Fatherless Kian Populer, Cermin Gelap Kehidupan Kapitalistik

Opini426 Views

 

Penulis: Dr. Suhaeni, M.Si | Dosen

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena fatherless atau absennya peran ayah—baik secara fisik maupun psikologis—kian marak di Indonesia. Berbagai data dan laporan menunjukkan jutaan anak tumbuh tanpa figur ayah yang hadir mendampingi proses perkembangan mereka.

Penyebabnya bukan hanya perceraian, melainkan juga tekanan ekonomi dan ritme hidup modern yang menjerat para ayah dalam rutinitas kerja tanpa henti.

Anak-anak yang kehilangan peran ayah kerap mengalami gangguan dalam pembentukan self-esteem (harga diri), emotional regulation (pengendalian emosi), dan stabilitas psikologis. Tak sedikit dari mereka tumbuh dalam keluarga yang secara struktural utuh, tetapi secara emosional disfungsi. Fenomena ini menandakan adanya krisis kehadiran figur paternal dalam kehidupan modern.

Masalah tersebut tidak muncul dari ruang hampa. Fatherless society merupakan produk sampingan dari sistem kapitalistik-sekuler yang mengukur keberhasilan manusia berdasarkan akumulasi materi dan status sosial.

Dalam sistem ini, waktu direduksi menjadi komoditas ekonomi, dan manusia terdorong bekerja melebihi batas wajar demi memenuhi tuntutan konsumtif.

Akibatnya, fungsi ayah sebagai role model, pendidik, sekaligus pelindung keluarga terdegradasi. Mereka hadir secara material, tetapi absen secara spiritual dan afektif.

Dalam perspektif Islam, ayah memiliki posisi strategis sebagai qawwam—pemimpin, pelindung, dan penuntun keluarga. Kewajiban mencari nafkah memang tak terelakkan, tetapi Islam menegaskan keseimbangan antara tanggung jawab ekonomi dan fungsi pengasuhan.

Kisah Luqman yang menasihati anaknya dengan hikmah menjadi representasi ideal figur ayah yang membimbing dengan kebijaksanaan dan kasih sayang.

Islam juga menawarkan solusi yang bersifat sistemik. Dalam sistem sosial-ekonomi Islam, negara berkewajiban menjamin kesejahteraan rakyat melalui penyediaan lapangan kerja yang layak, upah yang adil, serta jaminan kebutuhan dasar.

Dengan begitu, ayah tidak perlu mengorbankan waktu kebersamaan dengan keluarga demi bertahan hidup dalam tekanan ekonomi.

Lebih jauh, Islam menata sistem perwalian yang memastikan setiap anak memiliki figur pengganti ayah (wali) yang berperan memberikan perlindungan, arahan moral, dan bimbingan spiritual.

Dengan sistem ini, tidak ada anak yang tumbuh tanpa panutan dan kehilangan arah dalam fase perkembangan sosialnya.

Krisis fatherless sejatinya adalah alarm sosial yang menandakan rusaknya tatanan keluarga akibat dominasi nilai materialistik. Jika dibiarkan, bangsa ini akan menghadapi generasi yang kehilangan figur kepemimpinan di tingkat mikro (keluarga) dan berdampak pada disorientasi sosial di tingkat makro (masyarakat).

Karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada kampanye kesadaran atau dukungan psikososial di media. Akar persoalan terletak pada sistem kehidupan yang menuhankan materi dan mengabaikan fitrah keluarga sebagai basis peradaban.

Hanya dengan kembali pada nilai-nilai Islam yang menempatkan keluarga sebagai institusi utama pembentuk karakter, harmoni peran ayah dan ibu dapat dipulihkan. Dari sana, generasi mendatang dapat tumbuh dalam lingkungan yang utuh, hangat, dan bermartabat.[]

Comment