RADARINDONESIANEWS .COM, NEW YORK — Presiden Nusantara Foundation sekaligus Direktur Jamaica Muslim Center (JMC), New York, Dr. M. Imam Shamsi Ali, Lc., Ph.D, mengecam keras pernyataan bernuansa Islamofobia yang dilontarkan anggota Dewan Kota New York, Vicki Paladino, yang menyerukan “pengusiran Muslim dari negara-negara Barat”.
Dalam pernyataan tertulisnya kepada Redaksi, Rabu (23/12/2025), Imam Shamsi Ali menegaskan bahwa retorika tersebut tidak hanya ofensif, tetapi juga berbahaya dan bertentangan dengan nilai-nilai Amerika.
“Saya adalah Muslim Amerika yang bangga dan warga New York yang bangga. Pernyataan seperti itu tidak mencerminkan nilai kebebasan, martabat, dan keadilan yang menjadi fondasi kota ini,” ujar Imam Shamsi Ali.
Ia menekankan bahwa New York merupakan rumah bagi lebih dari satu juta Muslim yang berkontribusi aktif dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, kepolisian, hingga pelayanan publik. Menurutnya, menyerang satu komunitas agama sama artinya dengan merusak jati diri New York sebagai kota yang beragam dan inklusif.
“Muslim adalah guru, dokter, polisi, pengusaha kecil, dan pelayan publik. Menstigma seluruh komunitas berarti menyerang sendi utama kehidupan kota ini,” tegasnya.
Imam Shamsi Ali juga mengingatkan bahwa ujaran kebencian dari pejabat publik tidak berdiri sendiri. Retorika semacam itu, kata dia, berpotensi memicu ketegangan sosial dan memperbesar risiko kekerasan, terutama di tengah meningkatnya kejahatan berbasis kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai tokoh yang hidup dan berdakwah di New York sejak sebelum tragedi 11 September 2001, Imam Shamsi Ali mengaku merasakan langsung dampak nyata dari Islamofobia.
“Saya menyaksikan bagaimana kata-kata bisa berubah menjadi ancaman, pelecehan, bahkan kekerasan. Karena itu, pernyataan semacam ini bukan hanya tidak pantas, tetapi sangat tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menilai pernyataan Vicki Paladino bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari pola ujaran rasis yang berulang dan berpotensi merusak kepercayaan publik, terutama di kalangan komunitas minoritas yang rentan.
Imam Shamsi Ali juga menyinggung meningkatnya sentimen anti-Muslim secara nasional, termasuk serangan politik terhadap figur Muslim progresif seperti Zohran Mamdani, yang disebutnya sebagai cerminan narasi berbahaya dalam diskursus politik Amerika saat ini.
Menurutnya, sikap tegas dari pimpinan Dewan Kota New York yang menyerukan tindakan disipliner merupakan langkah awal yang penting, namun harus diikuti dengan komitmen berkelanjutan untuk melawan segala bentuk kebencian.
“Ini adalah saatnya kepemimpinan, bukan keheningan,” kata Imam Shamsi Ali.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh warga New York untuk menjaga persatuan dan menolak politik kebencian. Ia mengibaratkan New York sebagai kota yang berdiri di atas jembatan—bukan hanya jembatan fisik antarwilayah, tetapi juga jembatan kemanusiaan antarwarga.
“Merusak jembatan-jembatan itu adalah tindakan tidak patriotik. Kebencian tidak boleh mendefinisikan kita. Persatuanlah yang harus menang,” imbuh Imam Shamsi yang juga aktivis dialog lintas iman Kota New York ini ini.[]











Comment