Dua Nafas, Film Kolaborasi Indonesia-Korea: Angkat Tema Cinta Nenek dan Cucu

Hukum52 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Gelombang Korean Wave atau Hallyu yang terus berkembang di Indonesia tidak hanya ditandai oleh popularitas grup K-Pop seperti BTS, BLACKPINK, NCT, dan EXO. Industri perfilman Korea Selatan juga semakin mengukuhkan pengaruhnya di Tanah Air melalui berbagai karya yang berhasil menembus jutaan penonton.

Film-film seperti Parasite, Train to Busan, Exhuma, hingga The Moon menjadi bukti bahwa karya sineas Korea mampu diterima lintas budaya. Di sisi lain, drama Korea terus menjadi tontonan favorit masyarakat Indonesia dan membangun kedekatan emosional dengan para penikmatnya.

Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi kolaborasi sineas Korea Selatan dan Indonesia dalam memproduksi Film Dua Nafas, sebuah drama keluarga yang mengangkat tema kasih sayang, pengorbanan, dan ikatan emosional antara nenek dan cucu.

Produser Park Joung-Kuk mengakui besarnya penerimaan masyarakat Indonesia terhadap produk hiburan Korea menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penggarapan film tersebut.

“Tidak bisa dipungkiri industri entertainment Korea menjadi hiburan yang diterima oleh masyarakat Indonesia. Musik Korea maupun film dan drama Korea mendapatkan sambutan luar biasa. Realitas itulah yang mendorong kami untuk berani bekerja sama dengan sineas Indonesia dalam memproduksi Dua Nafas. Kami yakin film ini akan menjadi sesuatu yang berbeda dan diterima dengan antusias oleh penonton Indonesia,” ujar Park dalam konferensi pers.

Sementara itu, Eksekutif Produser Kwon Dae-Hyung menjelaskan, pemilihan cerita yang diadaptasi dari karya Korea didasarkan pada kesamaan nilai budaya antara masyarakat Korea dan Indonesia.

“Sejatinya seni, budaya, dan karakteristik masyarakat Korea dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Kedua masyarakat sangat menghormati orang tua, terutama sosok nenek dalam keluarga. Karena itulah cerita ini terasa dekat dan mudah diterima oleh masyarakat kedua negara,” kata Kwon.

Menurut dia, tema keluarga yang menjadi ruh utama Dua Nafas bersifat universal sehingga mampu menjangkau penonton dari berbagai latar belakang budaya.

Kisah Pengorbanan yang Menguras Emosi

Film Dua Nafas mengisahkan perjalanan hidup Anto, seorang anak yang harus meninggalkan kenyamanan hidup di Jakarta untuk tinggal bersama neneknya, Mariyam, di sebuah desa terpencil.

Kisah bermula ketika sang ibu, Wati, terpaksa menitipkan Anto kepada Mariyam demi masa depan putranya. Keputusan itu bukan pilihan yang mudah, namun keadaan memaksanya mengambil langkah tersebut.

Bagi Anto yang terbiasa dengan kehidupan kota, tinggal di desa menjadi pengalaman yang berat. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan sederhana, jauh dari fasilitas modern, serta menjalani hari-hari di rumah kecil yang sunyi bersama sang nenek.

Pada awalnya Anto merasa terasing dan kesepian. Namun perlahan kehidupannya berubah setelah bertemu Putri dan Udin, dua sahabat yang membuat masa kecilnya di desa menjadi lebih berwarna.

Seiring waktu, Anto mulai memahami ketulusan kasih sayang Mariyam. Di tengah segala keterbatasan, sang nenek selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi cucu yang dicintainya.

Hubungan keduanya pun tumbuh semakin erat. Dari kehidupan yang sederhana, Anto belajar bahwa cinta, perhatian, dan kehangatan keluarga jauh lebih berharga dibanding kemewahan yang pernah ia nikmati di kota.

Cerita kemudian melompat 16 tahun kemudian. Anto tumbuh menjadi seorang dokter muda yang sukses. Dengan penuh kebanggaan, ia kembali ke desa untuk menemui nenek yang telah membesarkannya.

Ia membawa ijazah dokter sebagai hadiah sekaligus bukti bahwa seluruh pengorbanan Mariyam selama bertahun-tahun tidak sia-sia.

Namun takdir berkata lain. Setibanya di rumah, Anto mendapati meja makan telah dipenuhi hidangan kesukaannya. Sang nenek rupanya telah mempersiapkan kepulangan cucu tercinta dengan penuh kebahagiaan.

Sayangnya, momen yang seharusnya menjadi pertemuan penuh haru itu berubah menjadi duka mendalam. Anto menemukan Mariyam telah meninggal dunia dalam posisi duduk sambil menunggu kedatangannya.

Sosok yang selama ini menjadi tempat pulang itu mengembuskan napas terakhir sebelum sempat mendengar ucapan terima kasih dari cucu yang sangat dicintainya.

Kolaborasi Kreatif Indonesia dan Korea Selatan

Film berdurasi sekitar 93 menit ini disutradarai oleh Hasto Broto dengan dukungan kolaborasi kreatif antara Indonesia dan Korea Selatan.

Selain bertindak sebagai produser, Park Joung-Kuk juga terlibat aktif dalam pengembangan proyek bersama Syakir Daulay yang turut duduk sebagai produser.

Skenario film ditulis oleh Jo Hyeon Suk dan Exan Zen, yang meramu kisah sederhana namun sarat emosi tentang keluarga, cinta, dan pengorbanan.

Park berharap film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memberikan warna baru bagi perkembangan perfilman nasional.

“Dengan kerendahan hati yang paling dalam, kami memohon doa dan dukungan rekan-rekan jurnalis agar film ini dapat menjadi bagian dari khazanah indah perfilman Indonesia dan ikut menyegarkan industri film nasional,” ujarnya.

Ia juga berharap nilai-nilai keluarga yang diangkat dalam film tersebut mampu menyentuh hati penonton Indonesia.

“Kisah cinta dan kasih sayang antara nenek dan cucu adalah cerita yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kami berharap penonton dapat menemukan kenangan, kerinduan, dan kehangatan keluarga mereka sendiri dalam film ini,” tutur Park.

Film Dua Nafas menjadi salah satu bentuk kolaborasi budaya Indonesia dan Korea Selatan yang tidak hanya mengandalkan popularitas Hallyu, tetapi juga mengangkat nilai-nilai universal tentang keluarga, pengorbanan, dan cinta yang melampaui batas negara maupun generasi.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 2 Juli 2026.

Data Produksi Film Dua Nafas

Produser

Park Joung-Kuk

Syakir Daulay

Eksekutif Produser

Kwon Dae-Hyung

Sutradara

Hasto Broto

Penulis Skenario

Jo Hyeon Suk

Exan Zen

Art Director

Afriyas SK

Sound Recordist

Zavier Mulia Harimurti

Editor

Elang Tinangon

Scoring Music

Anwar Faudzi

Director of Photography

Asep

Pemeran

Aty Cancer

Adelia Rasya

Auzan Noh Karepesina

Mantra Gurindam Smaratungga

Bilqis Hafsa. []

Comment