Ganti Kabinet, Ganti Kebijakan Ujian Masuk PTN

Opini1874 Views

 

Oleh: Vidya Spaey Putri Ayuningtyas, S.T., MaHS, IAI, Dosen, Arsitek, Perencana Desa dan Perancang Kota, S1 UGM
S2 Master of Human Settlements, Belgia

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pergantian skema ujian masuk PTN bukan suatu yang baru terjadi di negeri ini. Dari SKALU yang digelar pertama kali di tahun 1976 hingga 1979, kemudian digantikan dengan SKASU pada periode 1979-1983, Sipenmaru pada periode 1983-1989, UMPTN pada periode 1989-2001, SPMB pada periode 2001-2008, SNMPTN pada periode 2008-2013, SBMPTN pada periode 2013 hingga sekarang.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim mengatakan akan menghapus SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang menekan pada tes mata pelajaran dan mengganti dengan tes skolastik yang lebih menekan pada kemampuan bernalar dan berpikir kritis.

Belajar dari sejarah ujian masuk PTN, tes skolastik ini pun tidak menutup kemungkinan akan diubah lagi oleh pemimpin negeri yang baru kedepannya. Seperti kita ketahui bersama bahwa jabatan itu tidak abadi dan yang abadi adalah perubahan.

Namun urgensi dan ambisi perubahan skema ujian masuk PTN di Indonesia untuk masa depan pendidikan yang lebih baik ini perlu dipertimbangkan lebih matang.

Pertama, kita perlu mempertimbangkan siapa yang akan menikmati dan memperoleh manfaat adanya perubahan ini.

Mengutip pernyataan Menteri Nadiem Makarim bahwa ujian masuk jalur SBMPTN membebani siswa karena menuntut siswa menghafal banyak informasi dan materi dari berbagai mata pelajaran dan mengerjakan banyak latihan soal. Guru pun harus bekerja keras untuk menjejali materi dari berbagai mata pelajaran. Lebih dari itu, beberapa siswa masih harus mengikuti bimbingan belajar.

Beliau juga menambahkan bahwa adanya kebutuhan bimbingan belajar pun membebani orang tua murid secara finansial. Beliau beranggapan bahwa test Skolastik yang lebih menekan pada kemampuan bernalar, kognitif, logika, pemecahan masalah, berfikir kritis, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dapat lebih mewujudkan pendidikan yang inklusif, adil dan tidak diskriminatif terhadap siswa-siswi yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Melihat realita yang terjadi, adanya perubahan ujian masuk dari tahun ke tahun tidak pernah menghentikan lembaga bimbingan belajar dalam mengemas paket pembelajaran secara kreatif dan menjualnya ke masyarakat. Saat ini pun beberapa lembaga dan individu sudah mulai menawarkan panduan dan pendampingan tes skolastik.

Seperti kita ketahui bahwa bimbingan belajar baik dalam dan luar negeri justru semakin marak di era kemajuan informasi ini dengan memberikan pilihan pembelajaran secara daring (kelas daring atau aplikasi) atau luring (gedung bimbel di beberapa kota).

Pada akhirnya beberapa siswa dan siswi dari keluarga yang mampu akan tetap ikut bimbingan belajar. Buku-buku panduan tes skolastik akan diproduksi dan diperjualbelikan. Terlepas dari hal tersebut, jika kita amati jumlah kursi yang tersisa di masing-masing jurusan di beberapa Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia melalui jalur ujian bersama negara ini hanya tersisa sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan pengalaman mengikuti ujian bersama melalui jalur SPMB di tahun 2003, jurusan arsitektur hanya tersisa 25% atau kurang lebih 16 kursi karena 75% sudah terisi melalui jalur masuk PTN yang lain. Jumlah kursi yang begitu sedikit di beberapa PTN utama dibandingkan dengan jumlah pendaftar yang begitu banyak maka kemampuan pribadi dan lembaga bimbingan mengubah nasib tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan ketetapan Tuhan atas setiap individua atau takdir.

Mewujudkan lebih banyak perguruan tinggi negeri unggulan yang terjangkau oleh siswa-siswi dari beragam kalangan di Indonesia jauh lebih penting daripada mengubah ujian bersama negara masuk PTN. Lebih dari itu, tingginya biaya pendidikan di beberapa PTN negeri unggulan semakin memberatkan orang tua dan mahasiswa dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah.

Dunia pendidikan yang lebih inklusif, adil dan tidak diskriminatif akan tercipta dengan mewujudkan lebih banyak PTN unggulan dan biaya kuliah yang terjangkau semua kalangan.

Kedua, jangan sampai pergantian skema ujian masuk PTN ini hanya berdasarkan sudut pandang dari pemerintah pusat dan tokoh tertentu. Sebagai contoh karena tidak menyukai ujian saat kecil lalu kita mengubah kebijakan sesuai keinginan pribadi. Atau karena kita adalah lulusan dari univeritas utama dunia di suatu negara tertentu lalu kita ingin mengubah berdasarkan pengalaman kita pribadi belajar di negara tersebut.

Seperti kita ketahui banyak kebijakan yang ditetapkan dan diterapkan di negara ini hanya mengadopsi kebijakan dari negeri atau kampus di mana para pemimpin mengenyam pendidikan. Kita harus melihat kondisi pendidikan di Indonesia dari timur ke barat dan dari hulu ke hilir.

Sebagaimana dikatakan UNESCO bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada urutan ke-2 terendah dan sangat memprihatinkan hanya 0,001% atau dari 1000 orang Indonesia hanya 1 yang rajin membaca. Menghafal adalah cara terbaik untuk mengajak siswa-siswi sekolah membaca berulang kali dan mengingat. Menghafal pun dapat mengajak siswa-siswi dengan minat baca rendah untuk belajar tentang ketekunan, kesabaran dan mengisi pikiran dan hati mereka dengan ilmu. Menghafal pun menjadi salah satu metode pembelajaran dasar dan pertama di usia muda dari para cendikiawan muslim dari masa ke masa.

Seperti kita ketahui bahwa lahir banyak cendikiawan muslim dunia yang penemuannya menembus peradaban dan negeri lahir di masa kejayaan Islam. Kemampuan penalaran tidak bisa dilepaskan dari kemampuan menghafal beberapa informasi.

Bahkan dapat dikatakan bahwa menghafal adalah metode pembelajaran paling dasar yang harus dimiliki setiap pelajar. Bagaimana seorang pelajar memiliki kemampuan bernalar, kognitif, logika, pemecahan masalah, berfikir kritis, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris jika minat membacanya rendah? Apa yang akan dipertimbangkan dengan akalnya jika data dan informasi sangat minim?

Penerapan tes skolastik sebagai ujian masuk PTN ini menuntut adanya pergantian metode pembelajaran dimana minat membaca pelajar harus ditingkatkan dan kemampuan menghafal atau mengingat informasi harus lahir secara mandiri. Jika tidak maka tes skolastik ini hanya akan diselesaikan oleh peserta ujian masuk PTN dengan jembatan keledai atau akal-akalan tanpa kemampuan berfikir dengan akal yang benar.

Islam mengajarkan tentang cara berfikir yang cemerlang. Proses berfikir yang cemerlang perlu melibatkan data dan fakta yang terjadi, kemudian diterima oleh panca indera (baik internal maupun ekternal), kemudian disimpan di dalam otak, dipikirkan oleh akal dan dikaitkan dengan informasi sebelumnya (Maklumat Sabiqoh).

Proses menyimpan di dalam otak membutuhkan proses menghafal baik disadari maupun tidak disadari. Proses menghafal menjadi sangat menyenangkan jika tumbuh minat dan semangat belajar dari masing-masing pelajar serta adanya keikhlasan dalam proses belajar. Proses mengaitkan dengan informasi sebelumnya membutuhkan minat membaca dan menggali ilmu yang tinggi dari para pelajar.

Minat membaca dan menggali ilmu di kalangan pelajar di Indonesia sangat rendah, sehingga beberapa pelajar merasa dipaksa dan dijejali oleh guru dan metode pembelajaran.

Ketiga, adanya perubahan kebijakan membutuhkan adanya anggaran yang tidak sedikit serta tenaga dan kerja untuk sosialisasi yang besar. Sering terjadi sosialisasi belum menyeluruh hingga ke pelosok negeri bahkan panduan belum terdistribusikan dengan baik namun kebijakan sudah berganti lagi.

Kita perlu mengukur terlebih dahulu kekuatan dan dampak apa yang akan didapatkan dari adanya perubahan. Sehingga menguapnya anggaran, tenaga dan pikiran diikuti dengan dampak yang jelas. Jika pergantian ini akan membawa perubahan yang besar dan mengarah ke sesuatu yang lebih baik, maka perubahan di masa yang akan datang tidak akan terlalu besar.

Di satu sisi adanya perubahan ini sangat baik untuk mengurangi kekuatan buruk, dan kekurangan sebuah skema, namun di sisi lain perubahan yang terjadi terus menerus justru menunjukan bahwa dalam hal pendidikan bangsa kita masih bisa dikatakan dalam kebingungungan dan kurang memiliki pondasi yang kuat dan tujuan besar.

Dari tahun ke tahun, perubahan skema masuk ujian PTN tidak memberi pengaruh yang jelas pada dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini terus berganti seiring bergantinya pemimpin dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda-beda. Melihat skema masuk di beberapa universitas terbaik dunia saat ini, dapat dikatakan tidak ada perubahan yang begitu dramatis. Di mana siswa-siswi diuji kemampuan bahasa internasional dengan IELTS atau TOEFL agar bisa berkomunikasi dan mengikuti perkuliahan; motivation letter/ Personal Statement/ Statement of Purpose/ Essays untuk melihat minat dan bakat; Transkrip Nilai, Ijasah Kelulusan, Proposal Riset dan beberapa menambahkan ujian kampus masing-masing sesuai jurusan serta ujian wawasan dasar sepeti GMAT/ GRE/ LSAT pada sebagian kampus dan sebagainya.

Perubahan dari pendaftaran offline dengan mengirim dokumen melalui mail ke pendaftaran online melalui aplikasi dan website pun relatif sama dari tahun ke tahun. Suatu hal yang sulit di negeri ini adalah membuat sebuah sistem yang kokoh, peka jaman dan dipertahankan bahkan dicintai dari masa ke masa sehingga mengurangi anggaran dan tenaga untuk pergantian tanpa perubahan menuju ke sesuatu yang lebih baik.

Terakhir, ada hal yang lebih penting untuk diupayakan terlebih dahulu daripada terus merevisi sistem pendidikan yang ada di tingkat Universitas yang cenderung tambal sulam ini, yaitu pemerataan dan penyetaraan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia.

Pangan, sandang, papan, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, keamanan merupakan kebutuhan dasar dan hak setiap putra putri bangsa. Negara melalui pemerintah pusat seharusnya hadir secara penuh dalam mewujudkan Education for All atau pendidikan untuk semua. Bagaimana negara melalui pemerintah pusat dapat memastikan bahwa seluruh putra-putri Indonesia dapat mengenyam pendidikan dasar, menengah dan umum.

Berdasarkan pengalaman menjadi guru suka rela untuk TKW atau Tenaga Kerja Wanita di Singapore yang belum pernah atau belum tuntas mengenyam pendidikan dasar, saya mendapati bahwa dengan memberikan paket belajar cepat dan pelatihan sederhana bahasa Inggris, komputer, bisnis, baca-tulis dan ketrampilan memasak dapat memberikan dampak yang luar biasa.

Sebagaimana disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro bahwa tujuan belajar adalah merdeka dan bahagia. Pemberian paket belajar cepat dan pelatihan sederhana secara suka rela dapat memberikan kemerdekaan bagi banyak TKW untuk menentukan pekerjaan dan penghidupan seperti apa yang menurut mereka membahagiakan bagi diri dan keluarga.

Melihat secara langsung kondisi pendidikan di beberapa desa di Indonesia Timur, salah satunya di Desa Fatukoto di mana anak-anak harus bejalan cukup jauh ke sekolah bahkan beberapa tidak memiliki sepatu, seragam dan buku panduan belajar serta kondisi guru yang dibayar dengan hasil panen oleh masyarakat dan kurang mendapatkan perhatian negara, rasanya lebih banyak permasalahan yang lebih penting dalam dunia pendidikan.

Pergantian skema ujian masuk PTN tidak berdampak terlalu besar berdasarkan jumlah kursi yang tersisa di PTN melalui jalur ini dan biaya kuliah di PTN sendiri semakin berat diakses oleh beberapa kalangan menengah ke bawah.[]

 

Comment