Dr. Handi Risza: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Sepenuhnya Dirasakan Masyarakat

Ekonomi, Nasional884 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) dan Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan (ADHK).

Angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.
Handi mengatakan capaian itu menunjukkan pemulihan ekonomi nasional yang cukup kuat.

Namun, menurut dia, pertumbuhan masih terkonsentrasi pada sejumlah sektor tertentu sehingga dampaknya belum menyebar secara luas.

“Meskipun pencapaian angka pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir dan salah satu yang tertinggi di G20, tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terasa di lapangan,” kata Handi dalam rilisnya, Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun turut didorong momentum Ramadan dan Idul Fitri yang berlangsung sejak pertengahan Februari hingga pertengahan Maret 2026.

Aktivitas konsumsi rumah tangga meningkat, terutama untuk kebutuhan makanan, minuman, pakaian, transportasi, dan akomodasi.

“Pemberian Tunjangan Hari Raya yang kemudian dibelanjakan untuk makanan, minuman, pakaian, dan akomodasi menyebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 54,36 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peningkatan mobilitas masyarakat selama masa libur Lebaran turut mendorong pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen. Sementara sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh hingga 13,14 persen.

Selain faktor musiman, Handi menilai sejumlah program pemerintah ikut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembayaran gaji ke-14 atau THR aparatur sipil negara, pengangkatan ASN baru, serta peningkatan belanja barang dan jasa pemerintah disebut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

“Faktor pendorong lainnya adalah realisasi program pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis yang berhasil mendorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi sektor terkait,” katanya.

Meski demikian, Handi mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2026 juga dipengaruhi efek basis rendah atau low base effect dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang relatif lebih rendah.

“Tidak bisa dipungkiri masih terdapat efek basis rendah pada pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2026,” ujarnya.

Secara triwulanan atau quarter to quarter, ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan Triwulan IV 2025.

Menurut Handi, kondisi tersebut merupakan pola musiman yang lazim terjadi setelah puncak aktivitas ekonomi pada akhir tahun.

Ia juga mengingatkan pemerintah dan pelaku usaha untuk mewaspadai tantangan global hingga akhir tahun. Ketidakpastian geopolitik internasional, konflik Iran dan Amerika Serikat, potensi krisis energi, pelemahan mata uang, hingga tekanan inflasi global dinilai masih akan mempengaruhi ekonomi domestik.

“Kondisi geopolitik global masih tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan masih akan melemah hingga akhir tahun 2026. Kondisi ini turut memberikan tekanan pada ekonomi domestik, sehingga perlu bersiap lebih hati-hati dan terukur,” imbuh Handi.[]

Comment