RADARINDONESIANEWS .COM, KUDUS — Hamparan sawah di Desa Gulang dan Payaman, Kecamatan Mejobo, menyimpan potensi yang selama ini kurang dilirik. Keong sawah yang kerap dianggap hama perusak tanaman padi, ternyata memiliki kandungan protein tinggi yang bermanfaat bagi unggas maupun ikan air tawar seperti lele.
Dengan estimasi luasan sawah sekitar 3.630.000 meter persegi dan kepadatan 20–40 ekor per meter persegi, populasi keong diperkirakan mencapai 72 juta hingga 145 juta ekor. Angka tersebut menunjukkan potensi sumber protein alami dalam skala besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
“Selama ini keong dianggap musuh petani. Padahal kalau dikelola, ini bisa menjadi sumber pakan alternatif yang murah dan bergizi,” ujar Rochmad Taufiq kepada Radar Indonesia News, Ahad (1/3).
Dari musuh petani menjadi sahabat peternak
Keluhan petani soal keong bukan hal baru. Hama ini kerap memakan bibit padi yang baru ditanam. Namun, di sisi lain, sejumlah pelaku usaha ternak mulai melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Selain Taufiq, Wandi, warga Desa Gulang, mengaku juga telah memanfaatkan keong sebagai pakan lele.
“Keong saya rebus dulu, ambil dagingnya, lalu dicacah kecil-kecil sebelum diberikan ke lele. Hasilnya bagus, lele cepat gemuk,” katanya.
Menurutnya, pemanfaatan keong mampu menekan biaya pakan yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam budidaya lele. “Kalau bisa ambil dari sawah sekitar, kenapa harus beli terus?” ujarnya.
Peternak ayam kampung dari Mlati Kidul juga mulai melakukan uji coba serupa.
“Masih tahap percobaan. Nanti kita lihat pengaruhnya terhadap produksi telur dan pertumbuhan ayam,” kata Taufiq menambahkan.
Rochmad Taufiq mengatakan, peluang ekonomi berbasis potensi lokal
Secara rasional, peluang ini cukup menjanjikan. Jika satu ekor ayam membutuhkan tambahan sekitar 35 gram pakan per hari, maka jutaan ekor keong yang tersedia berpotensi menghasilkan tonase daging yang signifikan untuk menopang kebutuhan pakan unggas.
Dampaknya, menurut Taufiq, tidak sederhana. Biaya produksi dapat ditekan, ketergantungan terhadap pakan pabrikan berkurang, margin keuntungan peternak meningkat, sekaligus membantu petani mengurangi populasi hama di sawah.
“Inilah praktik ekonomi sirkular di desa. Hama di satu sektor menjadi solusi di sektor lain,” ujar Taufiq.
Membangun kemandirian dari desa
Fenomena ini juga sejalan dengan gagasan membangun kemandirian ekonomi berbasis sumber daya lokal. Alam, kata Taufiq, telah menyediakan sistem hayati yang bekerja secara alami.
“Keong berkembang biak tanpa rekayasa rumit. Lele tumbuh cepat. Ayam bertelur secara alami. Tugas manusia hanya membaca peluang dan mengelolanya dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan, kedaulatan pangan sejatinya dapat tumbuh dari desa ketika masyarakat mampu mengelola potensi sekitar secara kreatif dan kolaboratif.
Sering kali, lanjut dia, yang menjadi hambatan bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pola pikir.
“Kita lebih bangga membeli pakan mahal daripada mengolah yang ada di sekitar. Padahal inovasi seperti ini bisa menguatkan ekonomi warga kecil,” ujarnya.
Apabila setiap peternak lele memanfaatkan keong lokal, setiap peternak ayam memadukan pakan alami, dan desa membangun kolaborasi antara petani serta peternak, maka yang lahir bukan hanya efisiensi biaya, tetapi juga kemandirian kolektif.
Keong sawah di Gulang dan Payaman, yang selama ini dipandang sebelah mata, kini mulai dibaca sebagai peluang. Dari hama menjadi hikmah, dari keluhan menjadi potensi.
“Siapa yang mampu membaca potensi kecil di sekitarnya, dialah yang akan memanen keberkahan besar di masa depan,” kata Taufiq.[]









Comment