Empat Syarat Agar Pekerjaan Menjadi Ibadah, Bukan Sekadar Rutinitas

Opini1302 Views

Penulis: Amir Kumadin | Alumni IAIN Walisongo Semarang, Direktur Penerbit Intuisi Press, Penulis Lebih dari 15 Judul Buku

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Mayoritas dari kita, mungkin sudah tahu, bahwa sebuah tindakan atau pekerjaan yang baik itu merupakan ibadah.

Misal, bekerja menjadi guru/dosen, menjadi pedagang/pengusaha, menjadi gojek, bekerja di kantor/perusahaan, dll, atau bahkan tindakan-tindakan seperti berhubungan intim suami-istri.

Ternyata sebuah amalan yang berupa tindakan atau pekerjaan itu tidak secara otomatis menjadi sebuah ibadah kita kepada Allooh ‘Azza wa Jalla, kecuali memenuhi syarat-syarat berikut ini:

I. Berdoa, minimal membaca basmallah sebelum memulai setiap tindakan/pekerjaan.*

Rosuulullooh saw bersabda:

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يَبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Segala perbuatan baik yang tidak diawali dengan membaca *”bismillaah”* itu terputus”, (HR. Ar-Rahawy). Hal ini terdapat di dalam kitab Al-Arba’in dan juga di dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir karya Imam As-Suyuti.

Sebagian ulama menafsirkan kata *”terputus”* dalam arti bahwa “tindakan” atau “pekerjaan” tersebut terputus dari rahmat dan berkah Allah”. Tapi tahukah Anda, bahwa terputus dari rahmat dan keberkah-Nya bisa berarti merugi dan celaka? Yang berarti juga, bahwa apa yang dilakukan tidak akan sampai pada manifestasi ibadah kepada-Nya.

Sebab dari itu, mayoritas ulama sependapat bahwa setiap amalan yang berupa ibadah ritual maupun dalam kehidupan sehari-hari harus diawali dengan membaca *”bismillaah”*.

II. Awali setiap amalan (tindakan atau pekerjaan) dengan niat untuk beribadah kepada Allooh Ta’aalaa.*

Semua tergantung kepada apa yang menjadi niatnya. Niat itu analog dengan sebuah visi dari setiap tindakan, aktivitas, atau pekerjaan. Jika niatnya ibadah, maka akan mendapatkan nilai ibadah dalam tindakannya tersebut. Jika niatnya pamer, maka akan mendapatkan apa yang menjadi niatnya, yaitu pamer dalam tindakannya tersebut.

Nabi saw bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju”, (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat itu sebab, dan tindakan atau pekerjaan (amalan) itu akibat. Sehingga mustahil ada amalan tanpa adanya niat yang mendahului atau mendasarinya.

Seseorang yang tidak menetapkan niat dalam suatu amalan ibarat orang sakit jiwa alias gila.

Tidak berhenti di situ, dalam ibadah yang berkaitan dengan Allah Azza wa Jalla, niat adalah rukun, sehingga menentukan sah-tidaknya suatu amal. Sedangkan dalam perbuatan yang berkaitan dengan sesama makhluk, seperti muamalah, niat merupakan penentu, apakah perbuatan tersebut mempunyai nilai ibadah atau sebaliknya, dan apakah sebagai perbuatan yang membawa dosa atau tidak.

Bahkan lebih tegas lagi, Nabi saw bersabda yang inti pesannya bahwa semua manusia akan mati, dan kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka”, (HR. Bukhari dan Muslim).

III. Mengerjakan kewajiban-kewajiban ibadah ritual secara syari’at yang telah ditetapkan.

Ibadah ritual yang wajib di kerjakan oleh setiap muslim tercakup dalam Rukun Islam.

Dan satu-satunya ibadah ritual yang menjadi dasar fundamental dari segala bentuk tindakan dan pekerjaan agar bernilai ibadah dan pahala (keberuntungan dunia akhirat) setelah bersyahadat adalah mengerjakan sholat lima waktu.

Tanpanya, segala sesuatu yang Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari itu, misalnya senyum Anda, pemberian/bantuan Anda, kerja Anda, sedekah Anda, dan perbuatan baik Anda lainnya kepada orang lain, akan menjadi bukan berarti apa-apa alias sia-sia alih-alih menjadi ibadah.

Mari, Anda saya ajak untuk beranalogi!

Sholat Fardhu 5 Waktu itu analog dengan pondasi dari suatu bangunan. Bangunan itu bisa berdiri tegak karena ada pondasi yang mendasarinya. Tanpanya, bangunan pasti runtuh. Atau sholat analog dengan kunci gerbang ibadah dan keberkahan. Setiap tindakan atau pekerjaan bisa menjadi ibadah jika Anda membuka pintu gerbang tersebut dengan kunci yang bernama Sholat Fardhu 5 Waktu.

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh amalan lainnya baik pula (dia telah beruntung dan berhasil) . Dan jika shalatnya rusak, sungguh amalan lainnya rusak pula (dia telah gagal dan rugi)”…, (HR. Tirmidzi dan An-Nasaa’i).

IV. Mengerjakan kewajiban-kewajiban moral (akhlak) atau menegakkan nilai-nilai Ilahiyah dan manusiawi dalam kehidupan sehari-hari.*

Al-Qur-an telah memperingatkan secara tegas agar apa yang Anda miliki dan apa yang Anda lakukan atau yang menjadi pekerjaan Anda, jangan sampai melalaikan, mengabaikan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut di atas.

Allah Ta’aalaa berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki (*rijaal*) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, yang mendirikan sholat, dan yang membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”, (QS. An-Nur [24]: 37).

Kata *”rijaal”* (laki-laki) dalam ayat ini bermakna general, yakni baik laki-laki maupun perempuan (dewasa/baligh).

Kemudian jika dicermati, kata *”tijaaroh”* (perniagaan) di sini mencakup tidak saja meliputi segala bentuk perdagangan untuk meraih upah, tetapi juga merupakan *simbolisme atau qias dari setiap amalan (tindakan atau pekerjaan)*. Dan bai’ (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan, yang dimana sama saja merupakan manifestasi dari suatu tindakan atau pekerjaan.

Dan yang dimaksud dengan *”berdzikir pada Allooh”* (dzikrullooh) dalam ayat di atas, bisa berarti:

1. Berdzikir kepada Allooh dengan lisan.
2. Mendirikan (mengerjakan) sholat lima waktu, termasuk mengerjakan ibadah ritual lainnya sebagai kewajiban kepada-Nya.
3. Mengerjakan kewajiban-kewajiban moral (akhlak) atau menegakkan nilai-nilai Ilahiyah dan manusiawi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada point 1, semua tentunya sudah tahu, bahwa berdzikir kepada Alloh dengan lisan adalah membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, hauqolah, dll.

Berkaitan dengan point 2, yakni mendirikan sholat 5 waktu, Ibnul Jauzi dalam kitabnya, Zaadul Masiir, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mendirikan sholat adalah mengerjakan sholat fardhu tepat waktu dan menyempurnakannya.

Masih dalam nada yang sama, Sa’id bin Abul Hasan berkata, “Perniagaan dan jual beli yang tidak membuat mereka lalai dari mendatangi sholat fardhu tepat pada waktunya”.

Lebih lanjut hal ini ditegaskan sedemikian rupa oleh seorang ulama, Mathor Al Warroq, dengan berkata, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka biasa melakukan jual beli, akan tetapi jika mereka mendengar adzan, saat timbangan dagangan mereka berada di tangan mereka, lalu mereka pun meninggalkannya. Lalu mereka memenuhi panggilan sholat.”

Bahkan menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa, “Mereka tidak lalai dari mengerjakan sholat jama’ah (di masjid)”.

Para ulama, khususnya ulama tafsir, yang telah disebutkan pendapatnya yang berkaitan dengan makna mendirikan sholat pada ayat di atas, tentunya bukan tanpa dasar yang kuat, tetapi berdasarkan hadits Nabi saw, di antaranya:

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu tidak segera datang (untuk sholat berjama’ah di masjid/musholla), maka tidak ada sholat baginya, kecuali jika karena udzur”, (HR. Ibnu Majah, Ad-Daru Quthni, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Diriwayatkan bahwa Rosuluullooh saw bertanya kepada seorang pria buta yang ingin sholat di rumah, “Apakah engkau mendengar panggilan adzan (untuk sholat fardhu) ?” Ketika pria itu menjawab ya, beliau berkata, “Kalau begitu, datanglah!”, (HR. Muslim).

Dari Abdullah bin Mas’ud, ra, “Aku bertanya kepada Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apa yang paling dicintai Allooh?’ Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya”,…… (HR Bukhari).

Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Sholat di awal waktunya”, (HR. Abu Daud).

Khusus pada point 3 di atas, sebenarnya merupakan manifestasi dari penerapan secara hakikat dari nilai ibadah-ibadah ritual*, khususnya ibadah sholat fardhu dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai moral atau nilai Ilahiyah dan manusiawi seperti perilaku benar, cinta, kasih-sayang, jujur, amanah, adil, empati, peduli, menolong, solider, integritas, konsisten, kerja keras, tahan banting (istiqomah), pantang menyerah, ridho, syukur, sabar, tawakal, dll yang Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari pada hakikatnya merupakan manifestasi dari *”dzikir”* Anda kepada-Nya (mengingat Allooh swt).

Saat dimana Anda sedang melakukan suatu amalan, tindakan, atau urusan dengan benar, sesuai nilai agama, sesuai hukum syari’at, dan sesuai aturan yang tetapkan Islam, misalnya dalam ibadah ritual atau mu’amalah, bahkan saat Anda melakukan hubungan intim suami-istri, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat di mana Anda sedang melakukan suatu amalan atau pekerjaan dengan benar, sesuai kesepakatan (penjanjian), sesuai SOP, dan secara profesional, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang berbuat jujur kepada orang lain, jujur dalam jual beli, jujur dalam bekerja (pekerjaannya), dll, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang menolong orang lain yang membutuhkan, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang sabar dalam menerima masalah dan ujian, atau Anda bersyukur atas nikmat-Nya, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Dan seterusnya…! Pada akhirnya apa saja yang Anda lakukan, atau apapun pekerjaan Anda, *jika dilakukan dengan memenuhi ke-4 syarat di atas, yakni membaca basmallah, niat untuk ibadah kepada Allooh, mengerjakan ibadah ritual, dan mengerjakan kewajiban-kewajiban moral (berdzikir kepada-Nya atau dengan menegakkan nilai-nilai moral) di dalamnya*, MAKA akan menjadi bernilai ibadah kepada-Nya. Pada saat yang sama, Anda akan selamat (beruntung dan sukses), Anda akan mendapatkan kebaikan dan pahala dunia-akhirat.

Hal ini berlaku sebaliknya, yang berarti Anda sedang melalaikan dan mengabaikan Allooh ‘Azza wa Jalla dalam setiap aktivitas Anda, Anda sedang tidak beribadah kepada-Nya, bahkan Anda sedang membangkang dan bermaksiat kepada-Nya.

Apa saja yang Anda lakukan, atau apapun pekerjaan Anda, jika tidak memenuhi 4 syarat di atas, yakni tidak membaca basmallah, bukan niat untuk beribadah, tidak mengerjakan kewajiban ibadah ritual, misalnya ibadah sholat fardhu, atau Anda melakukan ibadah mu’amalah tetapi tidak sesuai aturan syariat yang telah ditetapkan, dan tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban moral, misalnya Anda berbohong dalam jual beli dengan mengurangi timbangan (segala hal yang merugikan pembeli/konsumen), Anda cuek, tidak peduli dan egois terhadap orang yang butuh bantuan, Anda asal-asalan dalam bekerja, tidak mencintai pekerjaan dan tidak profesional (disiplin hanya jika diawasi, bekerja hanya jika diperintah, dan bertanggungjawab jika hanya diminta oleh pimpinan), atau Anda korupsi waktu maupun uang perusahaan, Anda berkeluh kesah saat musibah menimpa dan ingkar nikmat dengan berfoya-foya, dll, *MAKA* hakikatnya Anda SEDANG TIDAK BERIBADAH KEPADA Allah Ta’aalaa, alias menjadi sia-sia belaka, dan bahkan menjadi lebih tragis lagi, yakni malah membikin Anda berdosa dan celaka. Anda tersesat jalan, terperdaya dan dikibulin oleh setan, merasa sedang beribadah, padahal hanya wartamorgana belaka, dimana yang sebenarnya Anda sedang menuju kebinasaan dunia-akhirat (QS. Az-Zukhruf (43): 36).[]

Comment