El Nino dan Kebijakan yang Tidak Memihak Petani Lokal

Opini157 Views

 

 

 

Oleh: Triana Amalia, Aktivis Muslimah

___________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pemerintah Indonesia akan melakukan impor beras dari India untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang disebabkan oleh fenomena alam El Nino. Hal ini diutarakan oleh Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan seperti ditulis detik finance (15/6/2023).

MoU sudah ditandatangani dan direncanakan akan mengimpor beras sebanyak satu juta ton. Rencana tersebut akan ditindaklanjuti oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) ke Perum Bulog untuk impor beras dua juta ton sepanjang 2023.

Terkait rencana ini, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara seperti ditulis katadata.co.id (16/6/2023) mengatakan bahwa kebijakan impor beras tersebut dinilai tanpa persiapan yang matang dalam artian tidak ada diskusi dengan perwakilan petani lokal. Pasalnya, El Nino merupakan kondisi yang sudah bisa diperkirakan tahun sebelumnya.

Dia mengatakan bahwa pengadaan beras Bulog seharusnya sudah ditingkatkan sejak tahun lalu. Pemerintah juga seharusnya bisa menambah produksi sejak jauh hari dengan meningkatkan kualitas benih dan bantuan pupuk.

Sementara itu di Cirebon, inilahkoran 16/6/2023) menulis bahwa Wakil Bupati Cirebon, Wahyu Tjiptaningsih (Ayu), menghadiri tasyakuran sedekah bumi panen raya padi di Desa Wargabinangun. Acara tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas banyaknya padi yang dihasilkan. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia secara mandiri tidak akan kekurangan stok beras.

Hal serupa pun terjadi di Provinsi Bali tepatnya di Kabupaten Tabanan. Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Riza Taufiq Hasan mengatakan bahwa, panen raya ini merupakan wujud nyata bahwa siap memenuhi kebutuhan pangan. (KilasBali.com, 16/06/2023)

Di balik rencana impor beras dengan dalih menghindari dampak El Nino. Namun sebenarnya apa itu El Nino? Menurut BMKG El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.

Pemerintah Indonesia seperti penuturan Bhima sebaiknya sudah mengetahui fenomena ini dari BMKG dan mempersiapkannya bersama-sama dengan petani lokal. Tidak memutuskan secara sepihak. Jika hal ini terus terjadi maka para pemuda di Indonesia tidak mau meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani. Para pemuda lulusan jurusan pertanian sebagian besar bahkan tidak mau melakukan inovasi untuk pertanian, tetapi berprofesi di luar jurusannya semasa kuliah.

Semua ini terjadi karena kebijakan kapitalistik. Kapitalis membuat para pemangku kebijakan seakan mengabaikan kesejahteraan petani lokal. Karena sistem ekonomi kapitalis mewajibkan negara yang menganutnya tunduk pada peraturan perdagangan bebas.

Hal ini berbeda dengan sistem perekonomian Islam. Sistem Islam sangat memperhatikan hajat rakyat sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung).

Setiap kebijakan harus berpihak kepada rakyat dan memperhatikan hal yang mungkin terjadi seperti El Nino sehingga tidak merugikan petani lokal. Caranya dengan memasok cadangan beras jika ada panen raya. Tidak bergantung pada korporasi dan impor.

Kepala negara memaksimalkan manfaat dari lahan pertanian, kemampuan para pemuda yang memiliki inovasi di bidang pertanian dimanfaatkan betul untuk mengelola tanah pertanian agar menghasilkan banyak bahan pangan. Sistem Islam pun memberikan subsidi untuk pengelolaan pertanian.

Pemerintah Islam menyediakan logistik terbaik untuk mendistribusikan bahan pangan ke seluruh daerah dan memberikan mekanisme pasar terbaik. Sungguh luar biasa adil sistem yang diciptakan oleh Allah yang tidak akan merugikan manusia. Wallahualam bissawab.[]

Comment