Gaza Gelar Pemakaman Massal 112 Jenazah Korban Serangan 2023

Internasional105 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, GAZA — Suasana duka menyelimuti Gaza City pada Selasa, 4 Agustus 2026. Ribuan warga Palestina menghadiri pemakaman massal 112 anggota keluarga Abu Sharia dan Al-Hassayna yang jenazahnya baru ditemukan dari bawah reruntuhan rumah mereka, hampir tiga tahun setelah serangan pada November 2023.

Jenazah tersebut ditemukan di kawasan Sabra, Gaza City, setelah tim Pertahanan Sipil Palestina melakukan operasi pencarian dan penggalian di reruntuhan bangunan yang hancur. Reuters melaporkan, serangan pada 22 November 2023 menghancurkan tiga bangunan apartemen dan menewaskan 308 anggota keluarga besar tersebut.

Sebagian korban telah dimakamkan sebelumnya, sementara 153 orang masih dinyatakan berada di bawah reruntuhan. Dari jumlah itu, 112 jenazah berhasil ditemukan dalam operasi pencarian yang berlangsung sekitar 17 hari.

Dalam laporan berbahasa Arab Filisthin Al- Aan disebutkan, “Hari yang menyedihkan di Gaza. Kota Gaza mengantar 112 syuhada yang berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan rumah keluarga Abu Sharia dan Al-Hassayna di selatan kota. Mereka merupakan bagian dari 308 korban yang menjadi korban pembantaian.”

Al Jazeera melaporkan, para korban tewas dalam serangan di kawasan Sabra pada November 2023. Menurut pejabat Palestina yang dikutip media tersebut, serangan pada 22 November 2023 menewaskan 308 anggota dua keluarga itu, termasuk 40 anak-anak, 30 perempuan, dan tujuh penyandang disabilitas.

Proses pencarian jenazah berlangsung dalam kondisi sulit. Tim Pertahanan Sipil Gaza harus menggali reruntuhan bangunan yang telah hancur selama bertahun-tahun. Keterbatasan alat berat membuat proses evakuasi berlangsung lambat.

Associated Press melaporkan bahwa tim Pertahanan Sipil menghabiskan sekitar dua pekan untuk menggali reruntuhan bangunan di kawasan Sabra dan menemukan 112 jenazah, termasuk sedikitnya 40 anak.

Ribuan warga kemudian mengikuti prosesi pemakaman dengan membawa jenazah yang dibungkus kain dan bendera Palestina menuju tempat pemakaman.

Reuters menyebut pemakaman tersebut sebagai salah satu pemakaman massal terbesar selama perang Gaza. Peristiwa itu sekaligus memperlihatkan persoalan lain yang masih dihadapi warga Gaza bahwa ribuan jenazah diyakini masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza

Mahmoud Basal mengatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 8.000 jenazah diperkirakan masih berada di bawah reruntuhan bangunan di Gaza. Angka tersebut merupakan perkiraan otoritas setempat dan belum seluruhnya diverifikasi secara independen.

Pemakaman 112 korban itu menjadi simbol panjangnya penantian keluarga-keluarga Palestina untuk mendapatkan kepastian mengenai nasib anggota keluarga mereka. Setelah hampir tiga tahun, sebagian keluarga akhirnya dapat menguburkan kerabat mereka sesuai dengan tata cara pemakaman.

Kondisi kemanusiaan di Gaza sendiri masih sangat berat. Dalam laporan situasi kemanusiaan 14 Agustus 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut sebagian besar penduduk Gaza masih mengungsi dan hidup dalam kondisi sulit, sementara aktivitas militer terus menimbulkan korban dan perpindahan penduduk.

OCHA juga mencatat sekitar 90 persen penduduk Gaza mengalami gangguan sedang hingga berat dalam hal memperoleh air yang aman dan dapat diandalkan.

OCHA menegaskan bahwa angka korban yang belum diverifikasi secara independen dikaitkan dengan sumber asalnya, termasuk Kementerian Kesehatan Gaza.

Pemakaman massal di Sabra dengan demikian bukan sekadar prosesi menguburkan 112 jenazah. Bagi keluarga korban, peristiwa tersebut merupakan penutup dari penantian panjang sekaligus pengingat bahwa masih banyak keluarga di Gaza yang belum menemukan jasad anggota keluarganya yang hilang di tengah reruntuhan perang.

Sumber: Reuters, Associated Press (AP), Al Jazeera, dan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), Agustus 2026.

Comment