by

Din Syamsudin Berharap Ormas Dapat Awasi Warga yang Pulang dari Suriah

KH. Prof. Din Syamsudin, Ketua Badan Pertibagan MUI.[Dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Prof Din Syamsudin, penasehat MUI berbicara blak-blakan di acara Indonesia Lawyers club (ILC), Selasa (15/5).
Pada waktu yang diberikan, Din Syamsudin mengatakan bahwa ISIS itu asli diciptakan oleh CIA untuk menjatuhkan pengaruh Uni Soviet di Timur Tengah dan Afganistan.
KH Prof Din Syamsudin: Terorisme Diklaim tapi Sebenarnya Ada Banyak Pemainnya di Situ
KH Prof Din Syamsudin menjelaskan terorisme dengan gamblang sekali. Ia menegaskan, terorisme bukan semata aksi kriminal luar biasa, tetapi ada dimensi intelijen, politik, dan ekonomi. Termasuk faktor geopolitik global.
Dia mengaku menonton video Hillary Clinton saat kampanye Pilpres AS, yg mengakui ISIS itu ciptaan Amerika juga. “Jadi, ISIS itu bukan Islam. Itu yang saya sebut self crime islamic terrorism, diklaim tapi sebenarnya ada pemain-pemain,” kata Pak Din, diiringi tepuk tangan peserta ILC.
Karena itu, dia mengusulkan dalam menangani masalah terorisme, berikanlah perhatian pula pada faktor non-ideologi. Sebab, tambahnya, tanpa sentuhan faktor ekonomi, politik, dan intelijen, faktor ideologi saja tidak cukup menyebabkan munculnya terorisme.
Terakhir, Din Syamsudin berharap janganlah kasus terorisme ini membuat saling meneror sesama anak bangsa, hanya karena berbeda ormas, agama, partai, dan profesi. “Karena sekarang juga terjadi saling teror diantara anak bangsa hanya karena perbedaan pandangan dalam menyikapi sesuatu, termasuk kasus terorisme itu sendiri,” kata Din Syamsudin.
Ia juga mengusulkan, selain pendekatan law enforcement, juga mesti dilakukan melalui pendekatan kultural. “Sejak tahun 2003, ormas-ormas bersama MUI sudah meminta ke Polri. “Jangan mengaitkan terorisme dengan Islam. Mungkinkah Polri menggunakan istilah lain, seperti kelompok pengacau keamanan. Karena, ketika Polri mengaitkan terorisme dengan Islam, maka itu jelas menyinggung perasaan umat Islam yang jelas-jelas tidak memiliki pemahaman radikal. Inilah salah satu cara dengan pendekatan kultural,” ujarnya.
Din Syamsudin juga menyebut, ormas-ormas Islam sudah lama minta data siapa saja orang-orang yang disebut pulang dari Suriah. Jika data itu diketahui ormas Islam, maka ormas bisa ikut memantau. “Tapi kita tidak tahu,” tegasnya.
“Pernah disebut jumlahnya seribu orang. Lantas, saya pernah usul ke Kapolri (Dai Bachtiar), bagaimana jika kita mengumpulkan mereka, untuk kita bicarakan bersama agar mereka bisa diselesaikan secara Indonesia, tidak dikejar-kejar. Tapi, ketika itu, usulan saya kandas karena data mereka yg pulang dari Suriah tak pernah diberikan ke kita. Jadi, kalau mau bekerjasama dengan ormas, berilah mereka data. Si ini ada di kampung ini, sehingga ybs bisa dipantau,” tamahnya.
Mohon maaf, umat Islam Indonesia sudah kenyang dengan perekayasaan seperti Komando Jihad. Dan ada lagi kejadian lain serupa. “Saya termasuk yang geram dan gusar juga,” seraya bertanya, mengapa teror terjadi dan terjadi lagi. Kita dukung Polri, negara, namun mungkinkah mempertimbangkan suara2 dari masyarakat,” ucapnya.[SS]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 9 =

Rekomendasi Berita