by

Ferdinand Hutahaean: Jokowi Sedang Galau Karena Ulah Ahok

Ferdinand Hutahaean.[Nicholas/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menurut pengamatan Ferdiand Hutahaean, pemimpin Rumah Amanah Rakyat (RAR), apa yang
terjadi dengan bangsa ini semua logika menjadi terbalik. Ferdinand merasa penjahat dilindungi, penegakan hukum
dipermainkan, para pencari keadilan terintimidasi, para penegak akidah
dituding sebagai perusuh. Ini dikatakannya melalui keterangan tertulis, di Jakarta, Selasa (01/11).

“Ini
aneh, bangsa ini menjadi bangsa yang tidak lagi dapat diikuti dengan
logika normal dan logika waras. Entah apa yang akan terjadi dengan
bangsa ini ke depan hanya Tuhan yang tahu. Namun sebagai manusia
dianugerahi akal dan pikiran, tentunya kita layak menggunakan pikiran
untuk menganalisa situasi dan memprediksi apa yang akan terjadi ke depan,”
ujarnya kepada radaronlinenews.com, Selasa (1/11).

Hukum sebab akibat tentu berlaku, lanjutnya, akibat yang timbul karena ada sebab dan demikian juga tentang
hukum aksi dan reaksi (karena ada aksi maka tentu ada reaksi).
 
“Hukum
alam pasti terjadi, demikian juga aksi yang dilakukan oleh Ahok
atas dugaan penistaan terhadap agama Islam yang terjadi pada bulan
September lalu di Kepulauan Seribu,” jelasnya.

Ferdinand menyatakan, atas aksi bodoh itulah maka umat Islam memberi reaksi
bahwa Ahok harus diproses secara hukum. 
 
“Sesungguhnya Ahok tentu harus
memilih diproses hukum positif yang berlaku dari pada kemudian umat
Islam menghukum Ahok dengan cara hukum Islam. Tidak ada pilihan lain
bagi Ahok kecuali menerima kesalahan dan mengikuti proses hukum,”
ungkapnya lebih lanjut.

Namun fakta yang terjadi menurut analisanya hanyalah lakon drama
yang tidak lucu justru terjadi dalam beberapa hari terakhir. 
 
“Para
penguasa (saya tidak ingin menyebutnya pemimpin) berlomba-lomba maju ke
barisan paling depan untuk menyelamatkan Ahok. Presiden bahkan mendadak
mengunjungi Prabowo di Hambalang meski tidak jelas misi dan hasil
pertemuan itu untuk apa,” demikian paparnya.

“Yang
tersirat dan tersisa adalah Presiden Jokowi sedang galau karena Ahok,
hingga kemudian menunggang kuda putih di Hambalang. Putih itu pertanda
menyerah, mungkinkah Jokowi akan menyerah? Publik disuguhi tontonan
menyebalkan atas pertemuan Jokowi dan Prabowo,” ungkapnya.

Sementara
itu menurutnya apa hasil dan manfaat positif pertemuan itu tidak
terlihat sama sekali.”Selepas pertemuan Hambalang tersebut, sorenya
mendadak beredar undangan silaturahmi Istana kepada PBNU, MUI dan
MUHAMMADYAH,” ujarnya.

Bahkan
dapat diduga kalau silaturahmi yang mendadak itu, sambung Ferdinand
sehubungan dengan sebagai reaksi Istana atas aksi umat Islam yang
memberikan reaksi atas aksi Ahok yang diduga menistakan ajaran Islam. 
 
“Aksi konyol Ahok telah bermuara kepada Istana yang selama ini sangat
terkesan membela Ahok dengan segalah masalahnya. Pertanyaan tersisa dari lakon drama penyelamatan Ahok ini adalah terkait dengan sikap
Presiden,” tukasnya.

Patut
menjadi pertanyaan besar dan perlu digarisbawahi, Ferdinand
mempertanyakan mengapa ada indikasi kalau Presiden bersusah payah
meredam rencana aksi umat Islam tanggal 4 Nopember nanti? Karena ke depan, bukankah dengan begitu merupakan bentuk nyata
perlindungan presiden kepada Ahok ? Bukankah langkah itu bentuk
keberpihakan presiden kepada Ahok ? Bukankan tindakan itu wujud nyata
upaya intervensi hukum dari Presiden ? Siapa Ahok di negara ini hingga
Presiden harus bersusah payah menyelamatkan Ahok ?

“Penegakan
hukum tidak lagi dijadikan jalan utama. Rezim ini justru menekan
masyarakat yang meminta penegakan hukum dilakukan memenuhi rasa keadilan
masyarakat*. Reaksi dan aksi Presiden Jokowi sangat salah dan tidak
tepat,” bebernya lagi.

Reaksi
dan aksi lanjut Ferdiand, seharusnya memerintahkan penegakan hukum terhadap Ahok dan
jika terbukti tidak salah maka namanya harus dipulihkan. Bukan malah
berupaya mengabaikan penegakan hukum dan malah memberikan ruang opini
di tengah publik bahwa Ahok adalah putera mahkota yang harus dilindungi
baik salah maupun benar. 
 
“Sebaiknya publik maupun para tokoh masyarakat terus memberikan tekanan kepada rejim ini untuk segera memproses
penegakan hukum terhadap Ahok,” jelasnya

Jika
memang sikap Presiden malah memilih berhadap hadapan dengan masyarakat
dan tetap berupaya lindungi Ahok, kata Ferdinand, biarlah waktu yang akan menjawab dan
memberikan reaksi atas sikap tersebut. 
 
“Semoga bangsa Indonesia
dilindungi dan dibebaskan dari para penguasa yang jahat,” tandasnya.[Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita