Dihuni Hewan Raksasa dan Spesies yang Hilang Arkeolog Temukan Dunia Tenggelam Berusia 140.000 Tahun di Bawah Dasar Laut

Budaya930 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  — Penemuan mengejutkan di bawah laut Selat Madura mengungkap jejak dunia purba yang telah lama hilang. Dua fragmen tengkorak manusia dan ribuan fosil hewan membuka tabir Asia Tenggara masa lalu yang terkArkeolog Temukan Dunia Tenggelam ubur selama lebih dari 140.000 tahun.

Terkubur di antara Pulau Jawa dan Madura, penemuan ini menantang pandangan lama tentang sejarah manusia purba. Para ilmuwan menyebutnya sebagai situs fosil hominin bawah air pertama yang ditemukan di wilayah ini.

Bukan sekadar kumpulan tulang belulang, temuan ini diduga sebagai bukti fisik pertama dari Sundaland, daratan purba yang dulu menghubungkan sebagian besar Asia Tenggara selama Zaman Pleistosen.

Fragmen Tengkorak Homo Erectus

Penemuan berpusat pada dua fragmen tengkorak—bagian depan dan parietal—yang diidentifikasi sebagai milik Homo erectus, nenek moyang awal manusia modern. Fosil ini ditemukan secara tidak sengaja saat pengerukan pasir laut untuk reklamasi pada tahun 2011.

Namun, baru-baru ini tim peneliti yang dipimpin arkeolog Harold Berghuis dari Universitas Leiden, Belanda, memastikan usia dan spesies temuan tersebut. Berdasarkan metode penanggalan Optically Stimulated Luminescence (OSL), fosil diperkirakan berasal dari 162.000 hingga 119.000 tahun lalu.

Situs Purba dengan Ribuan Fosil

Selain tengkorak, ditemukan lebih dari 6.000 spesimen vertebrata. Fosil-fosil ini berasal dari berbagai spesies, termasuk komodo, kerbau, rusa, dan Stegodon, gajah purba raksasa setinggi lebih dari 4 meter yang kini telah punah.

Situs ini terlindungi oleh endapan lumpur dan pasir padat selama ribuan tahun, menciptakan kapsul waktu alami yang menyimpan kekayaan data arkeologis dan paleontologis.

Jejak Sungai yang Hilang dan Kehidupan di Sekitarnya

Analisis geologi juga mengungkap sisa-sisa sistem sungai purba yang diyakini bagian dari Sungai Solo kuno, yang dahulu mengalir ke arah timur melintasi Paparan Sunda.

Wilayah ini kemungkinan besar merupakan sabana yang luas, bukan hutan lebat seperti sekarang. Kehadiran fosil antelop, rusa, dan herbivora besar mengindikasikan lingkungan terbuka dengan sumber makanan melimpah bagi hewan dan manusia purba.

Bukti Perburuan dan Peralatan

Tanda-tanda irisan pada tulang hewan menunjukkan aktivitas pembantaian yang disengaja, bukti bahwa Homo erectus di wilayah ini menggunakan alat batu untuk berburu dan mengolah daging.

“Periode ini menunjukkan keragaman morfologi dan mobilitas populasi hominin yang tinggi di kawasan ini,” ujar Berghuis.

Penemuan ini memperkuat pemahaman bahwa manusia purba telah beradaptasi dengan lingkungan menggunakan teknologi sederhana namun efektif.

Menyusun Ulang Peta Migrasi Manusia Purba

Keberadaan Homo erectus di bawah laut Madura memperluas wilayah persebarannya di Asia Tenggara. Dengan tubuh tegap, kaki panjang, dan lengan lebih pendek, spesies ini memiliki kemiripan struktur tubuh dengan manusia modern.

Temuan ini menawarkan perspektif baru dalam studi migrasi dan adaptasi manusia purba di wilayah yang kini terpisah oleh lautan akibat naiknya permukaan air sejak akhir Zaman Es, antara 14.000 hingga 7.000 tahun lalu.

Dari penemuan tak sengaja di dasar laut, penelitian ini kini menjadi tonggak penting dalam memahami evolusi manusia di Asia Tenggara. Melalui pendekatan multidisipliner—arkeologi, geologi, hingga lingkungan purba—para ilmuwan berhasil membuka bab tersembunyi sejarah manusia yang selama ini tertimbun di bawah laut. []

Comment