Dehumanisasi Gaza dan Belenggu Nasionalisme

Opini1492 Views

 

Penulis: Neno Salsabillah | Muslimpreunuer dan Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia hari ini menyaksikan tragedi kemanusiaan yang melampaui batas nalar. Jalur Gaza bukan lagi sekadar wilayah konflik, melainkan telah berubah menjadi ruang dehumanisasi yang begitu mengerikan.

Sebagaimana dilansir Antara News, hingga pertengahan 2026 jumlah korban di Gaza sejak Oktober 2023 mencapai 72.736 jiwa meninggal dunia dan 172.535 orang mengalami luka-luka. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan penderitaan panjang yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Dehumanisasi yang dilakukan entitas zionis tidak hanya menyasar mereka yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah wafat.

Berbagai media internasional memberitakan adanya pembongkaran dan pemindahan makam warga Palestina secara paksa, sebuah tindakan yang mencederai martabat manusia paling mendasar.Sementara itu, bagi mereka yang bertahan hidup, terutama anak-anak, masa depan mereka seolah dirampas secara brutal.

Sebagaimana ditulis Tempo, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat satu dari lima warga Gaza yang menjalani amputasi merupakan anak-anak. Mereka kehilangan anggota tubuh di usia yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar.

Tak berhenti pada genosida fisik, upaya membungkam fakta juga terus dilakukan. Gaza kini dinilai sebagai wilayah paling mematikan bagi jurnalis.

Sebagaimana diberitakan Antara, lebih dari 300 jurnalis gugur saat menjalankan tugas peliputan. Kondisi ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menutup akses informasi dunia terhadap berbagai dugaan kejahatan perang yang terjadi, terlebih ketika dukungan politik dan militer dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, terus mengalir kepada Zionis.

Bahkan, sebagaimana dilansir Republika, sejumlah kesaksian tentara zionis mengungkap adanya instruksi penembakan terhadap pria Palestina tanpa memandang usia.

Pertanyaannya, di manakah kekuatan nyata lebih dari 50 negeri Muslim di dunia? Mengapa sebagian besar penguasa negeri-negeri Muslim hanya mampu menyampaikan kecaman tanpa langkah strategis yang benar-benar menghentikan penderitaan rakyat Palestina?

Kondisi ini tidak lepas dari kuatnya sekat nasionalisme yang menggerus ukhuwah Islamiah. Nasionalisme membuat persoalan Palestina dianggap semata urusan bangsa Arab atau konflik regional, padahal Islam memandang penderitaan kaum Muslim sebagai persoalan bersama seluruh umat.

Secara ideologis, pembebasan Palestina tidak cukup ditempuh melalui diplomasi internasional yang dinilai berada di bawah pengaruh negara-negara pendukung zionis. Akar persoalan Gaza dipandang berasal dari keberadaan entitas zionis di tanah Palestina.

Karena itu, solusi yang ditawarkan bukan sekadar gencatan senjata sementara, melainkan mengakhiri pendudukan secara menyeluruh melalui persatuan dunia Islam di bawah institusi pemersatu umat, yakni Khilafah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, serta berilah kami penolong dari sisi-Mu.’”(QS. An-Nisa: 75).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).

Menurut penulis, agenda besar umat Islam saat ini adalah membangun kembali persatuan politik umat yang mampu melindungi kaum Muslim, termasuk rakyat Palestina.

Dengan persatuan yang kokoh dan kekuatan yang seimbang, penulis meyakini penderitaan rakyat Palestina dapat diakhiri dan mereka dapat kembali hidup mulia di tanah mereka sendiri.

Sudah saatnya umat tidak sekadar diam menyaksikan tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung. Menyuarakan kebenaran, membangun kesadaran umat, dan menghadirkan solusi yang diyakini bersumber dari ajaran Islam dipandang sebagai bagian dari ikhtiar untuk menghentikan penderitaan rakyat Gaza. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment