Dinamika Dakwah Nabi Musa dalam Tafsir An-Nazi’at: Pesan Moral dari Ta’lim Bakda Subuh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin

Opini997 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, BOGOR — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Hijri 2, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Ahad (19/4/2026) pagi. Dalam ta’lim bakda Subuh yang rutin digelar, Didin Hafidhuddin menyampaikan tafsir Al-Qur’an Surat An-Nazi’at ayat 15–33, dengan fokus pada dinamika dakwah Nabi Musa AS dalam menghadapi kekuasaan Firaun yang zalim, jahat, dan penuh kesombongan.

Pengajian diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan tilawah ayat-ayat yang menjadi pokok bahasan. Dalam penjelasannya, Prof. Didin menekankan bahwa kisah Nabi Musa AS merupakan salah satu narasi paling dominan dalam Al-Qur’an, yang sarat dengan pelajaran (ibrah) bagi umat manusia, khususnya dalam menghadapi kekuasaan yang melampaui batas.

Menurutnya, kisah tersebut bukan hanya menjadi pelipur lara bagi Muhammad SAW dalam upaya menghadapi penentangan kaum Quraisy, tetapi juga menjadi penguat keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kebatilan, sekuat apa pun ia berdiri.

Prof. Didin menjelaskan, Nabi Musa AS memiliki keistimewaan saat menerima wahyu secara langsung dari Allah SWT tanpa perantara Malaikat Jibril. Perintah yang diembannya sangat berat: menghadapi Firaun, simbol kekuasaan absolut yang menindas rakyatnya.

Dalam Al-Qur’an, lanjutnya, Firaun digambarkan sebagai penguasa yang memecah belah masyarakat, menindas kelompok tertentu, bahkan membunuh bayi laki-laki demi mempertahankan kekuasaan.

“Jika pola seperti ini kita temukan dalam kepemimpinan hari ini—adu domba, penindasan, dan manipulasi kekuasaan—maka itu adalah cerminan karakter Firaun,” ujar Prof. Didin di hadapan jamaah.

Lebih jauh, ia menguraikan bahwa kekuatan Firaun tidak berdiri sendiri. Ia didukung oleh berbagai elemen: militer yang loyal tanpa kritik, para penyihir yang tunduk, kekuatan ekonomi yang direpresentasikan oleh Qarun, serta teknologi dan infrastruktur yang dikembangkan oleh Haman.

Bahkan, ada pula figur manipulatif seperti Samiri yang memainkan peran dalam menyesatkan masyarakat.

Namun demikian, Prof. Didin menegaskan bahwa sebesar apa pun kekuatan tersebut, ia tetap memiliki batas. Melalui mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa AS—seperti tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya—Allah SWT menunjukkan bahwa kebenaran akan mengalahkan kepalsuan.

Para penyihir yang semula menjadi alat kekuasaan, justru berbalik beriman setelah menyaksikan kebenaran tersebut.

Kisah ini mencapai klimaks saat Firaun dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah. Dalam detik-detik terakhir, Firaun sempat menyatakan keimanan, namun sudah terlambat.

“Taubat yang datang saat sakaratul maut tidak lagi diterima,” jelas Prof. Didin, seraya mengingatkan bahwa kesempatan kembali kepada Allah harus dilakukan sebelum ajal menjemput.

Menariknya, di tengah kerasnya karakter Firaun, Nabi Musa AS tetap diperintahkan untuk berdakwah dengan lemah lembut. Pendekatan persuasif ini, menurut Prof. Didin, menjadi pelajaran penting bagi para dai agar tidak mengedepankan kekasaran dalam menyampaikan kebenaran.

Dalam sesi tanya jawab, Prof. Didin juga menyinggung isu kontemporer, termasuk maraknya kekerasan seksual di lingkungan kampus. Ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan dan keagamaan harus menjadi zona integritas yang bersih dari praktik-praktik tersebut. Seluruh civitas akademika, kata dia, tidak boleh bersikap pasif.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena promosi nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran agama di sejumlah ruang publik, yang didukung kekuatan materi dan jaringan. Dalam konteks ini, umat Islam diingatkan untuk terus memperkuat iman dan berlindung kepada Allah dari potensi penyimpangan.

Menjawab pertanyaan tentang relevansi istilah “Firaun” pada masa kini, Prof. Didin menyebut istilah “Firaunisme” lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem atau karakter kekuasaan yang zalim.

Ia optimistis bahwa kekuatan yang dibangun di atas ketidakadilan pada akhirnya akan runtuh, sebagaimana sejarah telah membuktikan.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon kesehatan bagi kaum muslimin serta kebaikan dunia dan akhirat. Jamaah pun meninggalkan masjid dengan membawa pesan kuat: bahwa dakwah membutuhkan keteguhan, hikmah, dan keyakinan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya.[]

Comment