FIB UI Bahas Masa Depan Sastra Lisan Gayo dan Regenerasi Didong

Budaya, Sastra33 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, DEPOK — Masa depan sastra lisan Gayo dan regenerasi pelaku seni menjadi bahasan dalam diskusi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Senin (10/8/2026). Salah satu tradisi yang dibahas adalah Didong, seni tutur masyarakat Gayo yang dinilai menyimpan pengetahuan dan ingatan kolektif.

Diskusi berlangsung di ruang Prof. Lily Tjahjandari, S.S., M.Hum., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FIB UI. Pertemuan itu dihadiri seniman Gayo Putra Gara, budayawan dan akademisi Salman Yoga S., serta Neno Warisman, Staf Ahli Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Prof. Lily mengatakan Didong tidak semata-mata merupakan seni pertunjukan. Syair, lagu, dan tuturan dalam Didong dapat menjadi medium untuk merekam serta menyampaikan kembali sejarah dan kisah tokoh-tokoh yang memiliki peran di masyarakat.

“Didong dapat menjadi medium untuk merekam dan menceritakan kembali sejarah tentang ulama, pejuang, tokoh adat, seniman, pendidik, maupun tokoh masyarakat yang memiliki jasa bagi daerahnya,” kata Prof. Lily.

Menurut dia, kekuatan sastra lisan terletak pada kemampuannya menjaga cerita agar tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Kisah tersebut dapat terus dituturkan, dinyanyikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Putra Gara mengatakan pemajuan kebudayaan tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk tradisi. Tradisi juga membutuhkan ruang untuk berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Kita tidak cukup hanya menjaga tradisi. Kita harus memastikan tradisi itu punya penerus, punya ruang untuk berkembang, dan mampu berbicara kepada generasi zamannya,” ujar Putra Gara, penulis sejumlah novel sejarah.

Kolaborasi Akademisi, Seniman, dan Pemerintah

Diskusi juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi, seniman, komunitas budaya, dan pemerintah dalam memperkuat tradisi lisan.

Neno Warisman mengatakan kampus dapat berperan sebagai ruang kajian dan pengembangan pengetahuan. Seniman berperan mendorong kreativitas, komunitas menjaga keberlanjutan tradisi, sedangkan pemerintah dapat menghadirkan kebijakan dan ekosistem pendukung.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada dokumentasi. Tradisi lisan perlu ditempatkan sebagai pengetahuan dan praktik budaya yang tetap memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.

Mencari Maestro dari Generasi Z

Regenerasi menjadi persoalan lain yang mengemuka. Salah satu gagasan yang dibahas adalah mencari “Yang Maestro” dari kalangan Generasi Z sebagai penerus sekaligus pengembang tradisi.

Salman Yoga mengatakan generasi muda Gayo perlu mengenal akar tradisinya dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya. Pada saat yang sama, mereka perlu diberi ruang untuk membawa tradisi tersebut ke bentuk ekspresi baru tanpa kehilangan identitasnya.

“Teknologi digital, media sosial, pendidikan, komunitas kreatif, hingga ruang akademik dapat menjadi jembatan antara tradisi lama dan cara berekspresi generasi baru,” ujar Salman Yoga.

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan sastra lisan tidak hanya bergantung pada upaya pelestarian, tetapi juga pada kemampuan tradisi beradaptasi dengan generasi baru.

Didong dan sastra lisan Gayo dinilai akan tetap hidup jika memiliki generasi yang mengenal, menguasai, dan mengembangkannya. Tantangannya bukan hanya mewariskan tradisi, melainkan menemukan generasi yang mampu membawa tradisi tersebut ke dalam konteks zamannya.

Versi ini saya arahkan lebih Tempo: lead langsung ke isu utama, subjudul dipakai seperlunya, kutipan dipadatkan, dan bagian yang repetitif saya pangkas tanpa menghilangkan substansi berita.[]

Comment