by

Devita Deandra: K-POP Jadi Panutan Dan Inspirasi Anak Muda?

-Opini-39 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Baru-baru ini Wakil Presiden Indonesia, K.H. Ma’ruf Amin mengatakan bahwa kegemaran anak muda akan budaya Korea Selatan seperti K-Pop, diharapkan dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri.

Pernyataan ini beliau sampaikan saat memberi sambutan secara virtual pada peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia, (detik.com, Ahad 20/9/20).

Beliau mengatakan, saat ini K-Pop dan tayangan drama Korea Selatan digemari anak muda Indonesia.

Memang tak bisa dipungkiri, pesona budaya negeri gingseng tersebut membawa pengaruh besar di Indonesia. Penikmatnya pun beragam, dari anak muda hingga orang dewasa.

Namun layakkah Korean Wave menjadi panutan? K-Pop yang hasilkan banyak materi bagi para pelaku industrinya, diharapkan mampu menjadi inspirator. Namun pantaskah negara yang rentan kerusakan life style tersebut dijadikan contoh?

Salah satu kerusakan gaya hidup di negeri ini adalah banyak kasus bunuh diri. Tingkat depresi dan keinginan untuk mengakhiri hidup di Korea Selatan terbilang cukup tinggi, tingkat operasi plastik demi penampilan agar terus menarik, dan tak kehilangan materi pun tak kalah tinggi. Namun apakah materi dan ketenaran lantas menjadi jaminan ketentraman dan kebahagiaan? Faktanya justru kerusakan yang kita dapati dari mereka. Gaya hidup kapitalistik sekuler yang mereka terapkan, justru seolah tak memiliki tujuan.

Negeri seperti inikah yang di jadikan sebagai inpirator para generasi bangsa? Sangat disesalkan, hal itu disampaikan seseorang yang berlatar belakang Kyai.

Jika ingin belajar dari Korea, seharusnya pemerintah Indonesia yang terinspirasi oleh pemerintah Korea Selatan yang memang memberi dukungan penuh terhadap kreativitas warganya, tidak seperti di negeri ini. Pemerintah dan rakyatnya seolah tak pernah sejalan.

Padahal ketika sejalan dapat dibayangkan betapa kuatnya pengaruh sebuah budaya suatu negara. Korsel sendiri tidak hanya mendorong warganya untuk terus berinovasi, tetapi juga menyediakan berbagai lembaga untuk mengakomodasi ide dan pemikiran terkait Hallyu serta memfasilitasinya dengan guyuran dana berlimpah. Sebuah bentuk dukungan serius negara untuk rakyat.

Namun di negeri muslim terbesar yang bernama Indonesia ini justru aneh, ketika generasi muda muslim dalam negeri ini menampakkan jati diri sebagai muslim, mendakwahkan ajaran Islam kaffah dan berpenampilan good looking, hafidz Qur’an justru disematkan kata radikal dan intoleran.

Seakan ini menjadi indikasi bahwa pemerintah saat ini tidak peduli terhadap Islam dengan menebar isu radikal dan membuat ketakutan di tengah masyarakat.

Padahal sebagai bangsa, tentu Indonesia mempunyai jati diri yang tidak kalah dibanding negara lain. Indonesia adalah negara beragama. Inilah yang harus menjadi pemikiran anak negeri, bahwa sebagai negara beragama semua mempunyai tanggung jawab menyebarkan dan menyampaikan pesan ke seluruh dunia bahwa Indonesia memiliki jati diri bangsa yang kokoh. Tidak terperangkap oleh budaya dan paham negara lain. Indonesia mampu menunjukkan dan mencintai budaya sendiri.

Sebagai pemeluk agama samawi yang dibawa Rasulullah SAW dan menjadi dasar keimanan, kita dapat memfilter budaya luar. Para petinggi negeri ini pun seharusnya mampu menjamin hal itu, sehingga tak terjerumus kepada keharaman dengan mengikuti budaya-budaya liberal yang bertentangan dengan agama dan kultur bangsa Indonesia.

Negara seharusnya membentuk para pemuda yang berkepribadian Islam dan tak mencontoh budaya yang dapat merusak akidah.

Islam memiliki standar yang khas dalam membentuk karakteristik umatnya. Islam memberikan batas-batas dan tata cara dalam hubungan dengan Tuhannya, sesama dan dirinya. Semua itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Terbukti, banyak pemuda muslim sukses dengan karya teknologi yang bisa dinikmati hingga hari ini.

Mereka menciptakan sebuah karya yang tidak hanya untuk dirinya, namun ada tanggung jawab besar bahwa hasil karyanya akan berguna bagi orang lain, dan semua yang mereka lalukan akan dimintai pertanggungjawaban di hapadan Allah.

Generasi muda Indonesia, jika ingin menguatkan jati diri dan dikenal ke seluruh dunia, tidak salah jika mempelajari Islam. Dengan aturan yang paripurna dari Sang Pencipta, dan gambaran kehidupan yang tidak hanya mementingkan dunia, membuat umatnya berhati-hati dalam bertindak.

Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sepatutnya didorong untuk mempelajari,  menguasai dan mempromosikan ajaran Islam ke mamcanega sebagai life style global. Dengan begitu maka akan memperkuat terwujudnya rahmatan lil alamin. Bukan sebaliknya generasi di dorong untuk mengikuti dan mencintai budaya lain yang sangat sekuler, jauh dari nilai agama dan tanpa tujuan akhir yang jelas. Wallahu A’lam.[]

*Aktivis Muslimah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − seven =

Rekomendasi Berita