Febritianingsih: Islam Selamatkan Generasi Muda Indonesia

Berita718 Views
Febritianingsih
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa ini. Pemudalah tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa. Ditangan merekalah kelak nasib bangsa ini akan ditentukan. Apakah bangsa ini akan terus bertahan dan semakin maju ataukah sebaliknya, bangsa ini akan hancur dan binasa, semua tergantung bagaimana akhlak mereka kelak. 
Perkembangan teknologi, maraknya suatu trend yang mengakibatkan semua perubahan itu terjadi, oleh karena itulah kaum muda khususnya remaja ingin lebih mengenal satu sama lain dengan caranya sendiri dengan cara memperbaiki diri meliputi penampilan dan sikapnya, khususnya dengan peran budaya. Tanpa kecuali, budaya asing yang telah meracuni bangsa kita ini. 
Rusaknya generasi muda saat ini ditandai dengan mulai lunturnya nilai-nilai moral yang di awali dari hilangnya budaya malu. Karena hilangnya budaya malu ini, para generasi muda saat ini tidak segan-segan untuk mencoba hal baru seperti rokok, minuman keras dan narkoba. Tidak hanya itu, hilangnya budaya malu ditambah dengan minimnya pendidikan agama membuat generasi muda kita tidak malu lagi memakai pakaian tidak pantas. Bukan hanya itu saja, mereka pun tidak malu lagi untuk melakukan perilaku tidak pantas bahkan dengan bangga memperlihatkan dan memperagakan perilaku tidak senonoh. 
Masuknya budaya asing tanpa adanya upaya pencegahan yang serius oleh pemerintah mengakibatkan banyaknya budaya asing negatif yang masuk kenegara ini dan jelas-jelas budaya ini tidak cocok, dan cederung merugikan karena telah merusak moral generasi muda. Bagaimana tidak, hal tersebut mempengaruhi gaya trend kaum muda masa kini yang terlalu terpesona oleh dunia entertrainer. Hal itu dapat menjadikan perubahan negatif terhadap akhlak kaum muda. 
Langkah pemerintah untuk memutus rantai problematika generasi yang sudah dilakukan memang patut diapresiasi. Namun, kita pun perlu melihat pula hasil dari usaha tersebut. Jika dilihat dari fakta di atas, permasalahan generasi akan terus meningkat. Sehingga, upaya untuk mengatasi hal tersebut rupanya belum membuahkan hasil yang signifikan. Inilah yang perlu kita renungkan. 
Pemerintah harus mencari akar permasalahan generasi muda ini secara tepat dan benar. Ibarat dokter yang sedang mendiagnosis pasiennya agar obat yang nantinya diberikan tepat, maka kita pun perlu ‘mendiagnosis sakit’ yang diderita para generasi. Permasalahan yang membelenggu generasi kita tak luput dari tiga faktor yakni orang tua, masyarakat, dan negara. 
Orang tua berperan sebagai rujukan pertama dan utama bagi anak-anaknya. Orang tualah yang dituntut untuk menanamkan pendidikan keimanan, membangun ketaatan pada agama (hukum Allah), serta memberikan teladan kebaikan pada anak-anaknya. Kondisi hari ini, para orang tua kurang menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya. Fenomena penitipan anak kepada neneknya, tetangganya, baby sitter, Tempat Penitipan Anak (TPA) menjadi pemandangan umum di sekitar kita. Akhirnya anak-anak tersebut menjadi sosok yang kurang perhatian, kasih sayang, ilmu dan pendidikan. 
Masyarakat sebagai salah satu sekolah besar bagi generasi, berperan melakukan kontrol sosial untuk mencegah berbagai tindakan yang menyalahi norma dan agama. Tapi saat ini, masyarakat cenderung abai terhadap kondisi dan masalah yang terjadi. Betapapun banyaknya muda-mudi yang pacaran, free sex in the kost, generasi mati karena narkoba dan HIV/AIDS, bahkan pelaku LGBT. Suara dari masyarakat kurang bahkan tidak terdengar. 
Adapun negara adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, berwenang menerapkan berbagai kebijakan mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Saat ini negara kita tengah menerapkan sistem pendidikan sekular-materialistik. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan ‘agama’ di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. 
Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan di sini justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekedar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek. 
Walhasil banyaknya generasi yang menempuh pendidikan di jenjang umum menjadi lulusan yang tidak menjdikan agama sebagai pedoman hidupnya. Tak heran jika mereka mudah melakukan hal-hal yang tak seharusnya. Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. 
Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan Tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. 
Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Dalam hal ini, Barat telah menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya harus diraih. Ke sanalah dalam musik, mode, makanan, film bahkan gaya hidup ala Barat, orang mengacu. Buah lainnya dari kehidupan yang materialistik-sekuleristik adalah makin menggejalanya kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. 
Tatanan bermasyarakat yang ada memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Kebebasan individu harus ditegakkan karena menurutnya itu adalah hak, tidak peduli kendati itu harus melanggar tuntunan agama. Kehidupan yang sekularistik nyata-nyata telah menjauhkan manusia dari hakikat visi dan misi penciptaannya. 
Inilah akar persoalan yang selama ini membelit generasi. Bukan hanya soal kurikulum semata, bukan pula karena biaya saja, tapi kehidupan serba bebas buah dari demokrasi yang berasaskan sekuler. Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup pemuda yang bablas. Besarnya potensi generasi yang mampu mengguncang dunia kini telah ‘mati’ karena demokrasi yang menjauhkan generasi dari Ilahi. 
Jika ingin menyelamatkan masa depan generasi, maka butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika hingga akarnya, yakni mengganti sistem sekuler-demokrasi yang menjauhkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia senantiasa tunduk pada agama. Sistem itu adalah sistem Islam, yang diterapkan melalui khilafah Islamiyyah.[]

Penulis adalah alumni mahasiswa universitas Kkhairun, Ternate
Fakultas pertanian, jurusan teknologi hasil pertanian

Comment