RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK – Imam dan cendekiawan Muslim Indonesia di Amerika Serikat, Shamsi Ali, menilai Islam hingga saat ini masih menjadi agama yang paling banyak disalahpahami oleh masyarakat dunia. Pandangan tersebut disampaikannya dalam khutbah Jumat di Kota New York, Amerika Serikat, pada 12 Juni 2026.
Menurut Shamsi Ali, kesalahpahaman terhadap Islam terjadi di tengah perkembangan agama tersebut yang terus meningkat secara global serta kemajuan teknologi informasi yang seharusnya memudahkan masyarakat memperoleh pemahaman yang benar.
“Tak dapat disangkal bahwa Islam adalah agama yang paling disalahpahami oleh banyak orang. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah perkembangannya yang terus meningkat dan tak terbendung, serta di era kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi,” ujar Shamsi Ali.
Ia menilai, salah satu penyebab munculnya kesalahpahaman tersebut adalah adanya pihak-pihak yang sengaja membangun citra negatif tentang Islam.
“Ada pihak-pihak yang tidak menyukai bahkan takut terhadap perkembangan Islam. Dengan berbagai fasilitas yang mereka miliki, termasuk media, mereka membangun narasi bahwa Islam adalah agama yang buruk, berbahaya, dan penuh permusuhan,” katanya.
Dalam khutbahnya, Shamsi Ali menjelaskan sejumlah karakter utama Islam yang menurutnya penting dipahami masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim.
Ia menegaskan bahwa Islam merupakan agama rabbani atau agama yang berasal dari Allah SWT, bukan hasil pemikiran maupun inovasi manusia.
“Islam adalah agama yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia. Nabi Muhammad SAW hanya menerima dan menyampaikan wahyu, bukan pencipta agama,” ujarnya.
Selain itu, Shamsi menyebut Islam sebagai petunjuk hidup yang menyeluruh karena mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.
“Islam mengatur perilaku di masjid sekaligus mengatur perilaku di pasar. Tidak ada pemisahan antara kehidupan spiritual dan kehidupan sosial,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyoroti aspek rasionalitas dalam Islam. Menurutnya, ajaran Islam memiliki landasan logis yang kuat dan sangat menghargai penggunaan akal.
“Islam adalah agama yang sangat rasional. Karena itu, ilmu dan pemahaman menjadi jalan kemuliaan dan jalan menuju kebaikan,” ujarnya.
Shamsi bahkan mengutip pandangan pakar studi agama asal Inggris, Karen Armstrong, yang pernah menyebut Islam sebagai agama yang paling rasional.
“Karen Armstrong pernah mengatakan bahwa agama yang paling rasional adalah Islam, meskipun masih banyak umat Islam yang kurang rasional dalam menyikapi berbagai persoalan,” katanya.
Lebih lanjut, Shamsi menjelaskan bahwa Islam juga merupakan agama yang praktis, mudah dijalankan, serta memberikan berbagai keringanan bagi pemeluknya ketika menghadapi kesulitan.
“Islam bukan agama yang sulit dan kaku. Semua amalan memiliki kemudahan dan fleksibilitas tanpa melanggar prinsip-prinsip dasarnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan dan moderasi dalam ajaran Islam. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta mendorong sikap toleran terhadap sesama manusia.
“Komitmen terhadap Islam tidak mengurangi nilai kebaikan sosial kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan,” katanya.
Menanggapi anggapan bahwa Islam lebih menonjolkan aspek hukum daripada spiritualitas, Shamsi menilai pandangan tersebut tidak tepat.
“Islam sangat identik dengan nilai-nilai spiritual. Bahkan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, tidur, hingga pernikahan selalu dikaitkan dengan keberkahan dan hubungan dengan Allah,” ujarnya.
Di akhir khutbahnya, Shamsi Ali menegaskan bahwa Islam memiliki karakter universal yang melampaui batas ras, bangsa, maupun status sosial.
“Islam adalah agama dan jalan hidup untuk semua manusia. Islam adalah jalan menuju kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat,” tuturnya.
Khutbah tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam melalui sumber-sumber yang benar, sehingga berbagai kesalahpahaman yang selama ini berkembang dapat diluruskan.[]













Comment