by

Desi Ulvia: Hidup Adalah Sebuah Perjalanan Menuju Ke Penghujung

Desi Ulvia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dari wajahnya, tergambar gadis ini murah senyum dan ramah kepada teman namun sangat kuat memegang prinsip. Oleh karena itu, sebagai penulis, Desi Ulvia mengolah kata yang lumayan tajam, dan kritis. Dengan balutan jilbab dan kacamata yang dikenakan sehari-hari, penulis kelahiran Aceh ini tampak sumringah.

Menurut Desi Ulvia, lingkungan ikut berperan dalam perjalanannya sebagai penulis. Di Aceh, katanya, minim sekali orang menulis sesuatu seperti sejarah lokal di Aceh. Dari sinilah dirinya termotivasi untuk menjadi penulis.

Gadis Aceh yang sedang menempuh pendidikan S1, Sejarah Kebudayaan Islam semester 7 ini mengaku bahwa sebagai penulis, dirinya merasakan kepuasan tersendiri saat karya dan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan, dibaca, dipahami dan diaplikasika oleh orang banyak.

Terkait dengan profesi sebagai penulis, Desi Ulvia yang telah menekuni dunia tulis menulis sejak SMP itu bertutur bahwa perjalanan dan proses yang dilaluinya itu berliku-liku, penuh misteri dan luar biasa.

Mengenai perkembangan politik yang terjadi di tanah air, penulis dengan tinggi badan 150 dan berat 48 ini berkomentar bahwa situasi politik yang kini berlangsung tidak berimbang, terlalu banyak gimik dan sensasional.

“Tak seimbang, terlalu banyak gimik dan kerap menuai sensasi tapi tetap harus digeluti supaya tidak ketinggalan zaman dan buta politik.” Tegasnya.

Kepada sesama penulis, Desi Ulvia berpesan, agar tetap konsisten, bertanggung jawab dan objektif dalam menulis suatu hal.

Hidup itu menurut Desi, merupakan sebuah perjalanan. Ya, perjalanan menuju sebuah penghujung kehiduan di dunia ini.

“Hidup adalah perjuangan, perjalanan menuju ke penghujung. Baik yang kita perbuat baik pula yang kita peroleh.” Ujar penyuka warna hitam yang menurutnya netral ini.[]

Comment