muslim dapat menjadi sumber kekuatan apabila dikelola oleh kepemimpinan yang amanah dan visioner.
Sebaliknya, ia akan menjadi titik lemah jika keamanannya bergantung pada kekuatan asing. Wallahu a’lam bish-shawab.[]













Comment