by

Fenomena Citayam Fashion Week Sebuah Tinjaun

 

 

Oleh: Irma Legendasari, Ibu Rumah Tangga

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena “Citayam Fashion Week” di kawasan Jalan Sudirman, DKI Jakarta, belakangan menjadi viral. Bermula dari muda-mudi yang mayoritas berasal dari daerah penyangga Jakarta seperti Depok, serta Citayam dan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Mereka memenuhi kawasan bisnis SCBD dengan gaya busana nyentrik dan dominasi warna monokrom.

Bahkan kini, seperti dilansir kompas.com (11/6/2022) tak sedikit yang menyebut kawasan bisnis SCBD bukan lagi merujuk Sudirman Central Business District, melainkan Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok.

Para remaja menjadikan momen ini sebagai ajang mengekspresikan kebebasan dalam berpakaian, biasa dikenal dengan istilah street fashion yang tujuannya untuk menonjolkan identitas diri yang mengusung gaya harajuku ala Jepang.

Pada ajang ini, antara laki-laki dan perempuan berkumpul menunjukkan kebolehannya dalam berpakaian dan mempertontonkan di depan khalayak ramai. Bahkan tak tanggung-tanggung ajang ini digunakan sebagai tempat tongkrongan hingga larut malam hingga rela menginap di pinggir jalan atau di jembatan. Sebagain besar waktu mereka dihabiskan di tempat itu.

Miris rasanya melihat remaja menunjukkan eksistensi diri seperti ini. Mereka selalu disuguhi dengan ide-ide kebebasan bergaul dan berpakaian untuk mengekspresikan diri mereka. Hedonisme pun tidak pernah tertinggal, gaya ini selalu mendominasi.

Hal ini tidak lepas dari sistem kapitalis sekuler yang menggiring remaja menjauhi nilai-nilai agama dan melakukan perbuatan yang tidak dikaitkan dengan aturan Allah Sang Pembuat Hukum. Namun sangat disayangkan bahwa ajang ini begitu banyak mendapatkan perhatian dari mulai pejabat negara, publik figur dan kalangan artis tanpa melihat sisi negatif yang membahayakan generasi.

Belajar dari ajang ini, remaja butuh ruang untuk mengekspresikan diri mereka. Harus ada penanganan khusus dan intensif untuk menyalurkan ekspresi mereka dengan kegiatan positif yang tidak bertentangan dengan aturan Sang Khaliq.

Oleh karena itu, perlu rangkulan dari semua pihak, yang bermula dari orang tua sebagai pusat untuk pembentukan karakter anak dengan menanamkan adab-adab dan nilai-nilai ketauhidan sejak dini agar terwujud pondasi yang kuat. Tanamkan rasa malu yang saat ini sudah hampir punah. Fahamkan cara berpakaian dan bergaul yang benar.

Selanjutnya membangun kerjasama dengan masyarakat untuk saling mengingatkan jika ada hal-hal yang menyimpang dan saling memberikan nasehat kebaikan.

Pemerintah mempunyai wewenang paling sakti diharapkan mampu membuat aturan yang dapat memfasilitasi dan mendukung aktifitas atau kegiatan yang mendorong remaja mengedepankan nilai-nilai yang tidak bertabrakan dengan aturan Allah Sang Maha Mudabbir.

Remaja hari ini adalah generasi yang akan memimpin masa depan. Remaja harus mempunyai arah pandang yang jelas mana perbuatan baik ataupun buruk menurut prinsip Islam. Ini penting bagi mereka untuk terjun dalam kehidupan nyata dan menjadikan diri mereka unggul dalam menguasai agama dan sains.

Maka terbentuklah gambaran remaja Islam adalah yang mempunyai kepribadian Islam, smart, inovatif kreatif dan berjiwa pemimpin.

Tidak akan ada lagi remaja yang mengisi kehidupannya dengan melakukan perbuatan yang unfaedah, karena mereka telah sadar bahwa remaja sebagai agent of change bagi kebangkitan Islam dan yang akan memimpin dunia.Wallahu A’lam Bisshowab.[]

Comment