by

Desi Wulan Sari, S.E,  M.,Si: Saat Buku Bicara: Demokrasi, Benarkah Diambang “Kematian”?

-Opini-33 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Saat Demokrasi menjadi buah bibir, bukan karena sedang trend apalagi update. Tapi lebih pada rasa penasaran dan ketertarikan apa isi dari sebuah buku. Tidak sulit menemukannya, karena untuk bisa membaca dan mendapatkan bukunya dengan mudah bisa di akses baik cetak maupun e book nya.

Hanya saja, secara kebetulan buku itu dibaca oleh seorang tokoh pejabat negeri, sehingga membuat penasaran publik. Itulah buku How Democratic Die, karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Rasa ketertarikan masyarakat terhadap sistem demokrasi, membuat mereka ingin membaca, memahami dan menganalisa isi buku yang ditulis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt tersebut. Mengikuti rasa penasarannya, masyarakat berbondong-bondong ingin mencari informasi bagaimana sebuah sistem demokrasi mati.

Banyak pakar politik yang mencoba membedah buku tersebut dan memberikan pandangan atas apa yang terjadi dengan demokrasi, saat sistem ini diambang kehancuran di negara asalnya yaitu Amerika.

Secara global, sistem demokrasi memiliki akar yang sama di seluruh dunia. Di manapun diterapkan, sistem demokrasi ini akan memiliki ciri pemerintahan yang sama pula.

Seperti yang disampaikan oleh pengamat hukum Ahmad Khozinudin dalam akun media sosialnya (23/11/2020), “Apakah demokrasi akan mati? Ataukah sejatinya demokrasi telah sejak lama mati? Yang dihidupkan hanyalah “Mitos Kedaulatan Rakyat” agar publik tetap terkesima dan mengerubuti demokrasi, membanggakan dan mengadopsinya untuk mengatur pemerintahan dengan asas sekularisme.

”Ahmad Khozinudin, mengomentari hangatnya perbincangan publik mengenai buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Sistem demokrasi meletakkan kedaulatan di tangan kapitalis yang dilaksanakan oligarki.

UU yang dibentuk bukan mencerminkan kehendak rakyat, tetapi kehendak kapitalis dan oligarki politik, baik pengusaha, partai politik, para kapitalis asing dan aseng, maupun organ kekuasaan eksekutif dan legislatif.

“Mereka ini yang menentukan corak perundang-undangan bukan rakyat. Dan ini terjadi sejak dahulu, baik di negeri ini maupun di Amerika sebagai negara kampiun demokrasi. Praktiknya sama,” kritiknya. (muslimahnews.com, 26/11/2020).

Melihat antusias pada masyarakat, tokoh masyarakat serta pakar hukum dan politik negeri ini seakan menjadi pertanda bahwa penerapan sistem demokrasi hari ini benar-benar telah menjadi momok bagi rakyat. Mengapa? Karena apa yang buku tersebut paparkan memang nyata, dan faktanya itulah yang sedang terjadi hari ini.

Bagaimana kepemimpinan di negeri ini benar-benar menerapkan agenda dan kekuatan politik mereka dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Sebagaimana yang diulas oleh Rizal Malarangeng sbagai pendiri Freedom Institute mengatakan, dalam buku ini salah satu yang paling menarik ialah cerita dan penjelasan tentang kaum demagog, tokoh-tokoh ekstrem di luar sistem. Kaum demagog selalu hadir dalam setiap tahap perkembangan masyarakat.

Di zaman Yunani klasik, ia sudah menjadi bahan telaah Sokrates, dan Plato. Mereka ialah orang yang pandai kasak-kusuk, pencari popularitas, dengan berbekal teori kosong yang mengobarkan kebencian. Berbeda dengan orator di alam demokrasi (Churchill, Obama), kaum demagog biasanya mementingkan agitasi, mempertajam perbedaaan, serta cenderung memainkan emosi massa yang paling mudah terbakar, baik dalam soal golongan, ras, maupun agama (MediaIndonesia.com, 28/11/2020).

Sebagai tambahan literatur, demagog asal kata dari bahasa Yunani. Demos = rakyat, dan Agogos = pemimpin, tetapi makna pemimpin di sini lebih mengarah ke “pengaruh/hasut”. Demagog berarti pemimpin yang pandai “mempengaruhi/hasutan” dengan cara membakar naluri massa untuk meraih tujuan tertentu. Agar massa berpihak padanya, memanfaatkan ketidaktahuan rakyat. Dijelaskan cara-cara “mempengaruhi” nya ini dapat dilakukan oleh demagog dengan metode, antara lain:

1.Mengkambinghitamkan kelompok tertentu.
2.Menyebarkan isu menakutkan pada publik.
3.Berbohong untuk memancing emosi publik.
4.Orasi untuk menebar pesona.
5.Berbuat brutal demi unjuk kekuatan.
6.Menjanjikan sesuatu yang mustahil.
7.Melakukan kekerasan dan intimidasi.
8.Menghina lawan untuk menutup persaingan ide.
9.Seolah bisa memberikan solusi sederhana.

Dalam urusan “mempengaruhi/hasutan” demagog lah juaranya. Memang seorang demagog dalam perpolitikan dengan mudah dapat memanfaatkan emosi rakyat. Inilah yang berbahaya dari seorang demagog. Rakyat tak lagi memiliki pemikiran kritis. Rakyat menjadi mob yang buta terhadap fakta yang ada. (Sumber: www.kompasiana.com, 14/02/2014).

Jelaslah, mengapa buku ini menjadi sorotan pubik akhir-akhir ini. Bahwa demokrasi telah berada di ujung tanduk, itu bisa menjadi sebuah kemungkinan. Jika para penguasa negara tidak lagi memmentingkan urusan rakyat, tidak lagi membawa solusi problematika umat dalam mencapai kesejahteraan, kemakmuran, dan rasa aman bagi rakyatnya.

Maka, amanah yang telah rakyat titipkan pada para pemimpin dan penguasa negara, akan menjadi persoalan pelik secara terus menerus dan lambat laun sistem ini akan lenyap diakibatkan oleh dirinya sendiri.

Saatnya umat berpikir cemerlang, kedaulatan yang dinantikan bukanlah kedaulatan kapitalis, tetapi hanya kedaulatan Allah Swt dengan syariatnya adalah sebaik-baik hukum dan kedaulatan bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.

Itulah Islam Kaffah sebagai sistem negara yang secara komprehensif memberikan solusi atas problematika umat, baik individu, masyarakat hingga negara. Walahu a’lam bishawab.*[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + fifteen =

Rekomendasi Berita