Dari Kesepian Menuju AI: Ketika Sekularisme Mengikis Tempat Bergantung Manusia

Opini1493 Views

Penulis: Ulfiah | Aktivis Remaja Muslimah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di era digital hari ini, manusia semakin mudah terhubung. Namun ironisnya, semakin banyak yang merasa sendiri. Fenomena ini tampak dari meningkatnya kebiasaan “curhat” kepada kecerdasan buatan (AI), mencurahkan isi hati kepada sesuatu yang tidak memiliki ruh, empati sejati, maupun kemampuan memberi makna hidup yang hakiki.

Sebagaimana dilaporkan Litbang Kompas (Juni 2025), sekitar satu dari lima orang Indonesia mengaku merasa kesepian setiap pekan. Sementara itu, laporan WHO menyebut tingkat kesepian di kawasan Asia Tenggara mencapai 18,3 persen. Data ini menunjukkan bahwa kesepian telah menjadi problem sosial yang nyata, bahkan mendorong sebagian orang menjadikan chatbot AI sebagai “teman” virtual.

Di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko yang tidak ringan. Ketergantungan pada AI berpotensi mengurangi interaksi sosial nyata, melemahkan kemampuan membangun relasi, serta memicu ketergantungan emosional.

Sejumlah riset juga menunjukkan bahwa respons AI yang terlalu suportif dapat menurunkan kemampuan refleksi diri, membuat pengguna terjebak dalam kenyamanan semu yang menjauhkan dari realitas.

Sekularisme mengikis tempat bergantung manusia

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari dominasi sistem sekularisme kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, hubungan sosial cenderung menjadi transaksional dan berorientasi materi. Kehangatan keluarga dan kepedulian sosial perlahan memudar, digantikan oleh individualisme yang kering dari nilai spiritual.

Sekularisme memosisikan agama hanya sebagai urusan privat—terbatas pada ibadah ritual seperti shalat dan puasa—tanpa peran dalam mengatur kehidupan sosial, politik, maupun ekonomi.

Akibatnya, manusia kehilangan arah dalam menghadapi persoalan hidup.
Ketika masalah datang, manusia tidak lagi menjadikan Allah sebagai tempat bergantung utama. Mereka mencari pelarian ke berbagai arah: hiburan, media sosial, hingga AI.

Hati yang semestinya terikat dengan Sang Pencipta menjadi kosong, lalu berusaha diisi dengan hal-hal yang tidak mampu memberikan ketenangan sejati.
Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Namun dalam sistem sekuler, ayat ini kerap berhenti sebagai bacaan, bukan sebagai solusi kehidupan.

Di sisi lain, kesepian juga menjadi peluang bisnis. Perusahaan teknologi berlomba mengembangkan AI untuk meningkatkan keterikatan pengguna demi keuntungan. Kondisi ini berpotensi memperparah isolasi sosial, karena manusia semakin tenggelam dalam dunia virtual dan menjauh dari interaksi nyata.

Sekularisme pada akhirnya melahirkan masyarakat individualis. Relasi antarmanusia menjadi dangkal, sekadar berbasis kepentingan. Bahkan dalam keluarga, tidak sedikit individu yang merasa tidak dipahami.

Ketika hati membutuhkan tempat bersandar, mereka merasa tidak ada yang benar-benar mendengar tanpa menghakimi, tidak ada yang memberi ketenangan.

Dalam situasi inilah AI menjadi “pelarian aman”—selalu merespons, tidak marah, dan tidak bosan.
Namun, AI tetaplah mesin. Ia tidak mampu menggantikan peran Allah sebagai tempat bergantung, dan tidak dapat memberikan ketenangan ruhiyah yang hakiki.

Negara dalam konteks ini dinilai belum optimal menghadirkan solusi mendasar. Ruang digital dibiarkan berkembang mengikuti logika pasar, tanpa perlindungan yang memadai terhadap kesehatan mental masyarakat.

Sistem Islam mengembalikan tempat bergantung manusia

Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi seluruh aspek kehidupan. Islam menegaskan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya tempat bergantung.

Islam menawarkan solusi menyeluruh dengan mengembalikan pemahaman manusia tentang tujuan hidup: berasal dari Allah, hidup untuk beribadah kepada-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Pemahaman ini memberikan arah hidup yang jelas serta mencegah kehampaan makna.

Dalam Islam, hubungan dengan Allah diperkuat melalui salat, zikir, doa, dan tawakal. Curahan hati terbaik adalah kepada Allah dalam sujud, karena tidak ada yang lebih memahami isi hati manusia selain Dia. Dari sinilah ketenangan sejati diperoleh.

Selain itu, Islam membangun kehangatan keluarga dan kepedulian sosial melalui konsep ukhuwah (persaudaraan). Masyarakat didorong untuk saling menasihati dan peduli, bukan hidup dalam individualisme.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)” (QS. Al-Baqarah: 208). Ayat ini menegaskan pentingnya penerapan Islam secara menyeluruh, tidak parsial.

Dalam sistem Islam, negara berperan sebagai pengurus rakyat yang memastikan kesejahteraan lahir dan batin, termasuk kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial.

Rasulullah SAW bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya” (HR Bukhari).

Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Abd Al-Aziz bin Ali As-Syadzili dalam Al-Adab an-Nabawi, pemimpin adalah penjaga dan pelindung yang diberi amanah untuk mewujudkan kemaslahatan rakyatnya.

Negara dalam Islam juga mengarahkan perkembangan teknologi untuk kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan. Media digital dikelola secara sehat, menjadi sarana edukasi, dakwah, serta amar makruf nahi mungkar.

Selain itu, media juga difungsikan sebagai jembatan komunikasi antara negara dan masyarakat secara konstruktif.

Dengan penerapan Islam secara menyeluruh—pada level individu, keluarga, hingga negara—akan terbangun masyarakat yang kuat dan saling peduli. Tidak ada ruang bagi kesepian yang dieksploitasi, karena setiap individu memiliki tempat bergantung yang jelas dan kokoh.

Allah SWT berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran: 110).

Pada akhirnya, kesepian yang melanda manusia hari ini bukan disebabkan kurangnya teknologi, melainkan karena jauhnya manusia dari Allah. Sekularisme telah mencabut agama dari kehidupan, sehingga manusia kehilangan tempat bergantung yang sejati.

Curhat kepada AI mungkin memberi rasa “didengar”, tetapi tidak akan pernah menghadirkan ketenangan hakiki.

Sebab, hati manusia hanya akan tenteram ketika kembali kepada Rabb-nya dan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh.
Wallahu a’lam.[]

Comment