Eskalasi Timur Tengah: Perdamaian vs Panen Industri Persenjataan

Opini1255 Views

Penulis: Vie Dihardjo | Alumnus Hubungan Internasional

 

RADAR INDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Perang kerap dipandang sebagai tragedi kemanusiaan. Namun di balik dentuman senjata dan kehancuran yang ditimbulkannya, terdapat realitas lain yang tak kalah mencolok: perang adalah bisnis besar yang terus berputar dan menguntungkan pihak tertentu.

Di tengah konflik yang memanas, industri persenjataan justru mencatat lonjakan pendapatan. Negara-negara yang terlibat maupun terdampak berlomba memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) mereka.

Setiap rudal yang diluncurkan bukan sekadar aksi militer, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya keuntungan industri senjata global.

Sejumlah perusahaan raksasa mencatatkan kenaikan signifikan. Lockheed Martin mengalami peningkatan penjualan sekitar 5–6 persen, RTX Corporation naik sekitar 9,7 persen, General Dynamics mendekati 10 persen, dan BAE Systems sekitar 8,2 persen. Bahkan Elbit Systems dari Israel mencatat lonjakan hingga 16 persen. Permintaan ekspor senjata meningkat tajam, bahkan disebut melampaui tren permintaan sebelumnya.

Lebih jauh, perang telah menjelma menjadi sebuah siklus bisnis. Setiap konflik memicu kebutuhan akan pembaruan, peningkatan, dan penggantian sistem persenjataan.

Kontrak bernilai miliaran dolar terus mengalir, bahkan setelah perang usai, melalui proyek pemeliharaan, modernisasi, dan pengembangan lanjutan.

Sebagai contoh, kontrak besar senilai puluhan miliar dolar dari Pentagon kepada perusahaan pertahanan menunjukkan bahwa perang bukan hanya peristiwa sesaat, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi yang terstruktur.

Eskalasi di Timur Tengah pun tidak lepas dari dinamika ini. Kawasan tersebut seakan menjadi “papan catur” bagi kekuatan global. Amerika Serikat berupaya mempertahankan dominasinya sekaligus menjadi pemasok utama senjata.

Di sisi lain, Cina dan Rusia terus mencari celah untuk memperluas pengaruhnya.
Ironisnya, di tengah perputaran triliunan dolar itu, rakyat sipil justru menjadi pihak yang paling menderita.

Mereka kehilangan nyawa, harta, dan masa depan, sementara keuntungan dinikmati oleh pihak-pihak yang jauh dari medan konflik.

Umat Membutuhkan Perisai

Ketika keuntungan ditempatkan di atas nilai kemanusiaan, pertanyaan mendasar pun muncul: mungkinkah perdamaian benar-benar terwujud?

Dunia Islam saat ini dinilai tidak memiliki pelindung yang mampu menjaga kepentingan dan keamanannya. Alih-alih menjadi subjek dalam percaturan global, dunia Islam justru kerap menjadi objek intervensi dan perpecahan.

Padahal, sejarah mencatat bahwa umat Islam pernah memiliki sistem yang mampu menyatukan dan melindungi berbagai kelompok.

Dalam catatan para sejarawan Barat, masa kekuasaan Islam memberikan ruang hidup yang aman bagi berbagai komunitas, termasuk kelompok minoritas.

Ketiadaan “perisai” ini dinilai menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi berbagai penderitaan yang dialami umat Islam saat ini, termasuk di Palestina.

Gagasan bahwa keamanan Palestina bergantung pada jaminan terhadap keamanan Israel dipandang sebagai kekeliruan logika yang tidak menyentuh akar persoalan.

Perdamaian dan Keadilan

Dalam perspektif Islam, perdamaian tidak dapat dipisahkan dari keadilan. Perdamaian bukan sekadar seruan, tetapi harus ditopang oleh sistem yang menjamin keadilan bagi seluruh manusia.

Tanpa keadilan, narasi perdamaian berpotensi berubah menjadi alat legitimasi penindasan atas nama stabilitas.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya keadilan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam penetapan hukum dan pengelolaan amanah.

Begitu pula dalam konteks perang, Islam menetapkan bahwa peperangan hanya dibenarkan untuk menghentikan kezaliman, bukan untuk kepentingan ekspansi ekonomi atau politik.

Pada akhirnya, perdamaian sejati hanya dapat terwujud melalui kepemimpinan yang kuat dan adil, yang mampu melindungi manusia dari ancaman internal maupun eksternal.

Sejarah panjang peradaban Islam, sejak masa awal hingga era kekhalifahan, sering dijadikan rujukan bahwa sistem kepemimpinan berbasis nilai keadilan mampu menghadirkan stabilitas dan harmoni dalam masyarakat yang beragam.

Hari ini, ketika perang kerap menjadi instrumen kepentingan ekonomi dan politik global, dunia dihadapkan pada pilihan: terus berada dalam siklus konflik yang menguntungkan segelintir pihak, atau membangun tatanan yang menempatkan keadilan sebagai fondasi utama perdamaian. Wallahu’alam bishawab.[]

Comment