Penulis: Vira Rahayu, S.Kom | Pemerhati Generasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seorang balita bernama Raya asal Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Publik sempat menduga kematiannya disebabkan oleh cacing gelang karena ditemukan lebih dari satu kilogram cacing di dalam tubuhnya.
Namun, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, seperti ditulis kumparan (30/7/2025), penyebab kematian sebenarnya adalah infeksi berat yang memicu sepsis, yakni kondisi ketika infeksi menyebar ke seluruh tubuh hingga menyebabkan kegagalan organ.
Budi menjelaskan, Raya sudah mengalami batuk berdahak lebih dari tiga bulan. Hal ini, sebagaimana dilaporkan Kompas (31/7/2025), melemahkan sistem imunnya sehingga rentan terkena infeksi. Pemeriksaan awal bahkan sempat mengarah pada dugaan meningitis atau tuberkulosis (TBC) sebagai pemicu utama.
Meski cacingan memperparah keadaan, lanjutnya, faktor itu bukanlah penyebab utama kematian.
Ia juga mengimbau masyarakat agar memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis yang disediakan pemerintah. Menurut penjelasan Menkes dalam wawancara dengan DetikHealth (1/8/2025), obat cacing dan obat TBC tersedia gratis di puskesmas, asalkan masyarakat mau melakukan pemeriksaan rutin.
Dalam kesempatan lain, Budi seperti dilaporkan Tempo (1/8/2025), juga menilai puskesmas dan dinas kesehatan daerah masih lemah dalam deteksi dini penyakit.
Kesehatan dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari maqashid syariah, yaitu hifzh an-nafs (menjaga jiwa). Kasus Raya memperlihatkan bahwa kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan juga tanggung jawab moral dan syar’i.
Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa “setiap pemimpin adalah pelayan umat, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari-Muslim).
Maka, ketika seorang anak meninggal akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah, itu menjadi peringatan keras atas lemahnya pelayanan kesehatan.
Islam juga menekankan pentingnya ilmu dan edukasi. Rendahnya literasi kesehatan di masyarakat sering membuat gejala penyakit terlambat dikenali.
Hal ini sejalan dengan laporan WHO (2024) yang menegaskan bahwa literasi kesehatan rendah merupakan hambatan besar dalam pencegahan penyakit menular.
Karena itu, negara berkewajiban memberikan pengetahuan kesehatan berbasis komunitas, sesuai dengan prinsip Islam yang mendorong penyebaran ilmu demi kemaslahatan umat.
Solusi Islam terhadap Permasalahan Ini
Negara perlu memperkuat sistem deteksi dini di puskesmas maupun posyandu, serta memastikan program pencegahan penyakit menular berjalan efektif. Hal ini juga ditegaskan Kemenkes RI (2025) dalam rencana strategisnya mengenai kesehatan masyarakat.
Edukasi kesehatan berbasis masyarakat harus lebih luas, agar orang tua dapat mengenali gejala awal penyakit berbahaya seperti TBC, meningitis, atau cacingan.
Tenaga kesehatan juga dituntut aktif jemput bola, mendatangi warga sebelum pasien datang dalam kondisi kritis. Prinsip amanah dalam pelayanan publik harus ditegakkan. Kesehatan bukan barang dagangan, melainkan hak rakyat yang wajib dijamin negara sesuai prinsip keadilan sosial dalam Islam.
Bahkan, menurut Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, pengelolaan dana publik (baitul maal) harus diarahkan untuk mendukung pelayanan kesehatan yang adil dan merata.[]










Comment